Category Archives: bahan ajar

PEMELIHARAAN DAN PERAWATAN BAHAN PERPUSTAKAAN

9 pemeliharaan perpustakaan

 

A. PEMELIHARAAN DAN PERAWATAN BAHAN PUSTAKA

1. Pengertian

Pada tahun 1937, Randolph G. Adams seorang pustakawan sekolah di Amerika telah mengagetkan teman seprofesinya dengan menyebutnya sebagai “musuh buku”. Sesungguhnya pernyataan tersebut tidaklah berlebihan sesuai dengan keadaan bahwa banyak praktek konservasi yang diabaikan. Adams berpendapat pada saat sekarang ini pustakawan seharusnya sekaligus menjadi administrator dan bukan pengumpul buku belaka dan dia menganggap bahwa perhatian teknologi fungsi pemeliharaan bahan pustaka sangat kecil. Secara gamblang Adams mengatakan bahwa untuk dapat membangun perpustakaan yang besar, pustakawan harus mutlak memiliki :

  • Pengetahuan dan apresiasi tentang perasaan kolektor buku.
  • Bahwa profesi secara keseluruhan harus memperlihatkan penghargaan yang tinggi terhadap bahan pustaka sebagai hasil seni.
  • Pustakawan punya tanggung jawab dalam hal mengumpulkan dan sekaligus melestarikan koleksi langka.
  • Secara kontinyu mengawasi stok untuk memilih item-item koleksi apa yang menjadi l angka.
  • Mengamati koleksi langka di luar perpustakaan untuk dimasukkan dalam jajaran koleksi.
  • Bertindak tegas terhadap kemungkinan penyalahgunaan bahan pustaka berharga bagi pemakai.

Memang benar sekali bahan pustaka itu (lebih-lebih bahan pustaka dari koleksi langka) dibaca dan dipinjamkan kepada pemakai, akan timbul dua masalah, yaitu kelusuhan dan robek. Bahan pustaka itu menjadi lusuh karena banyak dipegang oleh tangan (apalagi kalau tangan itu kotor atau basah) dari satu pemakai ke pemakai yang lain dan lama-lama bisa robek. Belum lagi masalah kualitas kertas sebagai bahan mentah bahan pustaka. Di samping mutu pembendelan dan juga masalah penyimpanannya (faktor suhu udara, kelembaban, kebersihan ruang panas/sinar matahari) .

Secara umum menurut kondisi bahan pustaka dapat dibedakan atas tiga jenis :

�        Bahan pustaka yang masih baik, bersih, utuh belum berubah warnanya, belum berpenyakit.

�        Bahan pustaka yang sudah berpenyakit dalam artian sudah diserang serangga sehingga timbul noda-noda coklat.

�        Bahan pustaka yang telah rusak dengan tingkat kerusakan tertentu sehingga memerlukan perbaikan dan bahkan ada yang sudah terlalu parah sehingga tidak bisa di perbaiki lagi.

 

  1. Faktor-Faktor Yang Bisa Merusak Buku

Faktor Biotis (termasuk jamur dan serangga)

Bahan pustaka yang sudah menderita penyakit jamuran biasanya warna kertasnya berubah menjadi kuning, karena memang jamur bisa menyebabkan berubahnya warna kertas, di samping, itu jamur bisa menyebabkan kertas lengket satu dengan yang lain sehingga halaman bahan pustaka tersebut tidak bisa dibuka dan kalau hal ini dipaksa, halaman itu bisa robek. Jamur bisa tumbuh subur karena kelembaban udara yang tinggi Jamur akan berhenti berkembang biak kalau kelembaban udara tidak sesuai.

Faktor fisika

Suhu udara yang tinggi dapat mempercepat proses perusakan kertas karena kertas menjadi kering dan pecahpecah dan rapuh. Kelembaban yang tinggi dapat menyuburkan tumbuhnya jamur dan sebaiknya kelembaban yang rendah dapat menyebabkan kertas menjadi kering dan cepat hancur. Selain itu sinar matahari yang langsung mengenai buku akan merusak buku. Debu juga bisa menjadi musuh buku karena selain mengganggu kesehatan, debu dapat menimbulkan noda-noda, mengaburkan tulisan dalam buku, menularkan jamur.

Faktor kimia

Bahan pencemaran udara banyak bervariasi dan yang berbentuk gas pencemaran, partikel logam sampai unsur yang besar seperti misalnya debu dalam udara merupakan salah satu penyebab besar rusaknya kertas dan bahan organik lain yang bisa menimbulkan noda-noda permanen pada kertas tersebut. Pencemaran tadi bisa dikendalikan dengan cara menjaring udara.

Faktor Manusia

Bukan hanya serangga saja yang merupakan musuh besar buku, tetapi juga manusia. Hanya dengan cara memegang buku saja sudah bisa merusak buku. Tangan yang kotor atau berminyak bisa mengganggu kondisi buku karena tangan yang berminyak bisa mendatangkan kecoa atau serangga lain. Belum lagi ada tangan jahil yang sengaja merobek kertas dan sekedar mencorat-coret dengan tinter sambil memberi komentar yang tidak perlu. Sering kali kites lihat ada orang yang sengaja melipat bagian tertentu sebagai batas halaman yang akan difoto kopi, lebih-lebih pada buku banyak halamannya tebal, misalnya Ensiklopedi dan kamus. Kerusakan ini akan bertambah besar karena buku-buku tebal itu harus ditekan apabila difoto copy.

Faktor bencana alam

Kebakaran atau banjir misalnya merupakan bencana yang bisa tiba-tiba terjadi. Kewaspadaan dan kesiapan penting, sehingga bisa diambil tindakan yang cepat dan tepat untuk bisa mengurangi resiko kerusakan apabila benar-benar terjadi, misalnya menyiapkan alat pemadam kebakaran di setiap ruangan. Usaha pencegahan kerusakan buku memang harus dilakukan sedini mungkin. Hal ini memang jauh lebih baik dan mudah dibandingkan dengan melakukan perbaikan terhadap buku yang terlanjur rusak.

  1. Pencegahan Kerusakan Bahan Pustaka.
  • Vacuum cleaner

Vacuum Cleaner juga bisa dimanfaatkan dengan sedikit peringatan yaitu karena daya fiisapnya yang sangat kuat maka dari itu alat ini digunakan secara hati-hati. Pergunakan Vacuum Cleaner ini untuk mengisap debu yang mengotori tempat penyimpan buku dan bagian luar buku pada yang masih baik/kuat dan jangan pada buku yang sudah rapuh karena bisa berakibat semakin rusaknya buku tersebut. Karet busa atau spon dapat juga dipakai untuk membersihkan buku dari debu. Sebaiknya karet busa ini dipergunakan membersihkan dari arah tengah terlebih dahulu barn ke arah pinggir. Noda-noda yang sukar dihilangkan dengan kuas atau sikat bisa dilakukan dengan karet penghapus.

  • Meletakkan buku pada almari kaca

Meletakkan buku pada almari kaca merupakan salah satu cara untuk menghindari serangan debu. Namun demikian, Buku-buku yang ditempatkan pada almari kaca itu masih tetap harus dibersihkan secara berkala.

  • A C (Air Conditioning)

Memasang AC pada ruangan perpustakaan juga merupakan salah satu cara untuk merawat buku. Dengan memasang AC, berarti ruangan harus dalam keadaan tertutup berarti mengurangi masuknya debu, AC ini bisa membantu menurunkan kelembaban udara, Mencegah perkembangan tumbuhnya jamur pada buku. Selain itu AC juga bisa mengatur suhu dan kelembaban udara ruangan sesuai dengan standar penyimpanan buku yaitu antara 20 s.d. 24 derajat celcius dan kelembaban antara 45 s.d. 60 RH.

  • Insektisida

Agar ruangan penyimpanan buku atau ruangan baca buku dapat terbebas dari serangan serangga, Sebaiknya dinding, langit-langit, rak buku dan tempat penyimpanan secara berkala di semprot dengan bahan Insektisida. Serangga tidak menyukai bau-bau yang berbau kamfer, napthalene ball dan bahan yang sejenis.

  • Sinar matahari

Sinar matahari harus dicegah langsung masuk melalui cendela, karena sinar matahari langsung bisa merusak buku. Untuk itu, setiap jendela harus dilengkapi dengan kaca filter atau kaca difuser guna melemahkan sinar matahari yang masuk. Mikrofilm dan mikrofis juga sudah banyak dilakukan walau tentu saja relatif mahal. Pada umumnya, bahan pustaka yang dimikrofilmkan ini adalah surat kabar, arsip dan buku-buku langka seperti yang, ada di LIPI Jakarta, naskah-naskah di Sulawesi Selatan yang dikenal dengan names Lontara disamping naskah kuno dari Kraton Mangkunegara, Kesultanan Yogyakarta, Pakualaman dengan bekerja sama dengan lembaga asing, misalnya Australia, Belanda dan Amerika Serikat dalam hal ini Rocks Feller Foundation serta Inggris (British Council).

  • Fumigasi

Fumigasi juga banyak dilakukan pustakawan yang bertujuan untuk membunuh serangga terutama telur dan larvanya serta bisa mematikan jamur. Pefumigasian ini dilakukan dengan menggunakan bahan kimiawi seperti misalnya karbon tetra klorida, methyl biomida, thymol kristal, karbon disulfit dan Formida demida.

Fumigasi ini bisa dilakukan dengan tiga cara yaitu:

  • Dilakukan diruangan penyimpan buku.
  • Membawa buku ke ruang fumigasi sedangkan ruang penyimpanan disemprot dengan bahan kimia pembunuh serangga dan kemudian dibersihkan.
  • Dilakukan dalam almari terutama kalau jumlah buku sedikit.

Bahan pustaka yang sudah terlanjur rusak juga perlu diperbaiki dengan tekun,teliti dan sabar. Misalnya buku yang telah rusak sampulnya harus segera diperbaiki, bahan yang Mungkin juga kita harus menambah atau menambal kertas kalau ada bagian buku yang hilang, sobek atau berlubang. Untuk menambal buku yang berlubang dapat dipergunakan pulp. Pulp ini cukup mudah dibuat, yaitu dari kertas bekas disobek kecil-kecil kemudian dilumatkan dengan lem cair. Kertas yang berlubang diletakkan diatas kaca yang telah dibasahi dengan air suling. Bagian yang berlubang kemudian ditambal dengan pulp, kemudian tekan tambalan tersebut dengan menggunakan kertas pengisap dan dipress.

 

B. PENGELOLAAN PERPUSTAKAAN

  1. Strategi Pengembangan Perpustakaan Sekolah

Melihat fungsi perpustakaan yang demikian penting dan melihat kenyatan bahwapengelolaan perpustakaan sekolah belum berjalan dengan baik, untuk itu diperlukan srategipengembangan perpustakaan sekolah dengan baik. Tentunya pengembangan perpustakaansekolah harus berangkat dari inisiatif sekolah itu sendiri. Adapun pengembanganperpustakaan sekolah meliputi hal-hal sebagai berikut:

¯  Status organisasi, perlu ada pemantapam status organisasi atau kelembagaan perpustakaan sekolah.

¯  Pembiayaan, perlu adanya anggaran yang memadahi yang dapat digunakan untukoperasional perpustakaan sekolah.

¯  Gedung dan atau ruang perpustakaan, perlu ada ruangan yang representatif sehinggakeberadaan perpustakaan sekolah mampu menunjang kegiatan KBM di sekolah.

¯  Koleksi bahan pustaka, koleksi bahan pustaka perlu disesuaikan dengan kebutuhanminimun sekolah yang mengacu pada kurikulum dan kegiatan ekstra kurikuler di sekolah.

¯  Peralatan dan perlengkapan, perlu disesuiakn dengan kebutuhan perpustakaansekolah sehingga perpustakaan dapat berjalan dengan baik

¯  Tenaga perpustakaan, mempunyai kualifikasi yang memadahi untuk pengelolaanperpustakaan sekolah.

¯  Layanan perpustakaan, disesuaikan dengan kebutuhan siswa. Jika mungkin adalayanan diluar jam-jam belajar siswa, sehingga siswa dapat memanfaaatkanperpustakaan dengan baik.

¯  Promosi perlu dilakukan dengan berbagai cara agar perpustakaan menarik bagisiswa.

 

Peluang Pengembangan Perpustakaan Sekolah

Sebenarnya peluang untuk lebih memberdayakan perpustakaan telah terbuka.Beberapa kondisi yang saat ini dapat mendukung pengembangan perpustakaan sekolahtelah ada seperti:

  • Adanya UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, yang merupakandasar pijkakan kita dan memungkinkan semua lembaga pendidikan formal didukungoleh sarana dan prasarana (termasuk perpustakaan).
  • Adanya Peraturan Pemerintah No. 19 Tahun 2005 tentang Standar NasionalPendidikan.
  • Pemberlakuan kurikulum Tahun 2006 tentang Kurikulum Berbasis Kompetensi (KTSP) yang menuntut guru untuk mengembangkan indikator pembelajaran sesuaidengan kebutuhan pembelajaran. Untuk iu sekolah perlu didukung denganperpustakaan secara memadai.
  • Adanya metode pengajaran yang melibatkan siswa secara aktif. Dalam metode inisiswa dituntut untuk mengembangkan, dan memperdalam sendiri materi yang telahdisampaikan oleh guru. Dalam kondisi ini maka peran perpustakaan sangat besaruntuk membantu siswa dalam memperkaya kasanah pengetahuannya.
  • Adanya kebijakan permerintah untuk menggalakkan minat baca dengan mengambileven-even tertentu seperti tanggal 2 Mei sebagai hari Pendidikan Nasional dansekaligus sebagai even bulan buku, tanggal 14 September sebagai hari AksaraInternasional, momentum ini sekaligus dimanfaatkan sebagai bulan gemar membacadan hari kunjung perpustakaan, 28 Oktober sebagai hari Sumpah Pemuda dansekaligus bulan bahasa. Kegiatan tersebut secara langsung maupun tidak langsungterkait dengan perpustakaan, Momen ini sangat baik untuk kegiatan promosi danpemasyarakatan perpustakaan serta pengembangan minat baca siswa.
  • Kebijakan pemerintah/pemerintah daerah untuk memberikan subsidi buku baik bukupelajaran maupun buku bacaan kepada setiap sekolah.
  • Tumbuhnya berbagai partisipasi masyarakat yang berkaitan dengan minat baca,perbukuan, dan perpustakaan, seperti Gerakan Waqaf Buku, Kelompok MasyarakatPecinta Buku (KMPB), Klub Perpustakaan, dan Kelompok Pecinta Bacaan Anak.

Jika perpustakaan sekolah akan difungsikan sebagai penunjang proses belajar siswa,maka perlu ada upaya untuk lebih mendayagunakan perpustakaan tersebut. Berikut inibeberapa cara untuk lebih memberdayakan keberadaan perpustakaan di lingkungansekolah:

  • Perlu upaya untuk menciptakan “penguatan kelembagaan” terhadap perpustakaan sekolah.
  • Perlunya diciptakan pengajaran yang terkait dengan pemanfaatan fasilitas yang tersedia di perpustakaan.
  • Perlu upaya melibatkan guru dalam pemilihan koleksi perpustakaan yang akandibeli, sehingga guru tahu koleksi yang demiliki perpustakaan,promosi dan pemasyarakatan perpustakaan dengan mengambil even-even khususseperti pada hari peringatan nasional.
  • Perlu diupayakan adanya jam belajar di perpustakaan, sehingga siswa terbiasamemanfaatkan perpustakaan,
  • Perlunya pemberian rangsangan kepada siswa agar termotivasi untuk memanfaatkanperpustakaan, misalnya penghargaan terhadap siswa yang meminjam buku palingbanyak dalam kurun waktu tertentu.

 

  1. Problematika dalam pengelolaan perpustakaan sekolah

Dalam pengelolaan perpustakaan sekolah, seringkali diperhadapkan dengan berbagai kendala diantaranya :

  • Ruang Perpustakaan

Tidak semua sekolah memiliki ruang perpustakaan tersendiri. Umumnya sekolahsekolah tidak menganggap hal itu sebagai suatu masalah. Akibatnya banyak sekolah yang menjadikan ruang-ruang sempit untuk perpustakaan. Misalnya di gang gang antar kelas, diperumahan yang tidak terpakai, bahkan sangat mungkin bercampur dengan ruang guru atau tata usaha.

  • Koleksi Bahan Pustaka

Dalam pengembangan koleksi bahan pustaka, pada umumnya sekolah-sekolah di Indonesia hanya mengharapkan datangnya bahan pustaka dari pemerintah. Tidak ada upaya untuk mencari atau mendapatkan dari cara yang mandiri. Akibatnya bahan pustaka tidak seimbang prosentase antar golongan/klasifikasi. Dari hasil pantauan selama ini,bahan pustaka koleksi perpustakaan sebagian besar terdiri dari buku-buku pelajaran dan buku-buku cerita/dongeng yang tidak menunjukkan adanya rencana pengembangan perpustakaan. Memang ada sedikit sekolah yang menyertakan surat kabar atau majalah di perpustakaannya, namun itupun tidak rutin dan sekedar menjadi pajangan kepantasan atau pelengkap belaka. Lebih parah lagi jika buku-buku perpustakaan disimpan di almari tertutup dan hanya dipinjamkan kepada murid sepanjang diperlukan.

  • Tenaga Pengelola

Tenaga pengelola perpustakaan umumnya masih belum memenuhi syarat dan tidak memiliki pengetahuan dan keterampilan dalam mengelola perpustakaan. Dan yang menyedihkan bahwa urusan mengelola perpustakaan cenderung diberikan kepada guru yang mau saja. Bahkan di beberapa sekolah yang ditugaskan mengelola perpustakaan adalah tenaga yang tidak memiliki ijin mengajar, seperti guru yang terkena peraturan, tenaga tata usaha, yang kesemuanya jauh dari persyaratan yang ada.

  • Partisipasi Pemakai

Para siswa pada umumnya hanya tahu soal meminjam dan membaca buku perpustakaan saja dan itupun dilakukan dalam waktu yang teramat singkat, yaitu pada jamjam istirahat. Sedikit sekali sekolah yang memberikan kesempatan bagi siswa untuk membaca di perpustakaan dengan waktu yang cukup , misalnya dengan memasukkan aktifitas membaca sebagai bagian dari kurikulum. Demikian juga tidak banyak di antara siswa-siswa yang berpikir soal bagaimana perpustakaan ini bisa maju. Keadaan ini masih lebih baik jika dibandingkan dengan kondisi dimana siswa sama sekali tidak memiliki minat baca.

Soal minat baca di banyak sekolah di Indonesia memang masih rendah. Ironisnya jarang pihak sekolah yang mau berpikir bagaimana mengatasi masalah hal ini. Kondisi tersebut di atas merupakan kendala bagi perpustakaan sekolah untuk bisa menjalankan tugas dan fungsinya terutama dalam memenuhi kebutuhan masyarakat pemakaiya.

Oleh sebab itu perlu ada upaya meningkatkan peran dan fungsi perpustakaan dengan melibatkan semua unsur dalam sekolah untuk meningkatkan pemberdayaan perpustakaan sekolah. Pengembangan perpustakaan hendaknya juga menjadi prioritas program sekolah dalam bentuk penyediaan dana dan sumberdaya yang lain. Disamping itu juga perlu ada upaya mempromosikan perpustakaan sekolah kepada seluruh komponen sekolah sehingga keberadaannya bisa diketahui oleh semua pihak.

 

C. SARANA DAN PRASARANA.

  1. Ruang Perpustakaan Sekolah

Gedung atau ruangan perpustakaan adalah bangunan yang sepenuhnya diperuntukkan bagi seluruh aktivitas sebuah perpustakaan. Disebut gedung apabila merupakan bangunan besar dan permanent, terpisah dari gedung lain sedangkan apabila hanya menempati sebagian dari sebuah gedung atau hanya sebuah bangunan (penggunan ruang kelas), relatif kecil disebut ruangan perpustakaan.

Ruang perpustakaan sekolah bisa berupa ruang seperti ruang kelas karena memang yang ada hanya ruang kelas biasa yang kebetulan tidak terpakai dan bisa berupa gedung khusus yang dalam pembangunannya memang di rencanakan untuk perpustakaan sekolah . Apapun bentuknya baik berupa ruang kelas atau gedung khusus harus memenuhi persyaratan tertentu untuk penyelenggaraan perpustakaan sekolah.

Luas gedung atau ruang perpustakaan sekolah tergantung kepada jumlah murid yang di layani. Semakin banyak murid pada suatu sekolah maka semakin luas juga gedung atau ruang yang harus disiapkan untuk penyelenggaraan perpustakaan sekolah. Dalam “ Buku Pedoman Pembakuan Pembangunan Sekolah “ yang di keluarkan oleh Proyek Pembakuan Sarana Pendidikan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia dijelaskan ukuran gedung atau ruang perpustakaan sekolah untuk masing-masing tipe sekolah. Adapun perinciannya adalah :

SD tipe A ( 360-480 murid ) luas ruangannya = 56 m2

SD tipe B ( 180-360 murid ) luas ruangannya = 56 m2

SD tipe C ( 91-180 murid ) luas ruangannya = 56 m2

SD tipe D ( 60-90 murid ) luas ruangannya = 56 m2

 

SMP tipe A ( 1200-1400 murid ) luas ruangannya = 400 m2

SMP tipe B ( 800-900 murid ) luas ruangannya = 300 m2

SMP tipe C ( 400-480 murid ) luas ruangannya = 200 m2

SMP tipe D ( 250-280 murid ) luas ruangannya = 100 m2

 

SMA tipe A ( 850-1150 murid ) luas ruangannya = 300 m2

SMA tipe B ( 400-850 murid ) luas ruangannya = 200 m2

SMA tipe C ( 250-400 murid ) luas ruangannya = 100 m2

 

Satu hal yang perlu di ingat dalam mendirikan gedung perpustakaan sekolah harus mempertimbangkan dengan cermat tentang lokasi. Perpustakaan sekolah tiddak mementingkan kemegahan tetapi yang penting perencanaan pembangunan yang matang, sehingga menghasilakn suatu bagunan yang berkualitas tinggi dan berfungsi secara tepat guna dan berdaya guna.

Ada 10 syarat gedung perpustakaan:

  • Flexible, ruangan, suhu, penerangan, dll dapat disesuaikan dengan kebutuhan, dapat dipinda-pindah dengan mudah bila diperlukan.
  • Accessible, mudah dijangkau baik dari luar maupun dari pintu masuk
  • Compact, artinya mudah untuk mobilitas (perpindahan) pembaca, staf ataupun koleksi
  • Extendible, artinya dapat diperluas untuk keperluan yang akan dating tanpa banyak perubahan/gangguan (tidak membongkar yang sudah ada)
  • Varied, dapat menyediakan berbagai ruangan untuk berbagai koleksi dan berbagai jenis layanan
  • Organized, diatur dengan baik, sehingga memudahkan akses
  • Comfortable, menyenangkan, suasananya nyaman, tenang, dll.
  • Constant in Environment, memiliki temperature yang tetap sebagai upaya melindungi koleksi
  • Secure, aman dari segala gangguan
  • Economic, dapat dibangun dan dipelihara dengan biaya yang seekonomis mungkin.

Penentuan Lokasi Gedung/Ruangan PerpustakaanPenentuan lokasi perpustakaan agar dapat maksimalpemanfaatannya harus dapat memenuhi kriteria diantaranya :

  • Berada ditempat yang luas tanahnya memungkinkan dilakukannyaperluasan pada masa yang akan datang, sesuai dengan perkembanganperpustakaan.
  • Berada di sekitar pusat kegiatan masyarakat seperti pusat pendidikan (sekolah), pemerintahan dan tentunya pemukiman.
  • Merupakan gedung/satu ruangan utuh yang tidak bergabung denganruangan lain.
  • Mudah dicapai oleh pemakai, sehingga pemakai tidak membuang-buangwaktu secara sia-sia.
  • Cukup tenang dan aman untuk menghindari dari gangguan suara kerasdan kegaduhan.

Alokasi Gedung/Ruangan Perpustakaan          Perpustakaan pada umumnya minimal memiliki 4 (empat) macamruangan diantaranya :

  • Ruang koleksi buku (rak-rak buku)

1 rak (1 sisi, 5 susun, lebar 100 cm) dapat memuat 115-165 bukueksemplar buku dan jarak antar rak 100-110 cm. Jadi dapat dihitungberapa kebutuhan luas ruang yang diperlukan untuk menempatan rak dandapat disesuaikan dengan bahan pustaka yang dimiliki. Hal ini pun perludipertimbangkan untuk tahun-tahun yang akan datang.

  • Ruang baca

Disesuaikan dengan ruang yang ada. Idealnya terpisah dari ruang koleksi dengan lulas yang mencukupi.

  • Ruang pengolahan bahan pustaka dan ruang Staf

Untuk melakukan aktifitas pengadaan dan pengolahan buku luasruangan tergantung berapa jumlah pengelola perpustakaan diperkirakansetiap petugas memerlukan 2,5 m2.

  • Ruang sirkulasi

Ruang ini dipergunakan untuk melayani peminjamandan pengembalian buku, ruang yang diperlukan minimal cukup untukmeletakan meja sirkulasi dan perlengkapan lainnya.

Penerangan, Ventilasi Serta Pengamanan

Penerangan

Penerangan harus diatur sehingga tidak terjadi penurunan gairahmembaca atau membuat silau. Hal ini dapat dilakukan dengan caramenghindari sinar matahari langsungserta memilih jenis yang dapatmemberikan sifat dan taraf penerangan yang tepat dengan kebutuhan,misalnya :

  • Lampu pijar : memberikan cahaya setempat.
  • Lampu TL/PL/Fluorescent : memberikan cahaya yang merata.
  • Lampu sorot ; memberi cahaya yang terfokus pad obyek tertentu

Ventilasi

Ventilasi dalam perpustakaan harus diperhatikan selain untuk petugasjuga diperlukan untuk bahan pustaka. Ada 2 macam sistem ventilasi :

  • Ventilasi pasif

Ventilasi yang didapat dari alam caranya membuat lubang angina ataujendela pada sisi dinding yang berhadapan serta sejajar dengan arahangin lokal. Luas lubang angin atau jendela diusahakan sebandingpersyaratan dan fasilitas ruang (10 % dari luas ruang yangbersangkutan). Bila menggunkan ventilasi pasif seperti ini sebaiknyarak tidak ditempatkan dekat jendela demi keamanan koleksi danterhindar dari sinar matahari langsung.

  • Ventilasi aktif

Ventilasi aktif adalah menggunakan sistem penghawaan buatan yaitumenggunakan AC. Karena temperatur dankelembaban ruang perpustakaan yang kontans maka dapat menjagakeawetan koleksi dan peralatan tertentu seperti koleksi langka,pandang dengan dan computer.

Penggunaan Rambu-Rambu, rambu-rambu dalam perpustakaan selain untuk que efecto causa el viagra en jovenes memperindah ruanganjuga membantu pengguna menemukan dan memanfaatkan koleksi danfasilitas perpustakaan secara maksimal. Rambu-rambu dibuat dalam bentuktulisan, simbol ataupun gambar.Contoh rambu di dalam perpustakaan seperti simbol atau tulisan “meja informasi”, “ Penitipan Barang “, ‘ Harap Tenang” atau “Dilarangmerokok”. Dalam mendesain rambu di perpustakaan perlu memperhatikanhuruf, hendaknya huruf yang sederhana mudah dibaca dari jauh denganukuran yang proposional. Kata-kata yang digunakan juga harus yang singkatlugas, informasi secukupnya dan konsisten. Di dalam penempatan rambu-rambuperpustakaan biasanya menggunakan metode digantung diplafondiatara rak, ditempel didinding atau perabot, ditempatkan berdiri diataslantai atau perabot perpustakaan.

Penggunaan ruang, penggunaan ruang perpustakaan diatur dengan ketentuan sbb:

  • Ruang koleksi : 25%.
  • Ruang baca : 45%.
  • Ruang staf : 20%.
  • Keperluan lain : 10%

Hal-hal yang penting dalam ruangan perpustakaan :

  • Penerangan

Sedapat mungkin, pada siang hari tidak mendapat cahaya matahari langsung, tetapi ruangan cukup terang. Lampu yang digunakan sebaiknya lampu neon.

  • System penyejukan (terutama untuk koleksi AV= 25 derajat celcius).
  • Saluran air; jangan sampai menyebabkan kelembapan

 

Ada beberapa asas atau pedoman yang peru di perhatikan waktu mendirikan gedung perpustakaan sekolah atau dalam memilih salah satu ruang untuk kepentingan perpustakaan sekolah :

  • Fungsi utama perpustakaan sekolah adalah sebagai sumber belajar. Keberadaaannya berhubungan langsung dengan proses belajar mengajar di kelas. Oleh sebab itu gedung atau ruang perpustakaan sekolah berdekatan dengan kelas-kelas yang ada.
  • Gedung perpustakaan sekolah sebaikanya tidak jauh dari tempat parkir. Asas ini perlu di pertimbangkan khususnya pad sekolah-sekolah yang luas sekali.
  • Gedung atau ruang perpustakaan sekolah sebaiknya jauh dari kebisingan yang sekiranya menganggu ketenangan murid yang sedang belajar di perpustakaan sekolah.
  • Gedung atau ruang perpustakaan sekolah sebaiknya mudah di capai oleh kendaraan yang mengangkut buku-buku.
  • Gedung atau ruang perpustakaan sekolah harus aman , baik dari bahaya kebakaran , kebanjiran , ataupun dari pencurian.
  • Gedung atau ruang perpustakaan sekolah sebaiknya di tempatkan di lokasi yang kemungkinannya mudah di perluas pada masa yang akan datang.

 

 

  1. Peralatan dan Perlengkapan Perpustakaan Sekolah
  • Peralatan perpustakaan sekolah

Peralatan perpustakaan adalah barang-barang yang diperlukan secara langsung dalam mengerjakan tugas/kegiatan di perpustakaan. Peralatan perpustakaan sekolah ada yang bersifat habis pakai dan ada pula yang bersifat tahan lama.Peralatan habis pakai adalah peralatan yang relative cepat habis. Sedangkan peralatan yang tahan lama adalah peralatan yang dapat digunakan terus menerus dalam jangkan waktu yang lama.

  • Perlengkapan Perpustakaan Sekolah

Perlengkapan/perabotan perpustakkaan adalah sarana pendukung atau perlengkapanperpustakaan yang digunakan dalam proses pelayanan pemakaiperpustakaan dan merupakan kelengkapan yang harus ada untukterselenggaranya perpustakaan.

 

  1. Tata Ruang Perpustakaan Sekolah

Tata ruang perpustakaan sekolah adalah penataan atau penyusunan segala fasilitas perpustakaan sekolah di ruang atau gedung yang tersedia. Ada 2 tujuan yang ingin di capai dengan adanya penataan ruang yang baik yaitu untuk mempelancar proses pekerjaan yang sedang di kerjakan oleh petugas perpustakaan sekolah dan untuk menciptakan suasana yang menyenangkan bagi pengunjung perpustakaan. Penataan ruang perpustakaan sangat penting , sebab dengan penataan ruang tersebut memungkinkan pemakaian ruang perpustakaan sekolah lebih efisien, mempelancar para petugas dalam melakukan tugas dan tanggung jawabnya, mencegah adanya rasa terganggu antara pihak yang satu dengan pihak lainnya.

  • Menata ruang kerja petugas

Perpustakaan sekolah yang di lengkapi dengan ruang atau gedung yang luas dan di dalammnya terbagi lagi menjadi beberapa ruangan maka sebaiknya kepala perpustakaan sekolah , petugas tata usaha dan petugas pelayanan teknis memiliki ruangan tersendiri yang merupakan bagian dari ruang atau gedung perpustakaan sekolah secara keseluruhan sehingga petugas tersebut dapat ddengan leluasa tanpa terganggu oleh murid-murid yang sedang mengunjungi perpustakaan sekolah dan sebaliknya murid-murid dapat belajarr dengan tenang tanpa terganggu oleh petugas yang mengerjakan tugasnya. Seandainya ruang atau gedung perpustakaan sekolah luas tetapi tidak di bagi menjadi ruang-ruang yang karena tidak di desain untuk penyelengaraan perpustakaan sekolah, maka dapat di buatkan pemisahan buatan misalnya dari sekosel kayu atau kaca yang sewaktu-waktu dapat di ubah penataannya sesuai kebutuhannya. Ruang petugas perustakaan tersebut harus di tata dengan sebaik-baiknya misalnya penempatan meja dan kursi petugas, lemari, kursi ,mesin ketik, computer dan sebagainya.

Suatu tata ruang yang baik memungkinkan di adakannya perubahan tatanan ruang dengan mudah dan murah, artinya apabila sewaktu-waktu perlu adanya perubahan tatanan ruang , mungkin karana adanya tambahan petugas baru atau tambahan perlengkapan, maka tatanan ruang ddapat di ubah dengan biaya yang murah. Selain itu tata ruang perpustakaan sekolah yang baik biasanya penempatan petugas dan perlengkapan kerjanya sesuai dengan rangkaian penyelesaian tugas-tugas.

 

  • Menata meja dan kursi belajar

Bahan-bahan pustaka tidak semuanya dapat di bawa pulang , ada yang hanya di baca di ruang perpustakaan sekolah , misalnya buku-buku referensi , majalah , surat kabar , bulletin ,semuannya itu hanya boleh di baca di ruang perpustakaan sekolah. Oleh sebab itu di ruang perpustakaan sekolah harus di sediakan meja dan kursi belajar. Agar murid-murid dapat belajar dengan nyaman,aman,dan tenang,meja dan kursi belajar yang baik di integrasikan dengan tempat atau rak-rak buku. Ada bermacam-macam bentuk penataan meja dan kursi belajar seperti terlihat pada gambar berikut ini :

 

  • Menata ruang perpustakaan sekolah

Penataan ruang perpustakaan sekolah memiliki beberapa kegunaan dan manfaat yang harus dicapai. Manfaat atau keguanaan tersebut menjadi pedoman atau bahan pertimbangan pada setiap aktivitas penataan ruang. Manfaat-manfaat yang di harapkan melalui penataan ruang perpustakaan sekolah adalah sebagai berikut :

  • Dapat menciptakan suasana aman, nyaman, dan menyenangkan untuk belajar , baik bagi murid-murid, guru-guru,dan pengunjung lainnya.
  • Mempermudah murid-murid, guru-guru, dan pengunjung lain dalam mencari bahan pustaka yang di inginkan.
  • Petugas perpustakaan mudah memproses bahan pustaka dan memberikan pelayanan.
  • Bahan-bahan pustaka aman dari segala sesuatu yang dapat merusaknya.
  • Memudahkan petugas perpustakaan dalam melakukan perawatan terhadap semua perlengkapan perpustakaan sekolah.

Tata ruang perpustakaan sekolah yang baik sama seekali tidak menimbulkan ruang perpustakaan sekolah menjadi gelap atau terang sekali sehingga menyilaukan mata. Perpustakaan sekolah bisa menggunakan penerangan buatan manusia dan penerangan alami. Penerrangan buatan manusia berupa sinar lampu. Apabila menggunakan sinar lampu usahakan jangan besifat langsung karena sinar yang demikian itu sangat terang dan menimbulkan bayanagan yang sangat tajam. Sebaiknya sinarnya bersifat tidak langsung, dimana sinar tersebut diatur sedemikian rupa sehingga sinar lampu memancar kea rah langit-langit ruang perpustakaan sekolah ddan oleh langit-langit di pantulkan kembali ke arah permukaan ruang perpustakaan.

Penerangan alami berupa sinar matahari ,apabila menggunakan sinar matahari meja dan kursi harus diatur sedemikian rupa sehingga nantinya sinar matahari tiba di atas meja dari arah kiri. Meja-meja janganlah secara langsung berhadapan dengan sinar matahari. Lemari-lemari atau rak-rak buku usahakan jangan menutupi lubang-lubang tembok atau jendela yang biasanya di lalui sinar matahari , sebab apabila menutupi nantinya sinar matahari tidak bisa masuk ke ruang perpustakaan.

Kelembaban udara dan suhu ruangan perlu di atur agar petugas pustaka dan para pengunjung dapat belajar dengan tenang dan nyaman. Kelembaban udara biasanya terdapat di dalam ruangan yag gelap dan udaranya tidak pernah berganti. Cara yang dapat di tempuh adalah pemanfaatan alat-alat modern seperti AC ( Air Conditioning ). Tetapi kondisi perpustakaan sekolah di Indonesia pada saat ini tidak mungkin atau kecil kemungkinannya untuk menggunakan AC. Cara lain yang dapat di tempuh adalah penataan ruang perpustakaan sekolah sedemikian rupa sehingga lubang-lubang udara atau jendela-jendela tidak tertutup.

 

 

KESIMPULAN

Dalam meningkatkan pemberdayaan perpustakaan sekolah, perlu dilakukan promosi perpustakaan yang diintegrasikan dengan program sekolah. Untuk mencapai tujuan tersebut perlu dibangun kerjasama sinergis dengan berbagai pihak sehingga pelaksanaan promosi perpustakaan diharapkan bisa berjalan dengan efektif.

Petugas perpustakaan secara proaktif harus dapat meyakinkan semua komponen sekolah tentang pentingnya perpustakaan sebagai penyedia informasi bagi proses pembelajaran, terutama kepada unsur pimpinan sekolah sehingga pengembangan perpustakaan sekolah dapat dijadikan prioritas program sekolah.

Oleh sebab itu perpustakaan sekolah perlu dikelola secara benar dan profesional dengan meningkatkan kuantitas dan kualitas sumberdaya internal sehingga upaya memenuhi kebutuhan pemakai dapat terwujud yang pada akhirnya pemakai mendapat kepuasan.

 

PELAYANAN PERPUSTAKAAN

8 layanan perpustakaan 4

 

A. Pengertian Pelayanan Perpustakaan

Perpustakaan berfungsi sebagai salah satu faktor yang mempercepat akselerasi transfer ilmu pengetahuan, oleh karena nya perpustakaan merupakan suatu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan dalam sistem pendidikan suatu lembaga. Selain itu juga perpustakaan berfungsi sebagai sumber informasi, dan merupakan  penunjang yang penting artinya bagi suatu riset ilmiah, sebagai bahan acuan atau referensi.

Melihat fungsi dari perpustakan yang sedemikian “penting” maka layaklah diperhatikan oleh Pustakawan atau pun pengguna perpustakaan bahwa perpustakaan semestinya mampu mengimbangi perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, budaya dan berbagai aspek lainnya, oleh karena nya kesan perpustakaan sebagai institusi kuno harus mulai dikikis, termasuk juga masalah pelayanan perpustakaan  yang harus memulai pelayanan yang berorientasi pengguna.

Layanan di perpustakaan ideal nya dapat lebih memikat, bersahabat, cepat, dan akurat, ini berarti orientasi pelayanan perpustakaan harus didasarkan pada kebutuhan pengguna, antisipasi perkembangan teknologi informasi dan pelayanan yang ramah, dengan kata lain menempatkan pengguna sebagai salah satu faktor penting yang mempengaruhi kebijakan pada suatu perpustakaan, kesan kaku pelayanan diperpustakaan harus dieliminir sehingga perpustakaan berkesan lebih manusiawi.

Secara umum pelayanan di perpustakaan dapat diartikan suatu kegiatan atau aktivitas dalam memberikan jasa layanan kepada pengunjung perpustakaan tanpa membedakan status sosial, ekonomi, kepercayaan maupun status lainnya.

 

B. Jenis Layanan Perpustakaan

Layanan diperpustakaan secara teknis terbagi kedalam 3 kategori, yaitu:

  1. Layanan Teknis. Layanan ini biasanya berupa pengadaan dan pengolahan bahan pustaka, serta menginformasikan bahan pustaka yang telah diolah, serta ketersediaan berbagai fasilitas penunjang lainnya.
  2. Layanan Pemakai. Biasanya layanan yang berhubungan langsung dengan pengguna perpustakaan yaitu: Sirkulasi, Skirpsi, Referensi, Reserve, OPAC,  Internet, Multi Media dan lain sebagainya
  3. Layanan Administrasi. Layanan Administrasi terdiri dari dua kategori, yaitu layanan untuk administrasi perpustakaan/staf perpustakaan dan administrasi untuk pengguna perpustakaan, jenis layanan biasa nya berupa surat menyurat dan pengarsipan dokumen.

 

C. Sistem Pelayanan Perpustakaan

Perpustakaan perlu menentukan sistim pelayanan yang jelas, agar pengunjung dapat memanfaatkan koleksi buku yang ada di perpustakaan dengan baik. Ada 2 sistim pelayanan perpustakaan yang dikenal dewasa ini :

  1. Pelayanan Terbuka

Pada sistem pelayanan terbuka anggota atau peminjam dapat langsung memilih buku yang dikehendali secara bebas pada rak buku. Dan jika mengalami kesulitan dapat meminta bantuan pada petugas perpustakaan.

  1. Pelayanan Tertutup

Pada pelayanan tertutup para peminjam atau pengunjung tidak bisa langsung mengambil buku yang diinginkan pada rak buku, tetapi harus melihat dulu di laci katalog buku. Setelah ditemukan dicatat di nomor klas buku dan diberikan pada petugas. Selanjutnya petugas perpustakaan mengambilkan buku yang dimaksud.Untuk dapat melaksanakan pelayanan dengan baik pada kedua macam sistem pelayan perpustakaan tersebut diperlukan beberapa syarat, yaitu:

a. Koleksi harus disusun secara sistematis

  • Koleksi buku atau brosur dan leaflet disusun menurut nomer panggilnya.
  • Koleksi majalah menurut bidang subjek luas, yang di dalamnya disusun menurut abjad judul majalahnya.
  • Koleksi rujukan menurut jenis publikasinya, yang berbentuk buku disusun menurut nomer panggil dan yang berupa majalah disusun menurut abjad judul, namun disimpan di dalam ruang koleksi rujukan. Ruang koleksi rujukan sejogyanya dekat dengan ruang baca perpustakaan, agar pengguna dapat menggunakan bahan rujukan sewaktu ia memerlukan.

b. Alat temu kembali koleksi pustaka harus lengkap :

  • Katalog buku/brosur/leaflet. Harus dapat ditelusur dari berbagai titik telusur, yaitu dari nama pengarang, judul, lembaga penerbit, maupun subjek.
  • Katalog majalah, katalog ini penting untuk menunjukkan judul-judul majalah yang dimiliki perpustakaan. Selain informasi mengenai judul diperlukan juga data tentang volume, nomor, dan tahun terbitnya agar pengguna dapat memastikan apakah ia akan menggunakan koleksi majalah perpustakaan tersebut atau harus mencari di perpustakaan lain yang memiliki volume/nomor tertentu.
  • Indeks artikel majalah dan monograf analitik. Indeks tersebut biasanya memuat judul-judul artikel yang dikutip dari majalah dan buku/monograf semacam prosiding, risalah dan lain-lain yang isinya terdiri atas artikel/karya tulis. Indeks majalah/monograf analitik ada juga yang dilengkapi dengan abstrak, anotasi atau ringkasan karya tulis.

c. Pendaftaran

  • Pendaftaran biasa dilakuakan di awal, dimana harus mengisi sebuah form dan identitas diri sesuai kartu identitas. Lalu menginputkan kode pin untuk kondisi unik. Biasanya untuk peminjaman pertama, dapat dilakukan dengan meninggalkan karu identitas sebelum kartu anggota jadi.
  • Membayar uang administrasi untuk biaya penggantian pembuatan kartu anggota.
  • Data anggota disimpan di database digital maupun manual. Digital disini berupa data yang disimpan kedalam komputer. Lalu data manual merupakan data yang dicatat dibuku secara tulis tangan.

d. Peminjaman

  • Setelah konsumen mendapatkan buku yang diinginkan maka selanjutnya dapat ke bagian administrasi untuk melakukan peminjaman
  • Pihak administrsi melakukan pengecekan data anggota di database. Lalu dicocokan dengan kartu anggota yg di bawa oleh anggota dan pin yang di masukkan oleh peminjam

Penyusunan dokumen/literatur secara sistematik di rak sebenarnya sudah memudahkan pustakawan/pengguna mencari dokumen. Pengguna yang memerlukan suatu subjek tertentu bila menemukan satu koleksi pustaka mengenai subjek tersebut akan dapat 9 pula menemukan judul koleksi pustaka lain dalam kelompok subjek tersebut, karena letak koleksi pustaka bersubjek sama selalu ditempatkan saling berdekatan.

 

D. Sistem Pelayanan di perpustakaan sekolah

Layanan di perpustakaan sekolah bertujuan untuk menyajikan informasi guna kepentingan peningkatan pelaksanaan proses belajar mengajar dan rekreasi bagi semua warga sekolah dengan mempergunakan bahan pustaka yang dimilikinya. Sebagai suatu lembaga jasa, keberhasilan perpustakaan sangat tergantung dari sistem dan pelaksanaan aspek layanannya kepada para pemakainya. Secara umum, perpustakaan yang berhasil adalah perpustakaan yang banyak dikunjungi oleh masyarakat pemakainya untuk memanfaatkan sumber-sumber informasi yang ada didalamnya.

Oleh karena itu, perpustakaan sekolah agar dapat melaksanakan layanan yang baik hendaknya harus mempunyai petugas perpustakaan yang aktif (Perpustakaan Nasional RI, 1994:71). Ditinjau dari sasaran yang dituju, maka ada tiga jenis layanan yang diberikan oleh perpustakaan sekolah menurut Hengky Latul (1990:80), yaitu:

  1. Layanan kepada guru yaitu, dengan memberikan kegiatan berupa peningkatan pengetahuan guru mengenai subjek yang menjadi bidangnya, membantu guru dalam mengajar di kelas, menyediakan pesanan bahan pustaka bahan pustaka yang dibutuhkan mata pelajaran tertentu, menyediakan bahan informasi bagi kepentingan penelitian yang diperlukan oleh guru dalam rangka meningkatkan profesinya, menyediakan jam cerita, dan https://www.cialissansordonnancefr24.com/generique-cialis/ mengisi jam pelajaran yang kosong.
  2. Layanan kepada murid yaitu dengan memberikan kegiatan berupa menyediakan bahan pustaka untuk memperluas pengetahuan, menyediakan bahan pustaka untuk memperdalam bidang yang diminati, menyediakan bahan pustaka untuk meningkatkan keterampilan, menyediakan kemudahan kepada murid untuk mengadakan penelitian, dan mengadakan efektifitas untuk meningkatkan minat baca.
  3. Layanan kepada manajemen sekolah yaitu dengan cara perpustakaan sekolah secara aktif membantu pimpinan sekolah dan guru dalam bidang perencanaan, pelaksanaan, pemanduan, dan penilaian program-program pendidikan di sekolah.

Apabila semua sasaran yang diatas telah terpenuhi, maka suatu perpustakaan sudah bisa dianggap berhasil dalam menjalankan sistem pelayanannya.

 

E. Aktifitas layanan di perpustakaan sekolah.

Aktifitas layanan di perpustakaan sekolah beraneka ragam jenisnya. Tapi kebanyakan perpustakaan sekolah yang ada, hanya memberikan layanan berupa peminjaman bahan pustaka berupa buku. Berikut adalah berbagai aktifitas layanan pada perpustakaan sekolah (Sulistyo-basuki 2005:69-70):

  1. Peminjaman bahan pustaka(buku) baik buku-buku yang menunjang kegiatan belajar mengajar ataupun buku-buku fiksi seperti cerita adat dan novel.
  2. Menyediakan sumber-sumber informasi bagi murid atau guru dan menjawab pertanyaan-pertanyaan murid atau guru tentang berbagai bidang ilmu pengetahuan.
  3. Sekolah yang mempunyai perpustakaan sekolah yang dikelola dengan baik ditempatkan dalam ruangan yang cukup besar dengan fasilitas yang memadai dapat mengadakan “jam perpustakaan”. Ruang perpustakaan harus besar, sebab pada jam ini murid-murid satu kelas diharuskan mengadakan berbagai macam penyelidikan tentang berbagai seni subjek yang berhubungan dengankurikulum sekolah. Kemudian murid-murid ditugaskan menyusun karangan singkat tentang subjek yang telah diselidiki sehingga hasil karya mereka yang baik, dapat dipakai untuk menambah koleksi pada perpustakaan tersebut.
  4. Melayani kebutuhan pelajar dalam kelas. Hal tersebut dapat dilakukan, bila guru kelas memerlukan bahan-bahan dari perpustakaan untuk membantu pelajarannya.
  5. Memberikan pelatihan kepada anak (pendidikan pemakai) supaya mereka dapat menggunakan bahan perpustakaan secara mahir seperti memakai kamus, ensiklopedia, membaca peta dan globe, mengadakan penelitian sesuai dengan tugas dari guru.
  6. Bimbingan minat baca. Sesuai dengan fungsi dan tujuannya, perpustakaan sekolah memegang peranan penting dalam peningkatan minat baca. Perpustakaan membantu mendorong dan mengembangkan minat, kemampuan dan kebiasaan membaca yang menuju kebiasaan belajar mandiri. Beberapa cara yang dapat dilakukan untuk memberikan bimbingan minat baca yaitu, memperkenalkan cara membaca yang baik karena membaca yang baik merupakan modal fisik yang sangat diperlukan
  7. Layanan pemesanan buku, yaitu merupakan layanan bagi pengguna yang menginginkan suatu buku bacaan namun perpustakaan tersebut tidak memilikinya, maka pengguna bisa memesan kepada pustakawan untuk memasukkannya pada daftar buku yang akan dibeli.
  8. Layanan fasilitas computer dan internet seiring berkembangnya jaman, perpustakaan juga harusnya menyediakan layanan internet dimana pengguna dapat juga mencari informasi melalui media tersebut sehingga tidak terlalu terpaku dengan sumber buku saja.
  9. Layanan audiovisual, yaitu layanan yang dapat membantu pengguna untuk mendapatkan ilmu pengetahuan melalui media berupa TV kabel, VCD/DVD, dan kaset dengan cara seperti pemutaran film-film yang penuh akan unsur edukasi untuk menunjang kegiatan belajar mengajar agar lebih menarik dan tidak membosankan
  10. Peminjaman majalah, merupakan salah satu layanan yang bertujuan sebagai media rekreasi bagi pengguna yang telah seharian penuh melakukan kegiatan belajar, sehingga dapat menghibur mereka agar kembali bersemangat untuk menghadapi pelajaran berikutnya.
  11. Layanan story telling, merupakan layanan yang dapat membantu para murid untuk belajar mendengarkan, menagkap, dan mengerti apa yang seseorang bicarakan.

Semua hal di atas adalah beberapa bentuk aktifitas pelayanan di perpustakaan sekolah yang ideal. Namun, di Indonesia ini, beberapa sekolah apalagi sekolah negeri tidak dapat menyediakan layanan tersebut apabila tidak ada anggaran dari pemerintah yang dikhususkan untuk perbaikan fasilitas perpustakaan. Karena memang semua aktifitas tersebut terbilang mahal dananya.

 

F. Tujuan dan Fungsi Pelayanan Perpustakaan

  1. Pelayanan perpustakaan meliputi layanan:
    1. pada berbagai jenis perpustakaan,
    2. ruang baca,
    3. sirkulasi bahan pustaka,
    4. rujukan,
    5. abstrak dan indeks,
    6. informasi mutakhir,
    7. literatur dan sebagainya.
  2. Perpustakaan adalah pelayanan. Pelayanan berarti kesibukan. Bahan-bahan pustaka sewaktu-waktu harus tersedia bagi mereka yang memerlukannya. Tidak ada perpustakaan kalau tidak ada layanan.
  3. Suatu tanda yang menunjukkan profesi pustakawan adalah kegiatan layanan dan pustakawan harus selalu memperhatikan kebutuhan pembacanya dalam bidang literatur. Perpustakaan menjadi penting jika berhasil menyediakan bahan pustaka secara cepat dan tepat. Agar dapat mengerjakan itu semua dengan baik maka bagian layanan teknis harus mengolah bahan pustaka sebaik-baiknya.
  4. Tujuan utama perpustakaan ialah melayani pembaca memperoleh bahan perpustakaan yang mereka perlukan. Bahan perpustakaan yang terkumpul dipakai di tempat dan dibawa pulang. Bahan perpustakaan yang banyak tetapi rendah pemakaiannya menunjukkan bahan perpustakaan itu kurang baik.
  5. Perpustakaan sekolah memberikan pelayanan kepada guru, murid, dan orang tua murid. Guru-guru dipacu untuk memakai perpustakaan sehingga mereka juga dapat menyuruh murid-murid untuk mencari bahan yang ada di perpustakaan. Perpustakaan sekolah melatih murid agar dapat mencari informasi secara mandiri.
  6. Layanan kepada masyarakat tidak memandang perbedaan ras, umur, jenis kelamin, dan dasar pendidikan. Karena itu cakupan koleksi luas sekali. Ini dimaksudkan agar perpustakaan dapat memberikan kepuasan kepada mereka. Juga tingkat ke dalaman materi koleksi begitu luas dari yang paling sederhana sampai yang paling sulit. Fungsi perpustakaan umum adalah untuk rekreasi dan penelitian. Fungsi pendidikan tak dapat ditinggalkan, sebab ada masyarakat yang tak dapat melanjutkan pelajaran formal. Mereka dapat belajar di perpustakaan umum sampai memiliki pengetahuan yang setaraf dengan mereka yang terpelajar. Bahkan mungkin melebihi mereka karena kebiasaan belajar mandiri membuka kesempatan untuk belajar seumur hidup.
  7. Pelayanan pada perpustakaan khusus diberikan kepada sekelompok pemakai khusus dalam bidang yang khusus pula. Tetapi jika masyarakat luar menghendaki, mereka dapat menggunakan perpustakaan tersebut atas persetujuan penyelenggara perpustakaan.
  8. Layanan ruang baca merupakan bagian pokok dalam kegiatan layanan perpustakaan, selain layanan sirkulasi dan layanan teknis.
  9. Upaya untuk meningkatkan mutu layanan perpustakaan tidak boleh dipisahkan dengan kegiatan pustakawan sehari-hari.
  10. Sirkulasi Bahan Pustaka menyangkut masalah peredaran bahan-bahan perpustakaan yang dimiliki oleh perpustakaan dengan para pemakainya. Yang dibahas adalah masalah peminjaman, misalnya bahan-bahan yang boleh dipinjam, jangka waktu peminjaman, jam buka perpustakaan, dan statistik untuk membuat laporan perpustakaan. Umumnya perpustakaan meminjamkan buku hanya pada masyarakat di lingkungan tertentu. STAFF

Pustakawan adalah anggota staf berkualifikasi profesional yang bertanggung jawab atas perencanaan dan pengelolaan sebuah perpustakaan, sedapat mungkin dibantu staf yang cukup,bekerja sama dengan semua anggota komunitas,dan berhubungan dengan perpustakaan umum lainya.

Peran pustakawan bervariasi tergantung pada kondisi saat ini. Di dalam konteks khusus, ada ranah umum pengetahuan yang penting jika pustakawan mengembangkan dan mengoperasikan jasa perpustakaan yang efektif: yaitu mencakup sumber daya, manajemen perpustakaan dan informasi serta pengajaran. Di dalam lingkungan jaringan yang makin berkembang, pustakawan harus Kompeten dalam perencanaan dan pengajaran keterampilan menangani informasi yang berbeda-beda bagi konsumen dan penerbit. Dengan demikian, pustakawan harus melanjutkan pengembangan dan pelatihan profesionalnya.

 

 

LAYANAN PENINGKATAN MINAT BACA
Layanan Peningkatan Minat Baca

Peningkatan minat baca adalah suatu hal yang sangat peting tetapi seolah dilupakan orang. Kita mempercayakan pembinaan ini kepada sekolah, tetapi ternyata sekolah tidak berhasil. Mutu sekolah dari berbagai tingkatan terus merosot. Orang tua sebenarnya juga harus ikut meningkatkan minat baca anak di rumah.

Bacaan anak lelaki tidak sama dengan anak perempuan, jangan kita paksa anak remaja membaca buku seperti yang kita inginkan. Membaca mendorong kita untuk berpikir. Selain itu kita juga memperoleh pengalaman yang tidak terhingga. Dengan bacaan kita bisa mengetahui bagaimana orang-orang Indian di AS dibantai, bagaimana Pangeran Dipenegoro menghadapi peluru tentara Belanda.

Cara meningkatkan minat baca bagi orang AS ialah dengan jalan menyediakan buku-buku di perpustakaan. Terutama di perpustakaan sekolah. Alternatif lain ialah perpustakaan umum. Kedua jenis perpustakaan ini hidup dengan baik karena pajak.

Dari perpustakaan kita bisa memperoleh banyak ide. Tetapi di negara kita, perpustakaan belum membudaya. Memang zaman Belanda sudah ada perpustakaan, tetapi itu untuk kepentingan mereka. Rakyat di pedesaan belum mengerti apakah perpustakaan itu.

 

 

 

KESIMPULAN

Pelayanan perpustakaan terbagi 2, yaitu layanan terbukan dan layanan tertutup. Perpustakaan adalah salah satu tempat yang menyediakan layanannya. Layanan – layanan yang dimiliki pustaka antara lain terdiri dari 3 layanan pokok. Layanan itu seperti layanan teknis, layanan penguna, dan layanan administrasi perpustakaan.

Layanan perpustakaan mempunyai fungsinya masing-masing, apabila ke semua layanan bergabung menjadi satu, maka itu akan membuat kegiatan perpustakaan menjadi tepat guna dan berdaya guna bagi siswanya tentunya.

Keseluruhan layanan itu haruslah disatu padukan sehingga layanan itu mendapatkan respon yang positif dari pembacanya, dan bisa menambah ilmu pengetahuan bagi pembacanya. Dalam aktivitas layanan perpustakaan juga terdapat permasalahan dan nantinya juga ada solusi-solusi berdasarkan peraturan perpustakaan tersebut.

KATALOGISASI

7 katalogisasi

 

A.  PENGERTIAN KATALOGISASI

Pengertian Katalog

Katolog adalah daftar koleksi perpustakaan. Katolog bisa disusun berdasarkan alfabetis nama pengarang, judul, nama penerbit dan lain – lain tergantung pustakawan di sekolah masing-masing. Katalog merupakan kumpulan buku -buku yang sudah masuk kedalam perpustakaan.

Katalog adalah Presentasi ciri-ciri dari sebuah bahan pustaka atau dokumen (misalnya: judul, pengarang, deskripsi fisik, subyek, dll.) koleksi perpustakaan yang merupakan wakil ringkas bahan pustaka tersebut yang disusun secara sistematis.

Katalogisasi (cataloging): Kegiatan atau proses pembuatan wakil ringkas dari bahan pustaka atau dokumen (buku, majalah, CD-ROM, mikrofilm, dll.). Istilah ini kadang-kadang juga meliputi klasifikasi bahan pustaka dan secara umum penyiapan bahan pustaka untuk digunakan pemakai. Kadang-kadang disebut juga dengan istilah pengindeksan (indexing).

Katalogisasi atau pengatalogan adalah proses pembuatan katalog dimana dalam katalog dicantumkan data penting yang terkandung dalam bahan pustaka, baik ciri fisik maupun isi intelektual, seperti nama pengarang, judul buku, penerbit dan subyek.  Jadi katalogisasi adalah proses pengambilan keputusan yang menuntut kemampuan mengintepretasikan dan menerapkan berbagai standar sehingga hal-hal penting dari bahan pustaka terekam menjadi katalog.

Katalog perpustakaan adalah deskripsi  pustaka milik suatu perpustakaan yang disusun secara sistematis (sistematis abjad, nomor klasifikasi)  sehingga dapat digunakan untuk mencari dan  menemukan lokasi pustaka dengan mudah.  Selain untuk alat bantu penelusuran koleksi, katalog dapat juga digunakan untuk mengetahui kekayaan koleksi suatu perpustakaan sebab kartu katalog mewakili   buku-buku yang ada di rak yang dimiliki oleh  suatu perpustakaan.

Salah satu pekerjaan teknis di perpustakaan adalah kerja “katalogisasi” ini adalah proses pembuatan kartu katalog. Katalogisasi  berasal dari kata katalog yang artinya adalah sebuah daftar, oxford dictionary memberi ciri: katalog adalah suatu daftar yang disusun secara sistematis, misalnya menurut abjad dan biasanya dibubuhi penjelasan singkat atau ciri yang menunjukkan kedudukannya.

Sedangkan katalog perpustakaan artinya adalah: daftar buku atau bahan lain yang terkumpul di suatu perpustakaan/suatu koleksi; daftar ini disusun menurut suatu susunan yang mudah dikenali;berisi keterangan dari buku;disajikan dalam bentuk tertentu, yang dikatakan dengan susunan yang mudah dikenal adalah menurut abjad, atau menurut imbol klasifikasi dari subjek buku. Sedangkan yang dimaksud dengan keterangan dari buku adalah judul, pengarang, editor, pelukis, penterjemah, keterangan cetakan, imprint, lokasi dan lain sebagainya. Keterangan dari buku ini harus diberikan dalam bentuk dan susunan menurut peraturan katalogisasi.

 

Pengertian Katalogisasi

Katalogisasi atau pengatalogan adalah proses pembuatan katalog dimana dalam katalog dicantumkan data penting yang terkandung dalam bahanpustaka, baikcirifisikmaupunisiintelektual, sepertinamapengarang, judulbuku, penerbitdansubyek.  Jadikatalogisasiadalah proses pengambilankeputusan yang menuntutkemampuanmengintepretasikandanmenerapkanberbagaistandarsehinggahal-halpentingdaribahanpustakaterekammenjadikatalog.

Pengatalogan adalah kegiatan menyiapkan pembuatan wakil ringkas dokumen (condensed representations) atau katalog, untuk digunakan sebagai sarana temu kembali, agar dokumen yang dicari dapat ditemukan dengan cepat dan tepat.

Di dalambuku “A manual of Cataloguing Practice” dijelaskanbahwakatalogmerupakansuatudaftar yang berisiketerangan-keterangan yang lengkapdarisuatubuku-bukukoleksi, dokumen-dokumen, ataubahan-bahanpustakalainnya.

MenurutBakewell, keterangan-keterangan yang perludicantumkanpadakatalogadalahsebagaiberikut:

-          The Heading

Tajuk entri yang berupa nama keluarga pengarang atau nama utama pengarang.

-          The Title Statement

Judul buku, baik judul utama buku maupun sub judul.

-          The Imprint

Keterangan tentang jumlah halaman, ukuran buku, ilustrasi, indeks, tabel, bibliografi, dan ependik.

-          Notes

Keterangan singkat mengenai seri penerbit, judul asli, dan pengarang aslinya (apabila buku tersebut merupakan terjemahan).

 

B. MACAM-MACAM KATALOGISASI

Ada beberapa bentuk katalog sesuai dengan perkembangan perpustakaan itu sendiri, diantaranya adalah sebagai berikut :

  1. Katalog buku.
  2. Katalog berkas, merupakan katalog kumpulan kertas.
  3. Katalog kartu, yaitu kartu katalog berukuran 7,5 cm x 12,5 cm kemudian kartu katalog dijajarkan dalam laci catalog.
  4. Katalog komputer (opac) yaitu katalog terbacakan komputer.

Beberapa jenis katalog berdasarkan bentuknya, seperti :

  1. Katalog Pengarang

Adalah semua nama pengarang buku, maka semua kartu catalog pengarang yang sudah terkumpul disusun menjadi abjad nama – nama pengarang masing – masing buku.

  1. Katalog Judul

Adalah catalog yang berbentuk kartu yang kata utamanya adalah judul Buku. Kartu-kartu yang sudah terkumpul disusun menurut abjad judul masing- masing Buku.

Jenis-jenis catalog berdasarkan bentuk fisik adalah sebagai berikut :

  • Kartu katalog (card katalog)

Terbuat dari karton manila, dnegan ukuran internasional 7,5 x 12,5 c. dibagian tengah sebelah bawah diberi lobang, gunanya untuk pengikat supaya tidak mudah lepas dari susunannya, dalam penyimpanannya kartu-kartu ini disusun didalam laci dengan ukuran yang sesuai, dimana bagian luar dari laci tiket untuk tanda isi dari laci tersebut. Selanjutnya laci ini disimpan didalam almari katalog.

Diantara susunan kartu-kartu katalog tersebut diberi kartu penunjuk atau guide card, sebagai penolong untuk mempermudah mancari kartu yang dimaksud. Kartu katalog ini paling praktis didalam praktek, karena mudah menambah, mengurangi dan mengganti. Untuk perpustakaan yang sifatnya tertutup pemakaian bentuk ini kurang praktis, karena pemakai katalog akan berjejal didepan almari katalog.

  • Katalog berkas (sheap catalog)

Katalog ini merupakan lembaran lepas yang terbuat juga dari karton manila yang dijilid menjadi satu berkas, ukurannya bermacam-macam dan lebih besar dari katalog kartu.

Bentuk ini praktis untuk perpustakaan sistem tertutup, karena yang mencari buku tidak berjejal dilemari katalog, katalog berkas bisa diperbanyak dalam beberapa buku.

  • Katalog buku (book catalog)

Ini dapat diketik, distensil atau dicetak berbentuk buku yang terdiri dari lembaran-lembaran kertas dimana terdapat uraian dari buku-buku perpustakaan tertentu.

Katalog ini biasanya paling murah, dan dapat dibuat banyak dan dapat pula dijual. Hanya kesukarannya dalam penambahan, pengurangan dan perbaikan. Setiap kali katalog ini harus diperbaharui, supaya sesuai dengan keadaan.

Selain itu, catalog juga terdiri atas beberapa jenis yaitu :

  • Katalog Pengarang

Digunakan jika buku yang akan kita cari hanya diketahui nama pengarangnya. Atau ingin mengetahui pengarang tertentu telah mengarang buku apa saja. Katalog pengarang disusun sistematis berdasarkan nama pengarang suatu karya di dalam kabinet katalog. Penulisan nama pengarang adalah dengan cara menuliskan terlebih dahulu nama keluarga, contoh

  • Katalog Judul

Digunakan jika buku yang akan kita cari hanya diketahui judul bukunya. Atau ingin mengetahui  judul buku tertentu  yang sama telah dikarang oleh pengarang mana  saja. Katalog judul disusun secara sistematis berdasarkan judul dalam kabinet katalog. Melalui katalog judul dapat diketahui judul-judul buku yang sama, yang dikarang oleh pengarang yang berbeda.

  • Katalog Subyek

Digunakan bila  kita  ingin mengetahui berbagai buku yang membahas subyek yang sama, biasanya sering digunakan dalam mengumpulkan bahan pustaka untuk kepentingan pembuatan penelitian, makalah dsb. yang membahas suatu subyek tertentu.  Melalui katalog subyek akan diketahui  karya-karya yang dikarang oleh berbagai pengarang dengan judul yang berbeda-beda tetapi memiliki pokok bahsan yang sama.

 

C. TUJUAN KATALOGISASI

Tujuan katalogisasi adalah merupakan sarana yang efisien membantu pengguna perpustakaan dalam memperoleh dokumen.  Menurut Cutter (1876) tujuan katalog adalah sebagai berikut:

1. Memungkin seseorang mememukan sebuah buku yang diketahui berdasarkan :

-          Pengarang.

-          Judul atau.

-          Subyek

2. Menunjukan buku yang dimiliki perpustakaan :

-          Oleh pengarang tertentu.

-          Berdasarkan subyek tertentu.

-          Dalam jenis literature tertent.

3. Membantu dalam pemilihan buku :

-          Berdasarkan edisinya.

-          Berdasarkan karakternya

Menurut bentuknya   (fisik katalog) antara lain :

  1. Book catalogue atau printed book adalah bentuk katalog paling tua yang dulunya digunakan di Perpustakaan Amerika. Ciri katalo ini adalah mahal pembuatannya dan tidak fleksibel terhadap perubahan koleksi perpustakaan Disamping itu perpustakaan harus menyediakan beberapa eksemplar.
  2. Sheaf Catalogue jenis ini terbuat dari kertas karton berukuran 10 X 20 cm, yang kemudian dijilid/dibendel dimana seetiap jilid berisi 50 kartu. Jenis ini kurang berkembang karena tidak fleksibel terhadan perubahan koleksi perpustakaan.
  3. Microform catalogue (COM=Computer Output Microform) jenis katalog ini menjadi populer dengan adanya perkembangan komputer. Microform atau microfice  adalah hasil dari COM tersebut yang secara pereodik perlu diupdate oleh karena itu sebelum edisi terbaru dibuat  COM catalogue tidak fleksibel terhadap koleksi perpustakaan seperti jenis katalog sebelumnya, jenis katalog ini harus dibuat banyak.
  4. Card Catalogue (katalog kartu) jenis katalog ini yang paling umum di perpustakaan  seluruh dunia, sebelum peran komputer menggantikannya. Setiap entri dituangkan dalam kartu standar berukuran 7.5 X 12,5 cm. Kumpulan entri ini kemudian disusun secara sistematis berdasarkan pengarang, subyek, judul dan call number ke dalam almari katalog. Katalog kartu sangat fleksibel terhadap perubahan koleksi perpustakaan, karena jenis katalog ini akan dengan mudah diadakan penambahan dan pengurangan/penyusutan atau perubahan terhadap entrinya bisa dilakukan pada kartu itu sendiri, dan kemudian di-file kembali.

Untuk lebih rincinya, katalog kartu mempunyai ciri-ciri :

  • Fleksibilitas :

-          Kartu katalog dapat disusun sesuai kebutuhan perpustakaan secara alfabetis atau call number.

-          Dapat juga berbentuk “dictionary or devided form”.

-          Mudah ditambah dan dikurangi.

-          Laci katalog dapat digeser-geser sesuai perkembangan katalog.

  • Mudah digunakan :

-          Relatif mudah digunakan bagi mereka yang sudah mengenal aturan file.

-          Disediakannya guide cross references dan konsisten dalam pembuatannya, hal ini akan memudahkan bagi pengguna perpustakaan.

-          Mudah dibaca.

  • Mudah dalam pembuatan dan perawatan :

-          Tak ada pembuatan katalog yang tak memerlukan biaya tetapi perpustakaan tetap memerlukan katalog yang uptodate. Pembuatan katalog kartu lebih sederhana jika dibandingkan dengan bentuk katalog yang lain, dan katalog kartu tetap masih relevan dengan perkembangan komputer.

-          Banyak software yang mampu memproduksi kartu katalog, misalnya CDS ISIS dan Bibliofile.

-          Reproduksi katalog lebih mudah.

-          Dapat dengan mudah ditambah dan dikurangi.

-          Dapat dilakukan koreksi pada kartu katalog.

  1. OPAC  (Online Public Catalogue)

Dalam perkembangan perpustakaan akhir-akhir ini banyak perpustakaan memanfaatkan kecanggihan komputer. Koleksi perpustakaan terekam dan tersimpan dalam sebuah data base, dimana pemustaka bisa akses melalui komputer yang disediakan. Data base dapat diakses baik lokal, regional maupun internasional. Bentuk katalog ini yang paling fleksibel dan paling modern : penambahan, penyusutan atau perubahan terhadap entri bahan pustaka dapat dilakukan setiap saat dan sangat cepat. Sehingga hasilnya akan segera diketahui, yang paling  menguntungkan bagi pemustaka, karena mereka bisa mengakses dengan menggunakan access point yang difariasikan.

Beberapa keunggulan OPAC antara lain : Filing tidak diperlukan lagi. Database dapat di update secara online atau remote, tersedianya menu help dan cross reference : dapat diproduksi dalam bentuk katalog lain, dapat dihubungkan dengan data base lain misalnya  CD-ROM (Campact Disk Read Only Memory), perubahan secara global dapat dilakukan, namun demikian, beberapa kelemahannya seperti :

  • Lebih sensitif terhadap “speling” karena setiap kesalahan eja akan muncul yang tidak diinginkan, atau pengguna akan menjadi bingung dengan munculnya terlalu banyak bibliografi.
  • Perlu adanya training bagi pemustaka.
  • Dan tidak akan berfungsi jika listrik padam.

 

D. FUNGSI KATALOGISASI

Fungsi katalogisasi secara umum adalah sebagai berikut :

  1. Mencatat bahan pustaka yang ada di perpustakaan untuk memudahkan pengguna,
  2. Mencari atau menelusur pustaka,
  3. mempermudah pencarian buku dalam perpustakaan berdasarkan pengarang, judul dan subyek.

 

Adapun fungsi dari catalog adalah sebagai berikut :

  1. Menunjukkan tempat suatu buku atau bahan lain dengan manggunakan symbol-simbol angka klasifikasi dalam bentuk nomor panggil.
  2. Mendaftar semua buku dan bahan lain dalam susunan alfabetis nama pengarang, judul buku, atau subjek buku yang bersangkutan ke dalam satu tempat khusus perpustakaan untuk memudahkan pencarian entri-entri yang diperlukan.
  3. Memberikan kemudahan untuk mencarisuatu buku atau bahan lain di perpustakaan dengan hanya salah satu dari daftar kelengkapan buku yang bersangkutan.

Katalog merupakan kunci untuk mengetahui isi koleksi dari perpustakaan itu sendiri, antara lain:

  1. Untuk memberi gambaran yang jelas kepada pemakai jasa perpustakaan tentang koleksi buku-buku yang terdapat dan dimiliki oleh suatu perpustakaan.
  2. Untuk menolong pemakai perpustakaan dalam mendapatkan buku yang diperlukan secara tepat dan cepat.
  3. Agar para pengguna perpustakaan mudah mendapatkan bahan pustaka yang diinginkannya.
  4. Sebagai sarana pemilihan buku yang tepat untuk mendapatkan informasi yang dibutuhkan.
  5. Catalog berfungsi sebagai wakil buku yang memberikam keteerangan yang lengkap tentang ciri-ciri buku.
  6. Catalog berfungsi sebagai “an instrument of communication “yang meninformasikan buku-buku perpustakaan .

Agar katalog dapat berfungsi semaksimal mungkin, maka ada beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh guru perpustakaan, yaitu :

-          Katalog perpustakaan sekolah harus lengkap memuat keseluruhan ciri-ciri buku.

-          Katalog perpustakaan sekolah harus fleksibel.

-          Katalog perpustakaan sekolah harus disusun dengan sistematis sehingga bisa dengan mudah dimanfaatkan.

-          Katalog perpustakaan sekolah dibuat seekonomis mungkin dan dipeliharan dengan sebaik-baiknya.

-          Guru pustakawan hendaknya memberikan petunjuk kepada murid-murid dalam hal penggunaan katalog sehingga murid-murid dapat memanfaatkannya dengan seoptimal mungkin.

-          Buatlah katalog yang bermacam-macam bentuknya seprti katalog pengarang, katalog judul, katalog subjek, katalog subjek klasifikasi.

 

E. PROSEDUR PENGKATALOGISASI

Kegiatan pengatalogan secara garis besar dapat dibagi ke dalam dua kegiatan:

  1. Pengatalogan deskriptif, yang bertumpu pada fisik bahan pustaka (judul, pengarang, jumlah halaman, dll), kegiatannya berupa membuat deskripsi bibliografi, menentukan tajuk entri utama dan tambahan, pedomannya antara lain AACR dan ISBD.
  2. Pengindeksan subyek, yang berdasar pada isi bahan pustaka (subyek atau topik yang dibahas), mengadakan analisis subyek dan menentukan notasi klasifikasi, pedomannya antara lain bagan klasifikasi, daftar tajuk subyek dan tesaurus. Kedua kegiatan ini menghasilkan cantuman bibliografi atau sering disebut katalog yang merupakan wakil ringkas bahan pustaka.

Sistem katalog dibedakan dari susunannya dalam laci katalog, yang terdiri dari:

  • Sistem katalog abjad.

-          Katalog susunan abjad terpisah.

-          Katalog pengarang (author catalog).

-          Katalog judul (title catalog).

-          Katalog subyek (subject catalog).

-          Katalog susunan ensiklopedi atau kamus (dictionary catalog) yaitu catalog yang disusun menurut abjad pengarang, judul dan subyek dalam satu susunan.

  • Sistem katalog klasifikasi (classified catalog)

Merupakan suatu sistem katalog yang disusun menurut suatu bagian klasifikasi tertentu., terdiri dari tiga susunan yaitu:

-          Katalog pengarang judul disusun menurut abjad.

-          Katalog subyek disusun menurut urutan nomor-nomor klasifikasi tertentu.Indek subyek yang menunjukkan notasi klasifikasi tertentu untuk suatu subyek, umumnya disusun menurut abjad.

Unsur-unsur yang terdapat dalam sebuah catalog Nama pengarang atau yang dianggap sebagai pengarang Judul buku Judul tambahan Imprint (impressum) untuk menyatakan kota penerbit, penerbit dan tahun terbit;

Kolasi untuk menyatakan jumlah halaman keterangan lain dan ukuran buku, Nomor seri bila buku itu mempunyai nomor seri, Anotasi yang merupakan catatan, Tanda buku (call number).

 

F. CARA MEMBUAT KARTU KATALOG

Sebelum membuat atau mengetik kartu catalog, maka ada dua hal yang perlu dilakukan yaitu sebagai berikut:

Kartu katalog

Untuk membuat catalog kartu diperlukan selembar kartu untuk setiap judul buku. Karna itu perlu dipersiapkan kartu terlebih dahulu dengan ukuran dan bentuk sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, yaitu: ukuran panjangnya 12,5 cm dan lebarnya 7,5 cm, di tengah tengah bagian bawahnya diberi lubang untuk menusukan tusuk pengaman.

Temporary slip (T-slip)

Merupakan catatan atau keterangan-keterangan mengenai buku pada selembar kertas yang berukuran kurang lebih ¼ folio atau bisa juga berukuran 15 x 10 cm. temporary slip ini dibuat untuk memudahkan pengetikan kartu catalog. Keterang-keterangan yang seharusnya dituliskan pada lembar temporary slip ini sama dengan keterangan yang seharusnya dituliskan pada kartu catalog. Yaitu meliputi nomor klasifikasi (nomor penempatan), judul buku, nama pengarang,impritnt (kota terbit, nama penerbit, tahun terbit), kolasi (table buku, ukuran buku, https://www.acheterviagrafr24.com/achat-viagra-en-ligne-en-france/ bibliografi, indeks, illustrasi, tabel).

 

Cara pembuatan katalog :

  • Nomor klasifikasi

Nomor klasifikasi diketik pada sudut kiri atas kartu katalog. Di bawah nomor klasifikasi, keti 3 hiruf capital kependekan nama keluarga/ utama pengarang. Jadi apabila pengarangnya bernama Drs. CS.T. Kansil, SH., maka yang diketi adalah KAN. Setelah itu, dibawah tiga huruf capital tersebut diketik satu huruf kecil dari huruf pertama judul buku.jadi apabila bukunya berjudul “pengelolaan perpustakaan” maka dibawah 3 huruf capital diketik huruf p.

  • Pengarang/ Tajuk entri utama

Nama pengarang buku diketik dengan huruf besar semua dimulai pada indensi pertama sejajar dengan nomor penempatan atau nomor klasifikasi. Nama pengarang asing yang biasanya diikuti dengan nama keluarga, maka pengetikannya dibalik, dan yang diketik huruf besar semua hanya nama keluarganya. Misalnya pengarang bernama Carter V. Good. Maka pengetikannya adalah GOOD, Carter V. (antara nama keluarga dan nama utama dipisahkan dengan koma), jika hanya sebagai editor, penerjemah, atau pengarangnya lebih dari satu orang, maka dibelakang nama diketik atau diberi tanda (Ed) untuk editor, (dkk) untuk pengarang yang lebih dari satu, dan (penerj) untuk penerjemah.

  • Judul buku

Judul buku diketik mulai pada indensi kedua dibawah huruf keempat ketikan nama pengarang. Jika ada sub judulnya, diketik setelah judul utama yang dipisah dengan tanda titik koma. Apabila judulnya panjang sehingga tidak bisa diketik dalam satu baris, maka pengetikannya diteruskan ke baris kedua yang dimulai pada indensi pertama.

  • Nama pengarang lengkap

Setelah pengetikan judul diteruskan dengan nama lengkap pengarang yang diberi tanda titik. Pengetikan nama lengkap pengarang ini tidak dibalik walaupun nama orang asing. Apabila ada edisinya, maka edisi ini diketik setelah nama lengkap pengarang.

  • Imprint

Imprint( nama kota tertib, nama penerbit, dan tahun terbit) ini diketik setelah nama pengarang atau edisi. Antara nama pengarang dengan imprint ini diberi jarakdua huruf. Antara nama kota tebit dan nama penerbit serta tahun terbit dipisah dengan tanda koma. Dan diakhiri dengan tanda titik.

  • Kolasi

Kolasi (table buku, ukuran buku, bibliografi, indeks, illustrasi, table) tidak diketik bersambung dengan imprint, tetapi diketik pada baris berikutnya mulai pada indensi kedua. Apabila pengetikan kolasi ini tidak cukup dalam satu baris dan dilanjutkanpada baris berikutnya pada indensi pertama.

 

Pengetikan katalog judul tidak jauh berbeda dengan pengetikan katalog pengarang dan juga katalog subyek. Adapun perbedaannya adalah sebagai berikut:

-          Pada katalog judul, diatas tajuk entri utama diketikkan judul buku yang dimulai pada indensi kedua.

-          Pada catalog pengarang nama keluarga utama diketik dengan huruf besar semua, sedangkan pada katalog judul diketik dengan huruf kecil semua.

-          Pada catalog subyek diatas tajuk entri utama diketikkan subyek sebagaimana pada katalog judul. Pengetikan subyek tersebut dengan huruf besar semua.

 

 

Cara penulisan catalog

1)      Pengetikan katalog pengarang

Nama pengarang diketik di atas tajuk entri utama,nama pengarang diketik dengan huruf besar.

2)      Pengetikan katalog judul

Cara pengetikannya tidak jauh beda dengan katalog pengarang,perbedaannya kalau pada katalog judul,di atas tajuk entri utama diketikkan judul buku yang dimulai pada indensi kedua,pada catalog judul nama keluarga/utama yang menjadi tajuk entri diketik dengan huruf kecil.

3)      Pengetikan katalog subyek

Pengetikan katalog subyek tidak jauh beda dengan catalog pengarang dan judul ,perbedaannya di atas tajuk entri utam diketik subyek sebagaimana pada catalog judul,pengetikannya dengan huruf besar dimulai dengan idensi utama.

 

Adapun pedoman untuk menentukan tajuk entri utama adalah:

�        Suatu karya yang disusun oleh seorang pengarang maka tajuk entri utamanya adalah pengarang yang bersangkutan.

�        Apabila ada dua orang pengarang,yang diantaranya ada pengarang utama maka tajuk entri utamanyaadalah pengarang utama.

�        Apabila pengarangya terdiri dari dua atau lebih pengarang dan tidak ada pengarang utama maka tajuk entri utamanya adalah pengarang yang disebut pertama kali.

�        Apabila tidak ada pengarang atautidak diketahui pengarangnya,maka tajuk entri utamanya terletak pada judul karyanya.

�        Suatu karya yang merupakan karya editor,tajuk entri utamanya terletak pada judul karyanya.Apabila tidak memiliki judul kolektif,maka tajuk entri utamanya terletak pada pengarang atau judul yang pertama kali disebut pada halaman judul.

�        Suatu karya editor yang dijilid maka tajuk entri utamanya terletak pada judul kolektif,apabila tidak ada judul yang kolektif maka tajuk entri utamanya terletak pada pengarang atau judul yang pertama kali disebutkan pada halaman judul jilid pertaama.

�        Suatu karya yang merupakan terjemahan dari bahasa lain,tajuk entri utamanya terletak pada pengarang aslinya.tetapi apabila disalin seperti diringkas, paraphrase, didramatisasikan,maka tajuk entri utamanya terletak pada penyadur atau pengubahnya.

�        Suatu karya yang merupakan laporan dari seorang pejabat suatu badan korporasi dan isinya merupakan laporan kegiatan badan tersebut,maka tajuk entri utamanya terletak pada badan korporasi yang bersangkutan.

 

 

KESIMPULAN

Katalog adalah Presentasi ciri-ciri dari sebuah bahan pustaka atau dokumen (misalnya: judul, pengarang, deskripsi fisik, subyek, dll.) koleksi perpustakaan yang merupakan wakil ringkas bahan pustaka tersebut yang disusun secara sistematis.

Ada beberapa bentuk katalog yaitu katalog buku katalog berkas, katalog kartu, dan katalog komputer. Selain itu, catalog juga terdiri atas beberapa jenis yaitu : katalog pengarang, katalog judul , dan katalog subjek. Antara katalog pengarang, katalog judul dan katalog subjek bentuknya tidak jauh beda, perbedaannya hanya terletak pada bagian kepala katalog tersebut.

KLASIFIKASI

Texas Tech Baylor men's basketball

A. Pengertian Klasifikasi Perpustakaan

  1. Secara Etimologi

Klasifikasi berasal dari bahasa inggris darikata “classification” dan kata ini berasal dari kata “to classy” yang berarti menggolongkan dan menempatkan benda-benda di suatu tempat.

Klasifikasi adalah pengelompokkan yang sistematis pada sejumlah objek,
gagasan, buku atau benda-benda lain ke dalam kelas atau golongan tertentu
berdasarkan ciri-ciri yang sama (Hamakonda dan Tairas, 1999: 1).

 

  1. Menurut Para Ahli

¯  Towa P. Hmakotrda dan J.N.B. Tairas (1995)

Mengatakan bahwa klasifikasi adalah pengelompokan yang sistematis daripada sejumlah obyek, gagasan, buku atau benda-benda lain ke dalam kelas atau golongan tertentu berdasarkan ciri-ciri yang sama.

¯  Ernest Cushing Richardson

Klasifikasi adalah kegiatan mengelompokkan dan menempatkan barang-barang.

¯  Sulistyo Basuki (1991)

Mengatakan bahwa klasifikasi berasal dari kata Latin “classis”. Klasifikasi adalah proses pengelompokan, artinya mengumpulkan benda/entitasyang sama serta memisahkan benda/entitas yang tidak sama. Secara umum dapat dikatakanbahwa batasan klasifikasi adalah usaha menata alam pengetahuan ke dalam tata urutan sistematis.

¯  Hamakonda dan Tairas, 1999: 1

Klasifikasi adalah pengelompokkan yang sistematis pada sejumlah objek, gagasan, buku atau benda-benda lain ke dalam kelas atau golongan tertentu berdasarkan ciri-ciri yang sama.

¯  Ibrahim Bafadal 2009:51

Klasifikasi adalah suatu proses memilih dan mengelompokkan buku-buku perpustakaan sekolah atau bahan pustaka lainnya atas dasar tertentu serta diletakkannya secara bersama-sama di suatu tempat.

¯  Menurut Suwarno(2007: 66)

Secara umum klasifikasi terbagi dalam dua jenis, yaitu:

  • Klasifikasi artifisial (artificial classification), yaitu klasifikasi bahan pustaka
    berdasarkan sifat-sifat yang secara kebetulan ada pada bahan pustaka
    tersebut. Misalnya berdasarkan warna buku atau tinggi buku.
  • Klasifikasi fundamental (fundamental classification), yaitu klasifikasi bahan
    pustaka berdasarkan isi atau subjek buku, yaitu sifat yang tetap pada bahan
    pustaka meskipun kulitnya berganti-ganti atau formatnya diubah.
    Klasifikasi fundamental ini yang sering digunakan perpustakaan saat ini.

Berdasarkan penjelasan tersebut dapat disimpulkan bahwa klasifikasi itu adalah suatu proses memilih dan mengelompokkan buku-buku perpustakaan sekolah atau bahan perpustakaan lainnya atas dasar tertentu serta diletakkannya secara bersama-sama disuatu tempat.

Menurut Bloomberg dan Evans didalam bukunya yang berjudul “Introduction To Technical Service For Library Technicians” tujuan klasifikasi adalah untuk mempermudah penggunaan koleksi, baik bagi pengunjung maupun bagi petugas perpustakaan. Dengan kata lain adalah bahwa klasifikasi buku-buku perpustakaan sekolah untuk meningkatkan efisiensi penggunaan buku. Efisiensi disini dapat ditinjau dari dua pihak, yaitu pihak murid dan pihak guru pustakawan.

Tujuan mengklasifikasi buku-buku perpustakaan sekolah adalah sebagai berikut:

a)      Untuk mempermudah murid-murid di dalam mencari buku-buku yang sedang diperlukan.

b)      Untuk mempermudah guru pustakawan di dalam mencari buku-buku yang dipesan oleh murid-murid.

c)      Mempermudah guru pustakawan mengetahui perimbangan bahan pustakawan.

d)     Akhirnya, buku-buku perpustakawan sekolah diklasifikasikan dengan sebaik-baiknya untuk mempermudah guru pustakawan di dalam menyusun suatu daftar bahan-bahan pustaka yang berdasarkan sistem klasifikasi.

 

B. Prinsip-Prinsip Pengklasifikasian

Agar guru pustakawan tidak terlalu mengalami kesulitan di dalam mengklasifikasi buku-buku perpustakaan, sebaiknya memahami beberapa prinsip yang perlu diperhatikan. Sekedar sebagai pedoman, ada beberapa prinsip yang perlu diperhatikan di dalam mengklasifikasi berdasarkan subyeknya :

  1. Klasifikasi buku-buku perpustakaan sekolah, pertama-tama berdasarkan subyeknya. Kemudian berdasarkan bentuk penyajian, atau bentuk karyanyan.
  2. Khususnya buku-buku yang termasuk karya umum dan kesustraan hendaknya lebih diutamakan pada bentuknya.
  3. Di dalam mengklasifikasi buku-buku perpustakaan sekolah hendaknya memperhatikan tujuan pengarangnya.
  4. Klasifikasi buku-buku perpustakaan sekolah itu pada subyek yang sangat spesifik.
  5. Apabila sebuah buku yang membahas dua atau tiga subyek, klasifikasilah buku tersebut pada subyek yang dominan.
  6. Apabila ada dua subyek dengan pertimbangan subyek yang sama, maka klasifikasilah buku tersebut pada subyek yang paling banyak bermanfaat bagi pemakai perpustakaan sekolah.
  7. Hendaknya guru pustakawan mempertimbangkan keahlian pengarangnya.

 

C. Sistem Klasifikasi

Sistem klasifikasi bisa didasarkan pada ciri-ciri buku, sehingga buku-buku yang bercirikan sama bisa dikelompokkan menjadi satu. Ada beberapa sistem klasifikasi buku-buku perpustakaan sekolah antara lain sebagai berikut :

1. Sistem abjad nama pengarang.

Pada sistem ini, buku-buku perpustakaan sekolah dikelompokkan atas dasar abjad nama pengarangnya.

2. Sistem abjad buku.

Pada sistem ini, buku-buku perpustakaan sekolah dikelompokkan atas dasar abjad judul bukunya.

3. Sistem kegunaan buku.

Pada sistem ini, buku-buku perpustakaan sekolah dikelompokkan atas dasar kegunaannya. Buku-buku referensi dikelompokkan menjadi satu, buku-buku cerita dikelompokkan menjadi satu, buku-buku ilmu pengetahuan, buku-buku untuk anak-anak dikelompokkan menjadi satu.

4. Sistem penerbit.

Pada sistem ini, buku-buku perpustakaan sekolah dikelompokkan atas dasar penerbit buku.

5. Sistem bentuk fisik

Pada sistem ini, bahan-bahan pustaka dikelompokkan atas dasar bentuk fisiknya. Ditinjau dari bentuk fisiknya, bahan-bahan pustaka ada yang berupa buku dan ada pula yang bukan berupa buku pustaka seperti majalah, surat kabar,brosur.

6. Sistem bahasa

Pada sistem ini, buku-buku perpustakaan dikelompokkan berdasarkan atas dasar bahasa yang digunakan oleh buku perpustakaan tersebut.

7. Sistem subyek

Pada sistem ini buku perpustakaan dikelompokan atas dasar subyek atau isi yang terkandung didalam buku yang bersangkutan.

 

D. Macam-Macam Klasifikasi

  1. Klasifikasi Artifisial

Sistem ini adalah mengelompokkan bahan pustaka berdasarkan ciri atau sifat-sifat lainnya, misalnya pengelompokan menurut pengarang, atau berdasarkan ciri fisiknya, misalnya ukuran, warna sampul, dan sebagainya.

  1. Klasifikasi Utility

Pengelompokan bahan pustaka dibedakan berdasarkan kegunaan dan jenisnya. Misal, buku bacaan anak dibedakan dengan bacaan dewasa. Buku pegangan siswa di sekolah dibedakan dengan buku pegangan guru. Buku koleksi referens dibedakan dengan koleksi sirkulasi (berdasar kegunaannya).

  1. Klasifikasi Fundamental

Pengelompokan bahan pustaka berdasarkan ciri subyek atau isi pokok persoalan yang dibahas dalam suatu buku. Pengelompokkan bahan pustaka berdasarkan sistem ini mempunyai beberapa keuntungan, diantaranya:

  • bahan pustaka yang subyeknya sama atau hampir sama, letaknya berdekatan.
  • Dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam menilai koleksi yang dimiliki dengan melihat subyek mana yang lemah dan mana yang kuat.
  • Menudahkan pemakai dalam menelusur informasi menurut subyeknya.
  • Memudahkan pembuatan bibliografi menurut pokok masalah.
  • Untuk membantu penyiangan atau weeding koleksi.

Klasifikasi fundamental banyak digunakan oleh perpustakaan besar maupun kecil. Dalam sistem tersebut buku dikelompokkan berdasarkan subyek, sehingga memudahkan pemakai dalam menelusur suatu informasi.

Ada beberapa jenis klasifikasi perpustakaan yang digunakan, diantaranya:

1. Dewey Decimal Classification (DDC)

2. Universal Decimal Classification (UDC)

3. Library of Congress Classification

Dari ketiga sistem klasifikasi di atas, yang paling banyak digunakan di
perpustakaan adalah Dewey Decimal Classification (DDC). Pada modul ini hanya akandiuraikan Dewey Decimal Classification (DDC). Selain itu, juga akan diuraikan homeclassification dimana sistem klasifikasi ini berbeda dengan sistem klasifikasi yangumum digunakan untuk jenis koleksi tertentu yang dimiliki perpustakaan denganalasan efisiensi proses temu kembali informasi.

  1. Dewey Decimal Classification

Susunan subjek pada sistem Klasifikasi Persepuluh Dewey ini meliputi seluruh ilmu pengetahuan manusia, menurut sistem Klasifikasi Persepuluh Dewey, imu pengetahuan manusia dapat dibagi ke dalam sepuluh kelas utama (main class) yang biasa disebut Ringkasan Pertama (First Summary) seperti tertera berikut ini”

000                  Karya Umum

100                  Filsafat

200                  Agama

300                  Ilmu-ilmu Sosial

400                  Bahasa

500                  Ilmu-ilmu Murni

600                  Ilmu-ilmu Terapan

700                  Kesenian, Hiburan, Olahraga

800                  Kesusastraan

900                  Geografi dan Sejarah Umum

Menurut sistem Klasifikasi Persepuluh Dewey, setiap kelas utama dari kesepuluh kelas utama di atas dapat dibagi atas rinci menjadi sepuluh bagian atau divisi (division) yang biasanya disebut Ringkasan Kedua (Second Summary). Oleh karena kelas utama berjumlah sepuluh kelas, sedangkan setiap kelas utama dibagi lagi menjadi sepuluh bagian, maka jumlah divisi keseluruhan adalah seratus divisi.

 

Unsur-Unsur Pokok DDC

Menurut Hamakonda dan Tairas (1999: 2-3), sistem ini memiliki unsur-
unsur pokok antara lain:

  1. Sistematika pembagian ilmu pengetahuan yang dituangkan ke dalam
    suatu bagan yang lengkap dan dilandaskan pada beberapa prinsip dasar
    tertentu.
  2. Notasi, yang terdiri dari serangkaian simbol berupa angka, yang
    mewakili serangkaian istilah (yang mencerminkan subjek tertentu) yang
    terdapat pada bagan.
  3. Indeks relatif, yang terdiri dari sejumlah tajuk dengan perincian
    aspek-aspeknya yang disusun secara alfabetis, dan memberikan
    petunjuk berupa nomor kelas, yang memungkinkan orang mencari tajuk
    yang tercantum dalam indeks bagan.
  4. Tabel pembantu, yang berbentuk serangkaian notasi khusus, yang
    dipakai untuk menyatakan aspek-aspek tertentu yang selalu terdapat
    dalam beberapa subjek yang berbeda. Terdapat 7 tabel pembantu,
    yaitu:
  • Tabel 1 Subdivisi Standar .
  • Tabel 2 Wilayah .
  • Tabel 3 Subdivisi Kesusastraan .
  • Tabel 4 Subdivisi Bahasa
  • Tabel 5 Ras, Bangsa, Kelompok Etnis
  • Tabel 6 Bahasa
  • Tabel 7 tentang Orang/Pribadi.

5.   Di samping itu, sistem klasifikasi harus menyediakan kelas untuk Karya umum, untuk menempatkan karya-karya yang begitu luas cakupannya, sehingga tidak dapat dimasukkan ke dalam salah satu kelas utama manapun.

Sistem ini membagi ilmu ilmu pengetahuan ke dalam 10 kelas utama.
Masing-masing kelas utama dibagi lagi menjadi 10 divisi. Masing-masing divisi
dibagi lagi menjadi 10 seksi. Sehingga terdapat 10 kelas utama, 100 divisi, dan
1000 seksi.

 

E. Prosedur Klasifikasi Perpustakaan

Dalamklasifikasi Persepuluhan Dewey initerdapat 3 komponen, yaituBagan, indeks Relatif, dan Tabel tabel. Untuk lebih jelasnya dapat diperhatikan pada uraian berikut ini.

  1. Bagan (Schedules)

Klasifikasi Dewey adalah bagan klasifikasi sistem hirarki yang menganut prinsip “desimal” untuk membagi semua bidang ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan dibagi kedalam 9 kelas utama, yang diberi kode/lambang angka (selanjutnya disebut notasi). Seperti telah dijelaskan pada halaman sebelumnya. Dalam DDC ini semakin khusus suatu subyek,semakin panjang notasinya. Karena banyak angka yang ditambahkan pada notasi dasarnya. Pembagiannya dari umum ke khusus.

Ada beberapa istilah penting dalam bagan, seperti:

  • Summary, yaitu tajuk yang agak terbatas pembagiannya.Contoh dalam subyek Insecta (insecta) 595.7 terdapat “summary”. Pembagian yang lebih rinci untuk masing-masing tajuk yang terdapat dalam ‘summary’ tersebut diperinci lebih lanjut dalam bagan (lihat bagan hal.925)
  • Formerly also, Istilah ini terdapat dalam kurung siku, yang artinya menunjukkan bahwa subyek tersebut notasinya dulu pada …. Misal, pada notasi 297.211 terdapat subyek “Tawhid” [formerly also 297.14]. ini berarti dulu notasinya pada 297.14 tetapi sekarang pada 297.211 (lihat bagan hal. 229). Istilah Formerly pada prinsipnya sama dengan Istilah formerly also. Ini berarti terdapat pemindahan lokasi notasi untuk subyek dimaksud.Contoh notasi 003.52 Perception theory [formerly 001.534].
  • Class here, Merupakan instruksi yang berarti tempatkan di sini. Hal ini https://www.acheterviagrafr24.com/ sebagai penuntun untuk menentukan notasi suatu subyek yang mungkin tidak diduga berada di bawah tajuk tersebut. Contoh “advertising and public relations” mendapat notasi 659. Di bawahnya diikuti dengan istilah ‘class here publicity’, ini berarti karya tentang ‘publicity’ ditempatkan sama pada subyek Advertising and public relation (lihat bagan hal. 352).
  • Relocated to, DDC selalu mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan, maka kemungkinan terdapat perubahan-perubahan dalam menempatkan notasi untuk suatu subyek sangat besar sekali. Relokasi ini dinyatakan dengan petunjuk formely also dan formerly yang notasinya ditempatkan dalam tanda kurung siku. Contoh 729[.9] Built-in church furniture. Kemudian diikuti dengan instruksi Relocated to 726.529, ini berarti notasi 729.9 untuk subyek ‘built-in church furniture’ sekarang sudah tidak digunakan lagi dan dipindahkan pada notasi 726.529 (lihat bagan hal.484).
  • Centered heading, Adakalanya suatu konsep tidak bisa dinyatakan dalam satu notasi, maka dinyatakan dalam sederetan notasi. Contoh untuk menyatakan subyek ‘Biography of specific classes of perseons’ dalam bagan dinyatakan pada notasi 920.1-929.9. Pada kasus seperti ini akan terdapat tanda segitiga(>) mendahului notasi tersebut, (lihat bagan hal.703).
  • Optional number, prefer, Merupakan pilihan atau alternatif yang dikehendaki oleh DDC. Contoh untuk konsep ‘riwayat hidup para ahli dalam disiplin ilmu tertentu’, DDC menyarankan agar ditempatkan pada subyeknya dengan menambahkan notasi ‘subdivisi standard’ -092 dari tabel 1 (lihat …………. 702).
  •  If preferred, Istilah ini merupakan penuntun bagi pemakai DDC bila menghendaki dapat memilih salah satu alternatif. Contoh untuk konsep ‘bibliografi subyek’ notasinya 016. Bila pemakai DDC menghendaki, dapat menempatkan bibliografi tersebut pada subyeknya. Misal ‘Bibliografi kedokteran’ pada notasi 016.61, tetapi pemakai DDC dapat juga menempatkan pada notasi 610.61 (lihat bagan hal. 32).
  • Acuan “see”, Merupakan penuntun untuk mempertimbangkan notasi lain. Contoh subyek ‘rubber’mendapat notasi 678.2, sedang untuk subyek ‘rubber products’ see 678.3 (lihat bagan hal. 413)
  • Instruksi “Add to”, Instruksi ini menyuruh untuk memperluas notasi suatu subyek dengan mengambil pembagian dari subyek lain. Biasanya pada instruksi ini terdapat contohnya. Misal pada notasi 025.218 ‘Collection development ini specific types of institutions’ diikuti dengan perintah Add to base number 025.218 the number following 02 in 026-027. Contoh Pengembangan koleksi di perputakaan perguruan tinggi 025.21877. Notasi 77 diambilkan dari notasi subyek ‘college and university library’ 027.7. Bila notasi tersebut diperinci adalah sebagai berikut: 025.218 notasi dasar ‘Collection development in specific types of institutions’. 027.7 Collection development in academic libraries’(lihat bagan hal. 41).

 

2. Indeks Relatif (Relative Index)

Untuk membantu mencari notasi suatu subyek dalam DDC terdapat ‘Indeks Relatif’. Pada indeks relatif ini terdaftar sejumlah istilah yang disusun berabjad. Istilahistilahtersebut mengacu ke notasi yang terdapat dalam bagan. Dalam indeks ini didaftar sinonim untuk suatu istilah, hubungan-hubungan dengan subyek lainnya. Bila suatu subyek telah ditemukan dalam indeks relatif, hendaklah ditentukan lebih lanjut aspek dari subyek yang bersangkutan. Cara yang paling cepat untuk menentukan notasi suatu subyek adalah melalui indeks relatif. Tetapi menentukan notasi hanya melalui dan berdasarkan indeks relatif saja tidak dapat dibenarkan. Setelah suatu subyek diperoleh notasinya dalam indeks relatif, harus diadakan pengecekan dengan notasi yang terdapat dalam bagan. Dengan demikian dapat diketahui apakah notasi tersebut betul-betul sesuai dengan karya yang sedang diklasifikasikan.

3. Tabel-Tabel

Kecuali pembagian kelas secara desimal dengan notasi yang terdaftar dalam bagan,DDC juga mempunyai sarana lain. Untuk membagi/memperluas subyek lebih lanjut, yaitu dengan menyediakan sejumlah tabel pembantu atau auxiliary tables. Notasi pada table-tabel tersebut hanya dapat digunakan dalam rangkaian dengan notasi yang terdapat dalam bagan. Dengan kata lain, notasi yang terdapat dalam tabel tidak pernah berdiri sendiri, selalu dirangkaikan dengan notasi dalam bagan. Dalam klasifikasi DDC edisi 22 terdapat 7 tabel pembantu/pelengkap, yakni:

  • Tabel 1: Subdivisi Standar (Standard Subdivisions)

Bila suatu subyek telah ditemukan notasinya dalam bagan, adakalanya perlu dicantumkan lebih lanjut notasi tambahan “bentuk” yang diambil dari notasi yang terdapat dalam tabel 1 (standard subdivision, hal.3-24). Tabel 1 ini bertujuan untuk menjelaskan bentuk suatu karya, misalnya -03 adalah bentuk kamus dan ensiklopedi. -05 adalah bentuk terbitan berkala atau majalah. Adakalanya juga untuk menjelaskan bentuk penyajian intelektual, misal -01 untuk bentuk penyajian yang bersifat filsafat dan teori, -09 sejarah dan geografi.

Dalam bagan terdapat 5 cara untuk penggunaan tabel 1 ini, yakni:

a) Tidak ada instruksi

b) Terdapat dalam bagan (lengkap)

c) Terdaftar sebagian

d) Ada instruksi penggunaan dua nol (00)

e) Instruksi penggunaan tiga nol (000)

  • Tabel 2: Wilayah (Geographic Areas, Historical Periods, Persons)

Adakalanya suatu subyek perlu dinyatakan aspek geografisnya (wilayah), missal “Angkatan Laut Indonesia”. Dalam hal ini notasi subyek itu perlu ditambahkan notasiwilayah “Indonesia” yang diambilkan dari Tabel 2. Cara penambahan tabel 2 ini adalahsebagai berikut:

a)Tidak ada instruksi, dengan menggunakan notasi -09 (aspek geografi dari Tabel 1).

b) Ada instruksi, adakalanya dalam bagan terdapat instruksi, biasanya berupa instruksifrom Tabel 2. Kadangkala didahului dengan kata-kata ‘Geographical, treatment, treatment by specific continents, countries”, dan sebagainya. Untuk geografi suatu wilayah. Dalam bagan ini hanya untuk ‘geografi’ suatu wilayah. Misalnya “Geografi Jepang, Geografi Indonesia” dan sebagainya. Cara pembentukannya, anka dasar geografi suatu wilayah 91- ditambahkan dengan notasi wilayah yang diambil dari Tabel2.

  • Tabel 3: Subdivisi Sastra (Subdivision for Individual Literatur, for Specific LiteraryForms).

Dalam klas 800 (kesusasteraan)dikenal bentuk penyajian khusus yang disebut“subdivisi masing-masing sastra”. Misal bentuk-bentuk sastra, -1 Puisi, -2 Drama, -3 Fiksi, dan sebagainya. Notasi yang terdapat alam Tabel 3 ini hanya dapat ditambahkan pada notasi dasar sastra. Untuk notasi dasar suatu sastra yang berakhiran dengan angka 0 (nol),notasi dasarnya adalah dua angka pertama saja. Notasi dasar sastra Inggris 82 bukan 820, dan seterusnya. Cara penggunaan tabel 3 ini adalah:

a) Terdaftar dalam bagan tetapi belum lengkap

b) Tidak terdaftar dalam bagan

  • Tabel 4: Subdivisi bahasa (Subdivisions of Individual Languages)

Dalam 400 (bahasa) dikenal subdivisi khusus bahasa yang disebut “masing bahasa”(Subdivisions of Individual Languages). Notasi yang terdapat dalam tabel 4 ini hanyadapat ditambahkan pada notasi dasar suatu bahasa dalam klas 400. Bila notasi suatu bahasa terdiri dari 3 angka dan berakhiran dengan 0 (nol), notasi dasarnya hanya 2 angka pertama. Misal notasi dasar bahasa Perancis 44- bukan 440, bahasa Itali 47- bukan 470. Cara penambahan Tabel 4 ini:

a) Terdaftar dalam bagan tetapi belum lengkap

b) Belum terdaftar dalam bagan

c) Kamus dua bahasa. Urutan sitirannya dengan mengutamakan bahasa yang kurangdikenal kemudian tambahkan -3 (dari Tabel 4), menyusul notasi bahasa yang lebihdikenal

d) Kamus banyak bahasa. Bagi kamus banyak bahasa, yaitu mencakup 3 bahasa atau lebihdimasukkan ke dalam kamus poliglot (polyglot dictionaries).

  • Tabel 5: Ras, Etnik, dan Kebangsaan (Racial, Ethnic, National Groups).

Adakalanya suatu subyek perlu ditambahkan aspek ras tertentu. Misal -951Chinese -992.1 Philipines. Bila suatu subyek telah ditemukan notasinya, lalu tambahkan dengannotasi di tabel 5, ini dilakukan bila dirasa perlu untuk memperluas subyek yangbersangkutan.

Adapun cara penambahannya, adalah:

a) Ada perintah

b) Tidak ada perintah. Maka tambahkan notasi -089 (dari Tabel 1) kemudian cantumkannotasi.

  • Bahasa (Languages)

Suatu subyek adakalanya perlu ditambahkan aspek bahasanya. Misal Bibel dalambahasa Belanda. Terjemahan Al-Qur’an dalam bahasa Cina, dan sebagainya. Terlebihdahulu harus ditentukan notasi untuk subyek Bibel dan Al-Qur’an kemudian ditambahkandari notasi bahasa Belanda atau Cina yang diambilkan dari Tabel 6. Cara penggunaanTabel 6 ini adalah:

a) Ada perintah

b) Tidak ada perintah. Tambahkan notasi -175 (aspek wilayah di mana suatu bahasa sangatdominan, dari Tabel 2). Lalu tambahkan notasi bahasa dari Tabel 6 ini. Contoh untukkarya Bibel di Argentina dalam bahasa Spanyol (bahasa Spanyol sangat dominan diArgentina) mendapat notasi 220.517661.

  • Orang (Groups of Persons).

Suatu subyek adakalanya perlu diperluas notasinya dengan kelompok orangtertentu, misal ahli kimia, penyandang cacat, dan sebagainya. Untuk itu pada notasi subyekyang bersangkutan dapat diperluas dengan menambahkan notasi yang terapat pada Tabel 7.

Penggunaan Tabel 7 ini adalah sebagai berikut:

a) Ditambahkan langsung

b) Tidak langsung. Tambahkan dengan notasi -088 yang diambil dari Tabel 1.

 

4. Tabel Perluasan Untuk Wilayah Indonesia

Perluasan dari Tabel Wilayah DDC, khusus yang berhubungan dengan wilayahIndonesia (tabel 2). Buku-buku tentang Indonesia makin hari makin besar jumlahnya.Kebutuhan untuk perluasan/penyesuaian notasi DDC untuk subyek Indonesia sangatdiperlukan, karena untuk membedakan daerah yang dibahas dalam subyek buku. Mengenaiikhtisar pembagian daerah-daerah Indonesia kita menggunakan pedoman yang diterbitkanoleh Pusat Pembinaan Perpustakaan Jl. Merdeka Selatan No. 11 Jakarta, yang disusun olehSub Panitia Standarisasi Perpustakaan, Panitia Teknis Perpustakaan pada Tahun BukuInternasional 1972, dengan judul “Perluasan dan Penyesuaian Notasi untuk Beberapa Seksidalam DDC khusus yang berhubungan dengan Indonesia”.

1) Koperasi di Kabupaten Blitar, Nomer klasnya —- 334.95982471

Koperasi ————————- 334 (Bagan/Skema DDC)

Kab. Blitar ———————- 95982471

2) Kota Pasuruan dalam angka, Nomer klasnya —- 315.95982482

Statistik ———————– 315 (Bagan/Skema DDC)

Kota Pasuruan ————— 95982482

 

F. Hal-hal yang Perlu Diperhatikan Dalam Mengklasifikasi Perpustakaan

Mengklasifikasi buku-buku perpustakaan sekolah bukan merupakan pekerjaan yang mudah. Pekerjaan ini menuntut keahlian dari guru pustakawan. Apabila mengklasifikasi buku-buku perpustakaan sekolah berdasarkan bentuk fisiknya, atau berdasarkan abjad judul bukunya, maka mengklasifikasi buku-buku perpustakaan sekolah tidak terlalu sulit, tetapi system klasifikasi yang dipergunakan untuk mengklasifikasi buku-buku perpustakaan sekolah adalah system klasifikasi berdasarkan subjeknya, maka pelaksanaanyaakan tampak lebih sulit.

Agar guru pustakawan tidak terlalu mengalami kesulitan di dalam mengklasifikasi buku-buku perpustakaan sekolah, sebaiknya memahami beberapa prinsip yang perlu diperhatikan. Sekedar sebagai pedoman, ada beberapa prinsip yang perlu diperhatikan di dalam mengklasifikasi buku-buku perpustakaan sekolah yang menggunakan system klasifikasi berdasarkan subjeknya antara lain sebagai berikut.

Ada beberapa prinsip yang perlu diperhatikan di dalam mengklasifikasi buku-buku perpustakaan sekolah yang menggunakan sistem klasifikasi berdasarkan subjeknya:

a)      Klasifikasilah buku-buku perpustakaan sekolah, pertama-tama berdasarkan subjeknya. Kemudian berdasarkan bentuk penyajiannya, atau bentuk karyanya.

b)      Khususnya buku-buku yang termasuk karya umum dan kesusastraan hendaknya lebih diutamakan pada bentuknya.

c)      Di dalam mengklasifikasi buku-buku perpustakaan sekolah itu pada subjek yang sangat spesifik.

d)     Klasifikasilah buku-buku perpustakaan sekolah itu pada subjek yang sangat spesifik.

e)      Apabila sebuah buku yang membahas dua atau tiga subjek, klasifikasilah buku tersebut pada subjek yang dominan.

f)       Apabila ada sebuah buku yang membahas dua subjek dengan pertimbangan subjek yang sama, maka klasifikasilah buku tersebut itu pada subjek yang paling banyak bermanfaat bagi https://www.acheterviagrafr24.com/achat-viagra-en-ligne-quebec/ pemakai perpustakaan sekolah.

g)      Di dalam mengklasifikasi buku-buku perpustakaan sekolah, hendaknya guru pustakawan mempertimbangkan keahlian pengarangnya.

h)      Apabila ada sebuah buku perpustakaan sekolah yang membahas dua subjek yang sama pertimbangannya dan merupakan bagian dari suatu subjek yang lebih luas, maka klasifikasikanlah buku tersebut pada subjek yang lebih luas.

i)        Apabila ada sebuah buku perpustakaan sekolah yang membahas tiga subjek atau lebih, tetapi tidak jelas subjek mana yang lebih diutamakan pengarangnya, dan merupakan bagian dari suatu subjek yang lebih luas, maka klasifikasilah buku tersebut itu pada subjek yang lebih luas.

 

G. Macam-macam Cara Pengklasifikasian

  1. Universal Decimal Classification (UDC)

             Klasifikasi UDC (Universal Decimal Classification).

     UDC sebenarnya merupakan perluasan dari klasifikasi DDC. Pertama kali diterbitkan pada 1905 dengan nama Classification Decimal yang dikembangkan oleh FID (Federation International Documentation). UDC pembentukan notasinya menggunakan satu angka atau lebih. Klasifikasi ini mempunyai tabel tambahan yang berfungsi untuk menyatakan adanya hubungan antar subyek satu dengan lainnya atau dengan aspek-aspek tertentu yang ada dalam pokok persoalan.

Simbol + pada UDC berfungsi untuk menggabungkan dua subyek.
Misal pertanian dan ekonomi adalah 63 + 33

Simbol : (tanda titik dua) menunjukan aspek dari subyek tersebut.
Misal politik ekonomi adalah 32 : 33

  1. Library of Congress Classification (LCC)

Klasifikasi ini mulai dikembangkan pada 1899 dan diterbitkan pertama kali pada 1901. Klasifikasi ini disusun dengan menggunakan huruf dan angka sebagai simbol atas dasar urutan abjad.

  1. Dewey Decimal Classification (DDC)

Salah satu sistem klasifikasi yang berdasarkan subjeknya, yang banyak digunakan di perpustakaan sekolah di seluruh dunia adalah sistem klasifikasi persepuluhan yang disusun oleh Marvil Dewey. Sistem ini dikenal dengan nama “Dewey Decimal Classification” yang biasa disingkat DDC.

Klasifikasi Dewey muncul pada sisi buku-buku koleksi perpustakaan. Klasifikasi dilakukan berdasarkan subjek, kecuali untuk karya umum dan fiksi. Kodenya ditulis atau dicetakkan ke sebuah stiker yang dilekatkan ke sisi buku atau koleksi perpustakaan tersebut. Bentuk kodenya harus lebih dari tiga digit; setelah digit ketiga akan ada sebuah tanda titik sebelum diteruskan angka berikutnya.

Contoh kode:

  • 330.94 = ekonomi Eropa, di mana 330 adalah kode untuk ekonomi dan 94 untuk Eropa

Ada sepuluh kelas utama dalam klasifikasi Dewey. Sepuluh kelas tersebut dibagi lagi kepada 10 bagian; yang lalu bisa dibagi lagi kepada 10 bagian.

Sepuluh kelas utama tersebut adalah:

Sistem Klasifikasi Persepuluhan Dewey ini disusun oleh Marvil Dewey pada tahun 1873. Susunan subjek pada sistem Klasifikasi Persepuluhan Dewey ini meliputi seluruh ilmu pengetahuan manusia.

Unsur-Unsur Pokok DDC

Menurut Hamakonda dan Tairas (1999: 2-3), sistem ini memiliki unsur-
unsur pokok antara lain:

  1. Sistematika pembagian ilmu pengetahuan yang dituangkan ke dalam
    suatu bagan yang lengkap dan dilandaskan pada beberapa prinsip dasar
    tertentu.
  2. Notasi, yang terdiri dari serangkaian simbol berupa angka, yang
    mewakili serangkaian istilah (yang mencerminkan subjek tertentu) yang
    terdapat pada bagan.
  3. Indeks relatif, yang terdiri dari sejumlah tajuk dengan perincian
    aspek-aspeknya yang disusun secara alfabetis, dan memberikan
    petunjuk berupa nomor kelas, yang memungkinkan orang mencari tajuk
    yang tercantum dalam indeks bagan.
  4. Tabel pembantu, yang berbentuk serangkaian notasi khusus, yang
    dipakai untuk menyatakan aspek-aspek tertentu yang selalu terdapat
    dalam beberapa subjek yang berbeda. Terdapat 7 tabel pembantu,
    yaitu:

i. Tabel 1 Subdivisi Standar

ii. Tabel 2 Wilayah

iii. Tabel 3 Subdivisi Kesusastraan

iv. Tabel 4 Subdivisi Bahasa

v. Tabel 5 Ras, Bangsa, Kelompok Etnis

vi. Tabel 6 Bahasa

vii. Tabel 7 tentang Orang/Pribadi

5.   Di samping itu, sistem klasifikasi harus menyediakan kelas untuk Karya umum, untuk menempatkan karya-karya yang begitu luas cakupannya, sehingga tidak dapat dimasukkan ke dalam salah satu kelas utama manapun. Sistem ini membagi ilmu ilmu pengetahuan ke dalam 10 kelas utama.

6. Masing-masing kelas utama dibagi lagi menjadi 10 divisi. Masing-masing divisi dibagi lagi menjadi 10 seksi. Sehingga terdapat 10 kelas utama, 100 divisi, dan 1000 seksi.

 

H. Cara Mengklasifikasi Buku

Langkah-langkah yang ditempuh pada system klasifikasi yang berdasarkan kegunaannya akan berbeda dengan langkah-langkah yang ditempuh pada system klasifikasi yang berdasarkan abjad nama pengarang. Begitu pula langkah-langkah yang ditempuh pada system klasifikasi yang berdasarkan bahasanya akan berbeda dengan langkah-langkah yang ditempuh pada system klasifikasi yang berdasarkan subjeknyadan sebagainya.

Langkah-langkah yang dapat ditempuh oleh guru pustakawan di dalam mengklasifikasi buku-buku perpustakaan sekolah adalah sebagai berikut:

  1. Menentukan system klasifikasi

Salah satu yang perlu diperhatikan oleh guru pustakawan adalah konsistensi di dalam penggunaan system klasifikasi. System klasifikasi yang digunakan untuk mengklasifikasi buku-buku perpustakaan sekolah harus konsiten.

  1. Menyiapkan bagan klasifikasi

Agar guru pustakawan dapat lebih lancer mengklasifikasi buku-buku perpustakaan sekolah, maka sebaiknya bagan klasifikasi persepuluhan dewey dituliskan pada kertas manila dan ditempelkan pada tembok diruang perpustakaan sekolah.

  1. Menyiapkan buku

Buku-buku perpustakaan sekolah yang akan diklasifikasi disiapkan dengan sebaik-baiknyadiatas meja. Buku-buku tersebut telah selesai dicatat atau diinventarisasikan di dalam buku inventaris atau buku induk. Buku-buku tersebut telah distempel dengan stempel sekolah sebagai tanda pengenal dan stempel inventaris.

  1. Menentukan subyek buku

Untuk menentukan subyek buku dapat dilakukan dengan cara menganalisis bagian-bagian buku, yaitu:

  •        Judul dan sub judul buku

Judul buku dan sub judul buku biasanya terdapat pada kulit buku dan halaman pertama setelah kulit buku. Judul buku dan sub judul buku ini menggambarkan isi atau persoalan yang dibahas didalam buku yang bersangkutan.

  •    Daftar isi

Daftar isi memuat rincian persoalan yang dibahas di dalam buku yang bersangkutan. Dengan melihat daftar isi, maka akan terbayang persoalan-persoalan yang dibahas pada setiap bab dan sub babnya sehingga guru pustakawan dapat memperoleh gambaran yang lebih jelas mengenai subjeknya.

  •      Kata pengantar

Pada kata pengantar seringkali pengarang menjelaskan latar belakang disusunnya buku tersebut, tujuan penyusunan, serta sistematika pembahasan. Oleh sebab itu melalui membaca atau menelaah kata pengantar atau prakata setiap buku, maka guru pustakawan dapat memperoleh gambaran mengenai subjek atau persoalan buku yang bersangkutan.

  • Isi sebagian atau keseluruhan

Pertama-tama dibaca sebagian saja misalnya pada halaman pendahuluan atau halaman pertama setiap bab. Apabila juga belum ditemukan subjeknya, maka bacalah secara keseluruhan dan halaman pertama ssampai dengan halaman terakhir.

  1. Menentukan nomor klasifikasi

Untuk menemukan nomor klasifikasi ,guru pustakawan bisa berpedoman kepada bagan klasifikasi sebagaimana telah dipersiapkan pada langkah kedua. Langkah pertama dan kedua yaitu menentukan system klasifikasi dan menyiapkan bagan klasifikasi hanya dilakukan pada saat pertama kali melakukan klasifikasi.

Nomor klasifikasi ditulis pada label buku atau “call number”.

 

 

 

 

KESIMPULAN

 

Pengertian pengklasifikasian buku dapat disimpulkan sebagai pengelompokkan buku berdasarkan jenis atau cirri-ciri buku tersebut sehingga dapat di bedakan dan berpisah dengan yang lainnya.

Pengklasifikasian buku secara umum berfungsi untuk mempermudah murid dan pustakawan untuk mencari dan menata buku-buku di perpustakaan.

Dalam mengklasifikasikan buku terdapat prinsip-prinsip agar guru pustakawan tidak terlalu mengalami kesulitan di dalam mengklasifikasi buku-buku perpustakaan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

KOLEKSI PERPUSTAKAAN

5 koleksi perpustakaan 2

 

 

A. Pengertian Koleksi Perpustakaan  

Koleksi adalah suatu istilah yang digunakan secara luas di dunia perpustakaan untuk menyatakan bahan pustaka apa saja yang harus diadakan di perpustakaan. Sebelumnya muncul istilah seleksi buku, buku dalam pengertian yang lebih luas yang mencakup monografi, majalah, bahan mikro dan jenis bahan pustaka lainnya.

Menurut ALA Glossary of Library and Information Science (1983) pengembangan koleksi merupakan sejumlah kegiatan yang berkaitan dengan penentuan dan koordinasi kebijakan seleksi, menilai kebutuhan pemakai, studi pemakaian koleksi, evaluasi koleksi, identifikasi kebutuhan koleksi, seleksi bahan pustaka, perencanaan kerjasama sumberdaya koleksi, pemeliharaan koleksi dan penyiangan koleksi perpustakaan.

Menurut buku Pedoman Pembinaan Koleksi dan Pengetahuan Literature (1998 : 2), ”Koleksi perpustakaan adalah semua bahan pustaka yang dikumpulkan, diolah, dan disimpan untuk disajikan kepada masyarakat guna memenuhi kebutuhan pengguna akan informasi”. Sedangkan menurut Ade Kohar (2003 : 6), “Koleksi perpustakaan adalah yang mencakup berbagai format bahan sesuai dengan perkembangan dan kebutuhan alternatif para pemakai perpustakaan terhadap media rekam informasi”.

Dari pernyataan di atas dapat disimpulkan bahwa koleksi perpustakaan adalah semua bahan pustaka yang ada sesuai dengan kebutuhan sivitas akademika dan dapat digunakan oleh para pengguna perpustakaan tersebut.

 

B. Jenis Koleksi Perpustakaan

Menurut Yulia (1993 : 3) ada empat jenis koleksi perpustakaan yaitu

1. Karya cetak

Karya cetak adalah hasil pemikiran manusia yang dituangkan dalam bentuk cetak, seperti :

  • Buku

Buku adalah bahan pustaka yang merupakan suatu kesatuan utuh dan yang paling utama terdapat dalam koleksi perpustakaan. Berdasarkan standar dari Unesco tebal buku paling sedikit 49 halaman tidak termasuk kulit maupun jaket buku. Diantaranya buku fiksi, buku teks, dan buku rujukan.

  • Terbitan berseri

Bahan pustaka yang direncanakan untuk diterbitkan terus dengan jangka waktu terbit tertentu. Yang termasuk dalam bahan pustaka ini adalah harian (surat kabar), majalah (mingguan bulanan dan lainnya), laporan yang terbit dalam jangka waktu tertentu, seperti laporan tahunan, tri wulanan, dan sebagainya.

2. Karya noncetak

Karya noncetak adalah hasil pemikiran manusia yang dituangkan tidak dalam bentuk cetak seperti buku atau majalah, melainkan dalam bentuk lain seperti rekaman suara, rekaman video, rekaman gambar dan sebagainya. Istilah lain yang dipakai untuk bahan pustaka acheter viagra ini adalah bahan non buku, ataupun bahan pandang dengar. Yang termasuk dalam jenis bahan pustaka ini adalah:

  • Rekaman suara

Yaitu bahan pustaka dalam bentuk pita kaset dan piringan hitam. Sebagai contoh untuk koleksi perpustakaan adalah buku pelajaran bahasa inggris yang dikombinasikan dengan pita kaset.

  • Gambar hidup dan rekaman video

Yang termasuk dalam bentuk ini adalah film dan kaset video. Kegunaannya selain bersifat rekreasi juga dipakai untuk pendidikan. Misalnya untuk pendidikan pemakai, dalam hal ini bagimana cara menggunakan perpustakaan.

3. Bahan Grafika

Ada dua tipe bahan grafika yaitu bahan pustaka yang dapat dilihat langsung (misalnya lukisan, bagan, foto, gambar, teknik dan sebagainya) dan yang harus dilihat dengan bantuan alat (misalnya selid, transparansi, dan filmstrip).

  • Bahan Kartografi Yang termasuk kedalam jenis ini adalah peta, atlas, bola dunia, foto udara, dan sebagainya.
  • Bentuk mikro adalah suatu istilah yang digunakan untuk menunjukkan semua bahan pustaka yang menggunakan media film dan tidak dapat dibaca dengan mata biasa melainkan harus memakai alat yang dinamakan microreader. Bahan pustaka ini digolongkan tersendiri, tidak dimasukkan bahan noncetak.

Hal ini disebabkan informasi yang tercakup didalamnya meliputi bahan tercetak seperti majalah, surat kabar, dan sebagainya. Ada tiga macam bentuk mikro yang sering menjadi koleksi perpustakaan yaitu :

  • Mikrofilm, bentuk mikro dalam gulungan film. Ada beberapa ukuran film yaitu 16 mm, dan 35 mm.
  • Mikrofis, bentuk mikro dalam lembaran film dengan ukuran 105 mm x 148 mm (standar) dan 75 mm x 125 mm.
  • Microopaque, bentuk mikro dimana informasinya dicetak kedalam kertas yang mengkilat tidak tembus cahaya. Ukuran sebesar mikrofis.

4. Karya dalam bentuk elektronik

Dengan adanya teknologi informasi, maka infornasi dapat dituangkan ke dalam media elektronik seperti pita magnetis dan cakram atau disc. Untuk membacanya diperlukan perangkat keras seperti computer, CD-ROM player, dan sebagainya.

 

C. Pengembangan Koleksi

Kegiatan pengembangan koleksi merupakan salah satu sarana yang penting dalam suatu perpustakaan perguruan tinggi. Kegiatan kerja pengembangan koleksi mencakup kegiatan memilih pustaka dan dilanjutkan dengan pengadaan pustaka. Kedua kegiatan memilih dan mengadakan pustaka harus dilaksanakan secara maksimal sehingga dapat mewujudkan tujuan dan fungsi dari perguruan tinggi yaitu untuk berusaha menyediakan informasi atau bahan pustaka yang dibutuhkan pengguna.

Menurut Ade Kohar (2003 : 6), “Pengembangan koleksi adalah sejumlah kegiatan yang berkaitan dengan penentuan dan koordinasi kebijakan seleksi, menilai kebutuhan pemakai, studi pemakaian koleksi, evaluasi koleksi, identifikasi kebutuhan koleksi, seleksi bahan pustaka, perencanaan kerjasama sumberdaya koleksi, pemeliharaan koleksi, dan penyiangan koleksi perpustakaan”. Sedangkan menurut buku Perpustakaan Perguruan tinggi (2004 : 25), “Pengembangan koleksi adalah kegiatan memilih dan mengadakan bahan perpustakaan sesuai dengan kebijakan yang ditetapkan oleh pustakawan bersama sama dengan sivitas akademika perguruan tingginya”.

 

a. Tujuan Pengembangan Koleksi

Menurut buku Perpustakaan Perguruan Tinggi (2004 : 26), “Tujuan pengembangan koleksi perpustakaan perlu dirumuskan dan disesuaikan dengan kebutuhan sivitas akademika di perguruan tinggi agar perpustakaan dapat secara terencana mengembangkan koleksinya”. Sedangkan menurut Sutarno NS (2006 :115), “Pengembangan koleksi bertujuan untuk menambah jumlah koleksi, meningkatkan dan jenis bahan bacaan, dan meningkatkan mutu koleksi sesuai dengan kebutuhan masyarakat pemakai”.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pengembangan koleksi adalah mengembangkan koleksi yang baik dan seimbang, dan sesuai dengan kebutuhan pengguna yang disusun berdasarkan standar koleksi perpustakaan dan kajian kepustakaan sehingga dapat memenuhi kebutuhan pengguna sivitas akademika.

 

b. Manfaat Pengembangan Koleksi

Menurut Sutarno NS (2006 : 118), manfaat pengembangan koleksi antara lain :

  1. Membantu menetapkan metode untuk menilai bahan pustaka yang harus dibeli.
  2. Membantu merencanakan bentuk-bentuk kerja sama dengan perpustakaan lain, seperti pinjam antar perpustakaan, kerjasama dalam pengadaan, dan sebagainya.
  3. Membantu identifikasi bahan pustaka yang perlu dipindahkan ke gudang atau dikeluarkan dari koleksi.
  4. Membantu dalam merencanakan anggaran jangka panjang dengan menetapkan prioritas-prioritas dan garis besar sasaran pengembangan.
  5. Membantu memilih cara terbaik untuk pengadaan.

 

c. Kegiatan Pengembangan Koleksi

Pada umumnya, pengembangan koleksi meliputi rangkaian kegiatan sebagai berikut:

  1. Menentukan kebijakan umum pengembangan koleksi berdasarkan identifikasi kebutuhan pengguna sesuai dengan asas tersebut di atas. Kebijakan ini disusun bersama oleh sebuah tim yang dibentuk dengan keputusan rektor dan anggotanya terdiri atas uns perpustakaan, fakultas atau jurusan, dan unit lain.
  2. Menentukan kewenangan, tugas, dan tanggung jawab semua unsur yang terlibat dalam pengembangan koleksi.
  3. Mengidentifikasi kebutuhan akan informasi dari semua anggota sivitas akademika yang dilayani.

Hal ini dapat dilakukan dengan cara, antara lain:

¯  Mempelajari kurikulum setiap program studi.

¯  Memberi kesempatan sivitas akademika untuk memberikan usulan melalui berbagai media komunikasi.

¯  Menyediakan formulir usulan pengaclaan buku, baik secara tercetak maupun tidak tercetak.

¯  Menyigi pengguna secara berkala untuk menilai keberhasilan perpustakaan dalam melayani pengguna.

¯  Memilih dan mengadakan bahan perpustakaan lewat pembelian, tukar-menukar, hadiah. dan penerbitan sendiri menurut prosedur yang tertib.

¯  Merawat bahan perpustakaan.

¯  Menyiangi koleksi.

¯  Mengevaluasi koleksi. (Buku Mengevaluasi Koleksi Perpustakaan, 1994 : 29)

Untuk melaksanakan semua kegiatan tersebut, diperlukan anggaran yang memadai, karyawan yang cakap dan berdedikasi, struktur organisasi yang mantap, dan alat bantu pemilihan bahan perpustakaan yang relevan.

 

d. Pemilihan Bahan Pustaka

Pemilihan bahan perpustakaan merupakan usaha bersama antara staf pengajar dan pustakawan. Usaha ini bisa dituangkan dalam bentuk kepanitiaan. Walaupun setiap staf pengajar berhak memilih dan mengajukan permintaan bahan perpustakaan, hal tersebut perlu mendapat persetujuan dari ketua jurusan atau yang mewakilinya untuk urusan perpustakaan. Pustakawan dapat pula mengajukan usul pengadaan bahan perpustakaan tertentu kepada kepada perpustakaan, terutama bahan perpustakaan yang kurang atau belum mendapat perhatian dari staf pengajar.

 

Hal ini dimaksudkan agar diperoleh koleksi yang memuat informasi yang seimbang. Kepala perpustakaan mempunyai wewenang terakhir untuk memutuskan diadakan atau tidaknya bahan perpustakaan tertentu. Keputusan ini dibuat setelah mempertimbangkan berbagai macam aspek seperti biaya dan kriteria pemilihan.Menurut buku Perpustakaan Perguruan Tinggi (2004 : 25), ada beberapa asas yang perlu dipertimbangkan dalam pemilihan bahan perpustakaan sebagai berikut:

  • Wibawa penulis buku dan pentingnya buku tersebut untuk bidang studi tertentu.
  • Isi bahan perpustakaan cukup bermakna bagi pengembangan bidang studi.
  • Bahasan bahan perpustakaan memuat pandangan yang seimbang, khususnya buku yang memuat masalah yang kontroversial.
  • Kualitas isi bahan perpustakaan.
  • Kepantasan harga.
  • Bahasa
  • Terbitan terbaru memperoleh prioritas di atas terbitan lama. Bahan perpustakaan lama bisa diadakan sejauh tersedia dananya, dan bisa mengisi kekurangan koleksi bidang studi tertentu.
  • Bahan perpustakaan renik, misalnya mikrofis, jangan dirangkapi dengan bentuk buku kecuali jika ada alasan tertentu yang bisa diterima.
  • Setiap bahan perpustakaan rujukan, misalnya ensiklopedi, cukup diadakan satu perangkat kecuali jika ada alasan tertentu yang bisa diterima.
  • Buku ajar diadakan dalam jumlah eksemplar terbatas. Mahasiswa hendaknya melengkapi diri dengan buku ajar yang diperlukannya.
  • Media bahan perpustakaan dipilih sesuai dengan kebutuhan pengguna, jika lembaga induk jugs menyelenggarakan pembelajaran jarak jauh (distance learning) maka jumlah bahan perpustakaan dalam media elektronik/digital perlu diperhatikan.

 

 

e. Alat Bantu Pemilihan

Untuk melakukan seleksi ada sarana yang dapat membantu dalam proses tersebut yaitu alat bantu seleksi. Menurut Yulia (1993 : 30) ada dua jenis alat bantu seleksi yaitu sebagai berikut :

  • Alat bantu seleksi

Yaitu alat yang dapat membantu pustakawan untuk memutuskan apakah bahan pustaka diseleksi. Karena informasi yang diberikan dalam alat bantu tersebut tidak terbatas pada data bibliografis, tapi juga mencakup keterangan lain yang diperlukan untuk mengambil keputusan. Contoh alat bantu seleksi yaitu:

o   Majalah, tinjauan buku/ bahan pustaka lain.

o   Daftar judul untuk jenis perpustakaan tertentu.

o   Indeks, misalnya books review index dan sebagainya

  • Alat identifikasi dan verifikasi

Yaitu alat bantu seleksi yang hanya mencantumkan data bibliografis bahan pustaka (kadang-kadang dengan harganya) alat seperti ini dipakai untuk mengetahuijudul yang telah terbit atau yang akan diterbitkan dala bidang subjek tertentu. Alat bantu ini dipakai untuk mengetahui verifikasi apakah judul atau nama pengarang tepat, berapa harganya, terbitan berseri atau bahan pandang dengar, masih ada di pasaran atau tidak dan sebaginya.

Contoh alat bantu identifikasi dan verifikasi adalah:

  • Katalog penerbit
  •  Berbagai jenis bibliografi, misalnya bibliografi umum, subjek, nasional, dan sebagainya.

 

f. Prinsip Pemilihan

Persoalan yang sangat penting dalam seleksi ialah menetapkan dasar pemikiran atau strating point untuk kegiatan ini. Perpustakaan akan menentukan pilihan apakah mengutamakan kualitas( nilai intrinsik bahan pustaka ) ataukah mengutamakan penggunaan ( bahan pustaka yamg akan digunakan atas permintaan pemakai ). Dalam hal ini peran seorang pustakawan adalah sangat besar, karena menyeleksi suatu bahan pustaka adalah tidak gampang, butuh keahlian dan pengetahuan yang tidak sedikit.

Menurut Yulia (1993 : 27) prinsip dalam pemilihan bahan pustaka adalah sebagai berkut :

  • Pandangan Tradisional

Prinsip ini mengutamakan nilai ntrinsic untuk bahan yang akan dikoleksi perpustakaan. Titik tolak yang mendasari prinsip ini adalah pemahaman bahwa perpustakaan merupakan tempat untuk melestarikan warisan budaya dan sarana untuk mencerdaskan masyarakat. Apabila dinilai tidak bermutu, bahan pustaka tidak akan dipilih untuk diadakan.

  • Pandangan Liberal

Prioritas pemilihan didasarkan atas popularitas. Artinya, kualitas tetap diperhatikan, tetapin dengan lebih mengutamakan pemilihan karena disukai dan banyak dibaca atau mengikuti selera masyarakat pemakai.

  •  Pandangan Pluralistik

Prinsip yang dianut pandangan ini berusaha mencari keselarasan dan keseimbangan diantara kedua pandangan tersebut, baik tradisional maupun liberal.

 

D. Pengadaan Koleksi

Secara sederhana, pengadaan koleksi dapat dilakukan melalui pembelian, tukar-menukar, hadiah, titipan atau dengan cara menerbitkan sendiri. Bahan pustaka yang akan diadakan mencakup :

  1. Karya cetak atau karya grafis, seperti buku, majalah, surat kabar, disertasi, dan laporan.
  2. Karya non cetak atau karya rekam, seperti piringan hitam, kaset, dan video.
  3. Bentuk mikro, seperti microfilm dan mikrofis.
  4. Karya elektronik, seperti disket, pita magnetic, serta selongsong elektronik yang diasosiasikan dengan komputer.(Meidi Abdul Akbar, 2009 : 4-online)

Pengadaan atau akuisisi dilakukan oleh bagian pengadaan. Bagian ini tidak semata-mata bertanggung jawab terhadap pengadaan koleksi saja, tetapi juga bertanggung jawab atas hal-hal berikut :

  1. Pengadaan atau pengembangan koleksi.
  2. Pemecahan persoalan-persoalan yang muncul dalam pemesanan bahan pustaka.
  3. Pembuatan rencana pemilihan bahan pustaka yang terus menerus.
  4. Pemeriksaan dan mengikuti terus-menerus penerbitan-penerbitan bibliografi.
  5. Berusaha memperoleh bahan-bahan reproduksi apabila bahan aslinya sudah tidak diperoleh (buku-buku out of print), tetapi sangat diperlukan pemakai.
  6. Mengadakan hubungan dengan para pedagang atau penyalur buku.
  7. Mengawasi penerimaan hadiah dan tukar-menukar bahan pustaka

 

Menurut Yulia (1993 : 43-60) perpustakaan dalam memperoleh bahan pustaka dapat dilakukan dengan cara-cara sebagai berikut :

1. Pembelian

Pemesanan langsung dapat dilakukan pada penerbit ataupun toko buku. Penerbit Indonesia pada umumnya melayani permintaan perpustakaan. Akan tetapi, penerbit asing umumnya tidak melayani perpustakaan. Mereka (penerbit asing) hanya melayani pembelian dari took buku ataupun penjaja (vendor) sehingga perpustakaan Indonesia harus membeli melalui toko buku. Proses pemesanan dapat melalui sebagai berikut:

a. Toko Buku

Pembelian buku secara langsung pada toko buku banyak dilakukan oleh perpustakaan yang mempunyai jumlah dana pembelian relatif kecil. Kekurangan yang sering ditemui dalam pembelian bukuyang dilakukan melalui toko buku adalah bahwa tidak semua subjek atau judul buku yang dibutuhkan perpustakaan tersedia di toko buku. Di samping itu, tidak semua pesanan buku dari satu perpustakaan dapat terpenuhi dari satu toko buku saja, karena toko buku cenderung menerima pesanan dalam bentuk judul terbatas namun banyak eksemplar daripada banyak judul dengan pemesanan rata-rata satu eksemplar per judul. Sedangkan keuntungan dan kemudahannya adalah kita dapat melakukan efesiensi atau penghematan dari segi biaya, waktu, dan tenaga.

Cara pemesanan bahan pustaka melalui pembelian yaitu :

  • Setelah diadakan pemilihan petugas pengadaan mempersiapkan kartu pesanan yang dibuat dengan jumlah rangkap (diketik dengan Karbon), misalnya dibuat dalam rangkap tiga dimana dua rangkap disusun dalam daftar pesan dan satu rangkap disisipkan dalam catalog.
  • Buat daftar pesanan yang memuat judul-judul pesanan yang diambil dari kartu pemesanan, disusun menurut abjad pengarang. Jika dana terbatas tentukan prioritasnya.
  • Tentukan toko buku terlengkap yang ada dikota dimana perpustakaan berada.
  • Daftar pesanan yang telah dibuat diserahkan pada petugas toko untuk mendapatkan pelayanan.
  • Lakukan pembayaran dengan uang tunai atau chek dan minta bukti pembayaran beserta faktur pembeliannya.
  • Beritahu pada pemesan, bahwa buku-buku yang dipesan telah datang.
  • Untuk judul-judul buku yang tidak dapat dibeli dari toko tersebut, perlu dicarikan ke toko lain.

 

b. Penerbit

Secara umum defenisi penerbit adalah suatu perusahaan yang mengambil naskah pengarang, mengedit, dan memprosesnya dalam bentuk buku. Pembelian buku secara langsung kepada penerbit, biasanya hanya dilakukan jika judul-judul yang kita butuhkan benar-benar dikeluarkan oleh penerbit tersebut.

Untuk mengetahui hal ini, perpustakaan dapat memanfaatkan catalog penerbit yang dikeluarkan penerbit sehingga bahan pustaka yang akan diadakan dapat dipesan langsung pada penerbitnya. Cara pemesanan melalui penerbit yaitu:

  • Tentukan penerbit yang dapat melayani pesanan buku perpustakaan anda.
  • Buatlah daftar pesanan buku-buku yang dikelompokkan menurut penerbitnya.
  • Kirimkan daftar pesanan kepada penerbit yang dituju untuk diperiksa ketersediaan buku-buku dan harga satuannya.
  • Setelah diterima periksa dana yang tersedia. Lakukan pembayaran langsung atau melalui bank.Bukti pembayaran melalui bank harus dikirimkan ke penerbit disertai dengan surat pengantar.
  • Fotokopi dari bukti pembayaran melalui bank harus disimpan sebagai bukti pembayaran.

 

c. Agen Buku

Selain pembelian ke toko buku dan penerbit, perpustakaan juga dapat membeli buku melalui agen buku yang biasa disebut dengan jobber atau vendor. Agen buku ini berperan sebagai mediator antara perpustakaan dan penerbit, terutama untuk pengadaan bahan pustaka terbitan luar negeri. Agen buku memperoleh buku-buku dari penerbit dengan potongan harga dan menyimpannya dalam gudang besar kemudian menjualnya kepada toko buku dan perpustakaan.

Pustakawan lebih menyukai pembelian melalui agen buku. Hal ini disebabkan beberapa alasan antara lain:

  • Dengan melalui agen buku, semua judul-judul yang berasal dari berbagai penerbit hanya melalui satu jalur yaitu agen buku.
  • Agen buku tidak hanya menerima pesanan dari perpustakaan saja, tetapi lebih dari satu mereka juga menindak lanjuti dengan membantu memecahkan masalah yang mungkin timbul dalam transaksi pesan memesan.

 

2. Pertukaran.

Tujuan Tukar-menukar

Pertukaran bahan pustaka antar perpustakaan mempunyai beberapa tujuan, yaitu:

  • Untuk memperoleh bahan pustaka tertentu yang tidak dapat dibeli di toko buku, penerbit, agen, atau tidak dapat diperoleh karena alasan lain sehingga hanya bias didapatkan melalui pertukaran.
  • Melalui pertukaran akan memberi jalan bagi perpustakaan untuk memanfaatkan bahan pustaka yang duplikasi.
  • Dengan pertukaran akan memberi peluang untuk mengembangkan kerjasama yang baik antar perpustakaan.

Teknik tukar-menukar

Cara tukar-menukar bahan pustaka dapat ditempuh dengan cara sebagai berikut :

  • Perpustakaan yang mempunyai bahan pustaka lebih (duplikat) atau yang sudah tidak diperlukan lagi disusun dalam bentuk daftar, untuk ditawarkan. Sebelum ditawarkan setiap bahan pustaka harus diproses terlebih dahulu sesuai peraturan yang berlaku untuk dinyatakan dapat dikeluarkan dari inventaris perpustakaan yang bersangkutan. Dan daftar penawaran disusun menurut subjek kemudian menurut pengarang dan judul. Sedang daftar majalah disusun menurut judul, tahun dan nomor terbitan.
  • Perpustakaan mengirimkan penawaran kepada perpustakaanlain yang diperkirakan memiliki koleksi yang sesuai dengan bahan pustaka yang ditawarkan dan telah mempunyai hubungan kerjasama.
  • Perpustakaan yang menerima penawaran, mempelajari tawaran yang diterima beserta persyaratannya dan membandingkan dengan kebutuhan dan kebijakan pengembangan koleksi perpustakaan itu sendiri. Kemudian memilih bahan penukar yang sesuai dengan bobotnya dan menyusunnya dalam daftar bahan pustaka yang akan ditawarkan sebagai bahan penukar.
  • Perpustakaan yang menerima tawaran pertukaran dari perpustakaan lain, memilih bahan pustaka yang sesuai dan memilih bahan penukar yang sesuai bobotnya serta menyusunnya dalam daftar bahan pustaka yang akan ditawarkan sebagai bahan penukar.
  • Kemudian perpustakaan yang telah menerima tanggapan atas penawarannya, melakukan penilaian keseimbangan bahan pertukaran tentang subyek dan bobotnya.
  • Apabila kedua perpustakaan telah sepakat, maka tukar-menukar dapat dilaksanakan.
  • Setelah menerima bahan pertukaran, masing-masing perpustakaan mengolahnya sesuai dengan prosedur penerimaan dan inventarisasi.

 

3. Hadiah

Koleksi bahan pustaka yang diperoleh dari hadiah/sumbangan sangat penting untuk membangun koleksi perpustakaan. Boleh jadi perpustakaan akan memperoleh keuntungan yang besar dari koleksi hadiah yang diterima karena perpustakaan tersebut dapat menghemat biaya pembelian. Ada dua cara dalam pengadaan pustaka melalui hadiah yaitu:

a. Hadiah atas permintaan

  • Mempersiapkan daftar donator yang akan diminta sumbangannya.
  • Alamat dapat dicari pada direktori, bulletin, laporan lembaga dan seterusnya.
  • Perpustakaan menyusun daftar bahan pustaka yang akan diajukan pihak donator didalam maupun luar negeri.
  • Daftar permohonan dikirimkan kepada alamat yang dituju disertai surat pengantar.
  • Apabila pihak donator telah mengirimkannya petugas memeriksa kiriman tersebut dan dicocokkan dengan surat pengantarnya dan mengirimkan ucapan terima kasih.
  • Selanjutnya bahan diproses seperti biasa yaitu di inventarisasi dan seterusnya.

b. Hadiah tidak atas permintaan

  • Bahan pustaka yang diterima dicocokkan dengan surat pengantar.
  • Perpustakaan menulis surat ucapan terima kasih.
  • Bahan pustaka diterima ditelusuri dulu apakah subjeknya sesuai dengan tujuan perpustakaan, dan apakah tidak duplikat. Jika bahan pustaka benar-benar telah sesuai dapat segera diproses.
  • Jika bahan pustaka tidak sesuai, disisihkan sebagai bahan pertukaran atau dihadiahkan kepada orang lain.

 

c. Titipan

Pengadaan bahan pustaka dengan cara titipan merupakan koleksi yang berasal dari suatu instansi/lembaga pemerintahan yang ingin menitipkan suatu koleksi kepada suatu pepustakaan.

Penitipan bahan pustaka ini dapat dilakukan apabila bahan pustaka yang ingin dititipkan pada suatu perpustakaan oleh instansi/lembaga pemerintahan belum ada dalam daftar koleksi dan telah disepakati oleh pihak perpustakaan tersebut.

 

d. Terbitan Sendiri

Pengadaan bahan pustaka melalui terbitan sendiri merupakan koleksi yang berasal dari terbitan perpustakaan itu sendiri. Bahan pustaka yang diterbitkan oleh perpustakaan tersebut harus sesuai dengan kebutuhan pengguna perpustakaan tersebut.

 

 

E. Koleksi dan Pengolahan Bahan Pustaka

Koleksi

Koleksi perpustakaan merupakan salah satu faktor utama dalam mendirikan suatu perpustakaan, Koleksi atau bahan pustaka ada bermacam-macam, hal ini tergantung dari mana kita meninjaunya. Jenis-jenis koleksi dapat ditinjau dari bentuk fisiknya dan dari isinya.

1. Ditinjau dari bentuk fisiknya

  • Koleksi berupa buku, contohnya buku Bahasa Indonesia, buku tentang ilmu pengetahuan, dan buku tentang psikologi.
  • Koleksi bukan buku, contohnya peta, globe, dan piringan hitam.

2. Ditinjau dari isinya

  • Koleksi fiksi, contohnya cerpen, novel, dan cerita anak-anak.
  • Koleksi non-fiksi, contohnya kamus, buku-buku referensi, biografi, ensiklopedi, majalah, dan surat kabar.

Koleksi yang perlu diusahakan secara bertahap oleh guru pustakawan khusus untuk perpustakaan-perpustakaan sekolah di Indonesia dapat dirinci sebagai berikut :

a. Buku-buku Referensi

1. Kamus

Misalnya :

1)      Kamus Umum Bahasa Indonesia

oleh : W.J.S. Poerwadarminta

2)      Kamus Lengkap Inggris-Indonesia

oleh :   Prof. Drs. S. Wojowasito

Drs. Tito Wasito W.

3)      Kamus Populer

oleh : Habeys

4)      Kamus Ungkapan Bahasa Indonesia

oleh : J. S. Bardu

5)      Kamus Mini kata-kata Asing

oleh : Kridalaksana

6)      Kamus Jerman Indonesia

oleh : Aetius

 

2. Ensiklopedia

Misalnya :

  • Ensiklopedi Populer Remaja

oleh : Yayasan Cipta Loka Caraka

  • Ensiklopedi Umum
  • Ensiklopedi Indonesia

 

3. Biografi

Misalnya :

  • Biografi Abu Bakar Siddiq
  • Biografi H. Agus Salim
  • Biografi Moh. Hatta
  • Biografi K. H. Dewantoro
  • Biografi Hamka

 

4.Almanak

Misalnya :

  • Almanak Dewisri
  • Almanak Pembangunan
  • Almanak Negara RI
  • Almanak Pers Indonesia
  • Almanak Pertanian

 

b. Buku-buku Ilmu Pengetahuan

  • Buku-buku yang dihubungkan dengan agama
  • Buku-buku yang digabungkan dengan kewarganwgaraan
  • Buku-buku yang berkaitan dengan pertanian
  • Buku-buku yang berkaitan dengan peternakan
  • Buku-buku tentang kehutanan
  • Buku-buku tentang perikanan
  • Buku-buku dengan pers dan komunikasi
  • Buku-buku tentang ilmu pengetahuan dan teknologi
  • Buku-buku tentang sarana trasportasi
  • Buku-buku tentang kewiraswastaan
  • Buku-buku tentang seni
  • Buku-buku tentang kesehatan
  • Buku-buku tentang lingkungan hidup
  • Buku-buku tentang surat menyurat
  • Buku-buku tentang koperasi
  • Buku-buku sejarah Indonesia dan dunia
  • Buku-buku sastra
  • Buku-buku lain yang sekiranya perlu

c. Buku-buku ceritera

Misalnya :

Tentang Delapan Orang

oleh : Satyagraha Hoerip

Orang-orang Teladan

oleh : Herutjahyo

Widruri Gadis Berduri

Warisan Nenek Moyang (kumpulan cerpen)

oleh : Kussunaryo dkk.

Berani Menembus Badai

oleh : HP. Nasuion

 

d. Surat Kabar

Misalnya :

  1. Kompas
  2. Suara Karya
  3. Jawa Post
  4. Suara Indonesia
  5. Simponi

 

e. Majalah

Misalnya :

  1. Panji Masyarakat
  2. Gema (media komunikasi kependidikan dan keluarga berencana) BKKN Jawa Timur
  3. Majalah Kesehatan

diterbitkan Oleh Deprtement Kesehaan RI

4. Kesra

diterbitkan Oleh Departemen Penerangan RI

 

f. Klipping

Misalnya :

  1. Klipping tentang kepemudaan
  2. Klipping tentang kesenian
  3. Klipping tentang keolahragaan
  4. Klipping tentang perekonomian
  5. Klipping tentang kebudayaan

 

g. Alat Peraga

Misalnya :

  1. Globe
  2. Peta
  3. Gambar-gambar
  4. Model-model

 

h. Bahan Pandang Dengar atau Audio Visual

Misalnya :

  1. Radio
  2. Televisi
  3. Film Slide Projector
  4. Filmstrip Projector
  5. Video Tipe Recorder
  6. Overhead Projector

 

 

Pengolahan Bahan Pustaka

Pengolahan bahan pustaka adalah kegiatan yang dilaksanakan setelah bahan pustaka tersebut selesai diproses oleh tim pengadaan atau penerimaan, adapun uraian kerja pengolahanbahanpustaka di perpustakaanadalah sebagai berikut:
Registrasibahanpustakameliputi:

  • Mengelompokkan jenis bahan pustaka (buku teks, majalah, jurnal, bulletin, prosiding dan laporan penelitian)
  • Pencatatan indentitas buku ke dalam buku induk
  • Indentitas bahan pustaka dengan stempel.
  • Penomoran bahan pustaka berdasarkan judul dan jumlah eksemplar.
    Penomoran untuk bahan pustaka dengan judul yang sama paling banyak 2 eksemplar,dengan alasan untuk efisiensi tempat dan tenaga.

 

Pengolahan bahan pustaka meliputi beberapa hal :

  • Pengolahan bahan perpustakaan merupakan bagian dari manajemen perpustakaan. Kegiatan pengolahan bahan perpustakaan meliputi inventarisasi koleksi, katalogisasi, klasifikasi dan penyiapan fisik koleksi.
  • Setiap bahan perpustakaan memiliki data berkaitan dengan bentuk fisik dan isi
  • Data tersebut dicatat sebagai wakil dokumen.
  • Tujuannya untuk memudahkan petugas danpemakai perpustakaan menemukan kembalidokumen tersebut dalam koleksiperpustakaan
  • Pengolahan data fisik dan isi bahanperpustakaan tersebut dikenal dengan namakatalogisasi dan klasifikasi.
  • Untuk melakukan kegiatan ini diperlukanperaturan atau pedoman agar terdapatkeseragaman dan konsistensi dalampengolahan bahan perpustakaan

 

 

KESIMPULAN

Koleksi perpustakaan adalah semua bahan pustaka yang ada sesuai dengan kebutuhan sivitas akademika dan dapat digunakan oleh para pengguna perpustakaan tersebut.

Karya cetak adalah hasil pemikiran manusia yang dituangkan dalam bentuk cetak.

Karya noncetak adalah hasil pemikiran manusia yang dituangkan tidak dalam bentuk cetak seperti buku atau majalah, melainkan dalam bentuk lain seperti rekaman suara, rekaman video, rekaman gambar dan sebagainya.

Pengolahan bahan pustaka di Perpustakaan merupakan salah satu kegiatan Perpustakaan untuk menjamin koleksi dapat ditemukan kembali dengan cepat dan efisien.Pengolahan bahan perpustakaan mengikuti prosedur dan alur kerja yang telah ada, sehingga pekerjaan pengolahan bahan perpustakaan dapat dilakukan secara.

PERPUSTAKAAN SEKOLAH

2 Perpustakaan sekolah

PERPUSTAKAAN SEKOLAH

 Pengertian Perpustakaan Sekolah

  1. Menurut Supriyadi, perpustakaan sekolah adalah ” perpustakaan yang diselenggarakan di sekolah guna menunjang program belajar mengajar di lembaga pendidikan formal tingkat sekolah baik dasar maupun sekolah menengah, baik sekolah umum maupun sekolah Lanjutan ”. ( Supriyadi, 1982 ; 1).
  2. Menurut CARTER V. GOOD definisi perpustakaan sekolah adalah perpustakaan sekolah merupakan koleksi yang diorganisasi di dalam suatu ruang agar dapat digunakan oleh murid-murid dan guru-guru, yang penyelenggaraannya diperlukan seorang pustakawan yang diambil dari seorang guru Ia menjelaskan sebagai berikut :
    “ An organized collection of housed in a school for the use of pupils and teachers and in charge of librarian of a teacher.” ( Carter V. Good, 1945 ; 241 )
  3. Sedangkan Ibrahim Bafadal dalam bukunya Pengelolaan perpustakaan sekolah, perpustakaan sekolah merupakan suatu unit kerja dari satu badan atau lembaga tertentu yang mengolah bahan-bahan pustaka, baik berupa buku-buku maupun bukan yang diatur sistematis menurut aturan tertentu sehingga dapat dipergunakan sebagai sumber informasi oleh setiap pemakainya.

Dengan demikian pengertian perpuastakaan sekolah adalah suatu unit kerja yang mengkoleksi bahan-bahan pustaka yang berisi berbagai sumber informasi yang berupa buku – buku ilmu pengetahuan atau yang lainnya sebagai sumber belajar warga sekolah yang disusun rapi, ditata rapi, teratur menurut sistem tertentu, yang dikelola oleh suatu badan penyelenggara pendidikan atau lembaga pemerintah maupun sekolah, yang ada dilingkungan sekolah, guna mendukung aktivitas dan tercapainya tujuan pendidikan secara optimal.
Perpustakaan sekolah bisa juga diartikan sebagai :

  • Kumpulan berbagai macam buku ilmu pengetahuan sebagai sumber belajar bagi semua warga sekolah.
  • Tempat warga sekolah mencari berbagai macam informasi untuk melengkapi, memperjelas, untuk mengingatkan kembali, memperkaya ilmu pengetahun dan wawasannya.
  • Merupakan salah satu bentuk komponen penting yang mutlak ada di sekolah sebagai penunjang pelaksanaan pendidikan di sekolah.
    Yang dimaksud dengan warga sekolah disini adalah siswa, guru, staf / karyawan sekolah yang lain.

Berdasarkan beberapa uraian tersebut, maka definisi perpustakaan sekolah adalah unit kerja suatu sekolah yang mengelola kumpulan bahan pustaka, baik yang berupa buku-buku maupun bukan buku yang diatur secara sistematis menurut sistem tertentu di dalam suatu ruang sehingga dapat digunakan oleh murid, guru dan karyawan sekolah lainnya dalam proses belajar mengajar.
Dasar Hukum Perpustakaan

  • Penjelasan Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional RI Nomor 2 tahun 1989 pasal 35 yang mengharuskan acheter viagra setiap satuan pendidikan baik yang diselenggarakan oleh pemerintah maupun masyarakat untuk menyediakan sumber belajar yang paling penting adalah perpustakaan.
  • Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 tahun 2003, tentang Sistem Pendidikan Nasional ( Sisdiknas ) pasal 45, ayat 1 disebutkan bahwa setiap pendidikan formal dan nonformal menyediakan sarana dan prasarana yang memenuhi keperluan pendidikan .
  • Peraturan Pemerintah No. 28 tahun 1990 tentang Pendidikan Dasar pasal 9 ayat 1 menegaskan ” Pengadaan, pendayagunaan, dan pengembangan tenaga kependidikan, kurikulum, buku pelajaran, dan sarana pendidikan yang diselenggarakan oleh pemerintah adalah tanggung jawab menteri.”
  • Surat Keputusan Direktur Pembinaan Taman Kanak-kanak dan Sekolah Dasar Nomor 069a/C2/SK/2006 tanggal 27 Januari 2006 tentang Pengadaan sarana sekolah dan perpustakaan.
  • Peraturan Mentri Pendidikan Nasional, tanggal 21 Juli 2004 pasal 10 ayat 2 dan 3 tentang pengadaan buku perpustakaan sekolah bisa dilakukan oleh Pemerintah Daerah. Pemerintah, Pemerintah Daerah dan masyarakat membantu pengadaan buku pelajaran kepada satuan pendidikan dalam bentuk hibah uang / subsidi.

 

Tujuan Perpustakaan Sekolah

  1. Tujuan Umum.
    Penyelenggaraan perpustakaan sekolah bukan hanya untuk mengumpulkan dan menyimpan bahan-bahan pustaka, tetapi dengan adanya penyelenggaraan perpustakaan sekolah di harapkan dapat membantu murid-murid dan guru menyelesaikan tugas-tugas dalam proses belajar mengajar. Oleh sebab itu segala bahan pustaka yang dimiliki perpustakaan sekolah harus dapat menunjang proses belajar mengajar, agar dapat menunjang proses belajar mengajar maka dalam pengadaan buku pustaka hendaknya mempertimbangkan kurikulum sekolah. Selera para pembaca yang dalam hal ini adalah murid-murid.
  2. Tujuan Khusus.
  • Mengembangkan minat, kemampuan dan kebiasaan membaca
    khususnya serta mendayagunakan budaya tulisan dalam sektor
    kehidupan.
  • Mengembangkan minat untuk mencari dan mengelolah serta
    memanfaatkan informasi.
  • Mendidik murid agar dapat memelihara dan memanfaatkan bahan
    bacaan secara tepat dan berhasil guna.
  • Meletakkan dasar-dasar kearah belajar mandiri.
  • Memupuk minat dan bakat.
  • Mengembangkan kemampuan untuk memecahkan masalahmasalah
    yang dihadapi dalam kehidupan atas tanggung jawab dan
    usaha sendiri.

Dengan demikian jelas bahwa tujuan diselenggarakan perpustakan bukan sekedar menyimpan dan mengumpulkan bahan pustaka akan tetapi perpustakaan diharapkan bagi siswa mampu mengembangkan daya pikirnya dan hasil membaca yang diperoleh
dari bahan pustaka yang ada di perpustakaan.

 

Manfaat Perpustakaan Sekolah

Perpustakaan sekolah tampak bermanfaat apabila benar-benar memperlancar pencapaian tujuan proses belajar mengajar di sekolah. Indikasi manfaat tersebut tidak hanya berupa tinginya prestasi murid-murid, tetapi lebih jauh lagi, antar lain adalah murid-murid mampu mencari, menemukan, menyaring dan menilai informasi, murid-murid terbiasa belajar mandiri, murid-murid terlatih kearah tanggung jawab, murid-murid selalu mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, dan sebagainya.

Secara terperinci, manfaat perpustakaan sekolah, baik yang diselenggarakan di sekolah dasar, maupun di sekolah menengah adalah sebagai berikut:

  1. Perpustakaan sekolah dapat menimbulkan kecintaan murid-murid tehadap membaca.
  2. Perpustakaan sekolah dapat memperkaya pengalaman belajar murid-murid.
  3. Perpustakaan sekolah dapat menambah kebiasaan belajar mandiri yang akhirnya murid-murid mampu belajar mandiri
  4. Perpustakaan sekolah dapat mempercepat proses penguasaan teknik membaca
  5. Perpustakaan sekolah dapat membantu perkembangan kecakapan berbahasa
  6. Perpustakaan sekolah harus dapat melatih murid-murid kearah tanggung jawab
  7. Perpustakaan sekolah harus dapat memperlancar murid-murid dalam menyelesaikan tugas-tugas sekolah
  8. Perpustakaan sekolah dapat membantu guru-guru menemukan sumber-sumber pengajaran
  9. Perpustakaan sekolah dapat membantu murid-murid, guru-guru, dan anggota staf sekolah dalam mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
  10. Bentuk Organisasi dan Uraian Tugas Perpustakaan Sekolah

 

 

Kesimpulan :

Keberadaan perpustakaan sekolah sangat berguna untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Perpustakaan sekolah di Negara berkembang memiliki beberapa tujuan antara lain ; menggalakkan keberaksaraan, mendukung kurikulum, pendidikan secara umum, dan mengembangkan minat baca. Oleh karena itu pengelola perpustakaan sekolah seharusnaya tenaga terdidik. Selain itu, mereka juga harus memiliki pendidikan formal perpustakaan sebagai pengetahuan yang memadai, percaya diri, paham politik, dan tidak mengisolasi diri.

Perpustakaan bukan sekedar gedung/ ruang sebagai tempat koleksi, tetapi juga system informasi. Sebagai system informasi, perpustakaan memiliki aktivitas pengumpulan, pengolahan, pengawetan, pelestarian, dan penyebaran informasi.

KONSEP DASAR PERPUSTAKAAN

1 perpustakaan

 

Pengertian Perpustakaan

  1. Secara Etimologi

Secara etimologis, perpustakaan berasal dari kata “ Pustaka,” yang berarti buku. Buku atau kitab adalah rangkaian tulisan berisi buah pikiran manusia yang sekaligus merupakan cermin budaya bangsa yang mengungkapkan rasa, cipta , dan karsa guna dibaca orang lain. Sementara perpustakaan mengandung arti kumpulan buku – buku yang disusun, ditata secara rapi, teratur menurut sistem tertentu, berdasarkan disiplin ilmu yaitu ilmu perpustakaan ( Koswara, 1998 : 1 ).

  1. Menurut Beberapa Ahli
  • Menurut Sulistyo-Basuki (1991:3)

Perpustakaan ialah sebuah ruangan, bagian sebuah gedung.ataupun gedung itu sendiri yang digunakan untuk menyimpan buku dan terbitan lainnya yang biasanya disimpan menurut tata susunan tertentu untuk digunakan pembaca, bukan untuk dijual. Dalam pengertian buku dan terbitan lainnya termasuk di dalamnya semua bahan cetak,buku, majalah, laporan, pamflet, prosiding, manuskrip (naskah), lembaran musik, berbagai karya musik, berbagai karya media audiovisual seperti filem, slid ( slide), kaset, piringan hitam, bentuk mikro seperti mikrofilm, mikrofis, dan mikroburam ( microopaque ). Webster menyatakan bahwa perpustakaan merupakan kumpulan buku, manuskrip, dan bahan pustaka lainnya yang digunakan untuk keperluan studi `atau bacaan, kenyamanan, atau kesenangan.

  • Menurut Radom House

Dalam bukunya Dictionary of The English Language, Perpustakaan adalah suatu tempat, berupa sebuah ruangan atau gedung yangberisi buku dan bahan lain untuk bacaan, studi, ataupun rujukan. Menurut Ensiklopedia Britannica, bahwa sebuah perpustakaan adalah himpunan bahan – bahan tertulis atau tercetak yang diatur dan diorganisir untuk tujuan studi dan penelitian atau pembacaan umum atau kedua-duannya.

  • Menurut ny. kusuma sjahrial pamuntjak (1972:1)

menyatakan bahwa perpustakaan adalah kumpulan buku-buku yang tersedia dan dimaksudkan untuk dibaca.

  • Menurut Reitz

menyatakan bahwa perpustakaan adalah koleksi atau sekumpulan koleksi buku atau bahan lainnya yang diorganisasikan dan dipelihara unutk penggunaan/keperluan membaca, konsultasi, belajar, meneliti, yang dikelola oleh pustakawan dan staf terlatih lainnya dalam rangka menyediakan layanan untuk memenuhi kebutuhan pengguna.

  • Menurut Ensiklopedi Nasional Indonesia (1990:112)

Pustaka adalah kumpulan buku yang tersimpan disuatu tempat tertentu milik suatu instansi tertentu

 

Fungsi Perpustakaan

  • Fungsi penyimpanan.artinya, perpustakaan bertugas menyimpan koleksi buku atau bahan pustaka yang diterimanya.
  • Frngsi penelitian. Artinya, perpustakaan bertugas menyediakan buku untuk keperluan penelitian. Penelitian ini mencakup arti luas karena dapat dimulai dari penelitian sederhana hingga penelitian yang rumit dan canggih. Untuk keperluan ini, perpustakaan bertugas menyediakan jasa yang membantu keberhasilan sebuah penelitian, misalnya menyediakan daftar buku mengenai suatu objek, menyusun daftar artikel majalah mengenai suatu masalah, membuat sari karangan artikel majalah maupun pustaka lainnya, dan menyajikan laporan penelitian dalam bidang yang berkaitan.
  • Fungsi informasi. Artinya, perpustakaan bertugas menyediakan informasi yang diperlukan pengguna baik atas layanan perpustakaan. Pemberian informasi ini dilakukan baik atas permintaan maupun tidak diminta. Hal terakhir ini dilakukan bila perpustakaan menganggap informasi yang tersedia sesuai dengan minat dan keperluan pengguna.
  • Fungsi pendidikan. Artinya, perpustakaan dalam arti umum merupakan tempat belajar public seumur hidup, terutama bagi mereka yang tidak ada lagi dibangku sekolah. Sebab, jika mengandalkan perpustakaan suatu instansi tertentu, tentu gunanya terbatas. Misalnya, perpustakaan sekolah hanya terbatas saat menjadi anggota komunitas sekolah tersebut. Atau perpustakaan khusus yang hanya memberikan layanan perpustakaan kepada pengguna terkait dengan cakupan keanggotaan yang terbatas oleh ketentuan perpustakaan tersebut.
  • Fungsi rekreasi, masyarakat dapat menikmati rekreasi kultural dengan membaca dan mengakses berbagai sumber informasi hiburan seperti : Novel, cerita rakyat, puisi, dan sebagainya.
  • Fungsi kultural.Artinya, perpustakaan menyimpan khazanah budaya bangsa atau masyarakat tempat perpustakaan berada dan juga meningkatkan nilai dan apresiasi budaya masyarakat sekitarnya melalui proses penyediaan bahan bacaan. Bacaan yang disediakan perpustakaan, terutama perpustakaan umum, dapat berupa bacaan serius maupun bacaan ringan. Bacaan serius artinya bacaan yang bertujuan menambah pengetahuan maupun membantu keperluan pembaca dalam pencarian informasi penting, dan sejenisnya. Sedangkan bacaan ringan adalah bacaan yang sifatnya menghibur atau bacaan rekreasi.

 

 

Manfaaat Perpustakaan Secara umum

  • Perpustakaan sebagai suatu unit kerja
  • Perpustakaan sebagai tempat pengumpul, penyimpan, dan pemelihara berbagai koleksi bahan pustaka
  • Bahan pustaka itu dikelola dan diatur secara sistematis dengan cara tertentu
  • Bahan pustaka digunakan oleh pengguna secara kontiniu
  • Perpustakaan sebagai sumber informasi

 

Macam-macam Perpustakaan         .

Menurut Tempat Terdapatnya

1. Perpustakaan Nasional

Hingga sekarang, belum ada kesepakatan bersama mengenai apa itu definisi

2. Perpustakan Provinsi

    • Menyimpan setiap pustaka yang diterbitkan di sebuah negara.
    • Mengumpulkan atau memilih bahan pustaka terbitan lain mengenai negara yang bersangkutan.
    • Menjadi pusat informasi negara yang bersangkutan.
    • Pusat antar pinjam perpustakaan di negara yang bersangkutan serta antara negara yang bersangkutan dengan negara lain.

Merupakan lembaga teknis daerah bidang perpustakaan yang diselenggarakan oleh pemerintah daerah provinsi yang mempunyi tugas pokok melaksanakan pengembanmgan perpustakaan di wilayah provinsi serta melaksanakan layananperpustakaan kepada masyarakat.

3. Perustakaan Kabupaten/kota

Lembaga teknis atau daerah bidang perpustakaan yang diselenggarakan oleh pemerintah daerah https://www.viagrapascherfr.com/viagra-generique-en-france/ Kabupaten/Kota, yang mempunyai tugas pokok melaksanakan pengembangan perpustakaan di wilayah Kabuypatren/Kota sertamelaksanakan layanan perpustakaan kepada masyarakat umum.

4. Perustakaan Umum Kecamatan

Merupakan perpustakaan yang berada di kecamatan sebagai cabang layanan Perpustakaan Kabupaten/Kota yang layanannya diperuntukkan bagi masyarakat di wilayah masing-masing.

5.  Perpustakaan Umum Desa/Kelurahan

Merupakan perpustakaan yang berada di desa/kelurahan sebagai cabang layanan perpustakaan Kabupate/Kota yang layanannya diperuntukkan bagi masyarakat di desa/kelurahan masing-masing.

6.  Perpustakaan Lembaga Pendidikan

Merupakan perpustakaan yang berada di lingkungan lembaga pendidikan, seperti perpustakaan di SD, SMP, SMA dan Perguruan Tinggi.

7.  PerpustakaanLembaga Keagamaan

Merupakan perpustakaan yang berada di lingkungan lembaga keagamaan, seperti perpustakaan di mesjid. Gereja, dan lain-lainnya.

8. Perpustakaan Keliling

Merupakan perpustakaan yang berfungsi sebagai perpustakaan umum yang melayani masyarakat yang tidak terjangkau oleh pelayanan perpustakaan umum, dengan mengunjungi pusat pemukiman masyarakat, merupakan peningkatan dan perluasan pelayanan perpustakaan Wilayah/Perpustakaan Umum Tingkat II.

 

Menurut Jenis Koleksi

  • Perpustakaan Digital

Perpustakaan digital adalah perpustakaan dimana seluruh koleksinya sudah berbentuk digital. sementara menurut Digital Library Federation di Amerika Serikat memberikan definisi perpustakaan digital sebagai organisasi-organisasi yang menyediakan sumber-sumber, termasuk staff dengan keahlian khusus, untuk menyeleksi, menyusun, menginterpretasi, memberikan akses intelektual, mendistribusikan, melestarikan, dan menjamin keberadaan koleksi karya-karya digital sepanjang waktu sehingga koleksi tersebut dapat digunakan oleh komunitas masyarakat tertentu atau masyarakat terpilih, secara ekonomis dan mudah.

Berdasarkan International Conference of Digital Library 2004,konsep Perpustakaan digital adalah sebagai perpustakaan elektronik yang informasinya didapat, disimpan, dan diperoleh kembali melalui format digital. Perpustakaan digital merupakan kelompok workstations yang saling berkaitan dan terhubung dengan jaringan (networks) berkecepatan tinggi. Perpustakaan digital ini banyak dikembangkan oleh perpustakaan-perpustakaan Universitas di Amerika Serikat.

 

  • Perpustakaan Hibrida

Perpustakaan hibrida adalah perpustakaan dimana koleksinya terdiri dari koleksi cetak dan juga koleksi elektronik.Sementara teknologi yang digunakan sebagai pendukung dalam aktivitas perpustakaan seperti temu kembali informasi.Proyek perpustakaan hibrida ini terutama banyak dikembangkan oleh perpustakaan-perpustakaan universitas di Inggris.Perbedaan yang mendasar antara perpustakaan digital dan perpustakaan hibrida adalah tentunya jenis koleksinya, dimana perpustakaan digital seluruh koleksinya berbentuk digital sementara koleksi untuk perpustakaan hibrida ada 2 jenis yaitu cetak dan elektronik.Selain itu, perpustakaan digital tidak memerlukan sebuah bangunan (gedung) untuk koleksinya, karena user hanya tidak mengakses saja lewat internet, sementara perpustakaan hibrida masih memerlukan sebuah gedung untuk menempatkan koleksinya.Tentunya perpustakaan hibrida ini membutuhkan pustakawan atau ahli informasi untuk membantu para penggunanya sementara perpustakaan digital tidak membutuhkan pustakawan karena memang sifatnya yang seperti itu.

 

  • Perpustakaan Khusus. Perpustakaan khusus adalah salah satu jenis perpustakaan yang dibentuk oleh lembaga (pemerintah/swasta) atau perusahaan atau asosiasi yang menangani atau mempunyai misi bidang tertentu dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan bahan pustaka/informasi di lingkungannya dalam rangka mendukung pengembangan dan peningkatan lembaga maupun kemampuan sumber daya manusia.
  • Perpustakaan Umum
    Perpustakaan umum merupakan perpustakaan yang bertugas mengumpulkan, menyimpan, mengatur dan menyajikan bahan pustakanya untuk masyarakat umum. Perpustakaan umum diselenggarakan untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat umum tanpa memandang latar belakang pendidikan, agama, adat istiadat, umur, jenis dan lain sebagainya, maka koleksi perpustakaan Umum pun terdiri dari beraneka ragam bidang dan pokok masalah sesuai dengan kebutuhan informasi dari pemakainya.
  • Perpustakaan Pribadi. Merupakan perpustakaan yang diperuntukkan untuk koleksi pribadi dan digunakan dalam ruang lingkup yang kecil, seperti perpustaan keluatrga.

 

 

Kesimpulan

Perpustakaan adalah suatu unit kerja yang berupa tempat menyimpan koleksi bahan pustaka yang diatur secara sistematis dan dapat digunakan oleh pemakainya sebagai sumber informasi.Ada dua unsur utama dalam perpustakaan, yaitu buku dan ruangan.Namun, di zaman sekarang, koleksi sebuah perpustakaan tidak hanya terbatas berupa buku-buku, tetapi bisa berupa film, slide, atau lainnya, yang dapat diterima di perpustakaan sebagai sumber informasi.Kemudian semua sumber informasi itu diorganisir, disusun teratur, sehingga ketika kita membutuhkan suatu informasi, kita dengan mudah dapat menemukannya.

Pustaka memiliki beberapa fungsi yaitu Fungsi penyimpanan, penelitian, informasi, pendidikan, rekreasi, dan cultural, dimana semua fungsi tersebut sama-sama bertujuan membantu pembaca untuk mengetahui lebih banyak tentang ilmu yang ingin diketahuinya.

Pada dasarnya, perpustakaan terbagi atas 2 yaitu : perpustakaan menurut tempat terdapatnya dan menurut jenis koleksi. masing-masing perpustakaan memiliki fungsi dan tujuannya tersendiri.

 

 

 

 

 

 

 

 

SEJARAH PERPUSTAKAAN

sejarah perpustakaan 1 sejarah perpustakaan 3

 

 

 

 

 

 

SEJARAH PERPUSTAKAAN DI INDONESIA

Perpustakaan lahir seiring dengan tumbuhnya peradaban manusia, utamanya baca tulis. Kemajuan peradaban manusia, berdampak pula pada perkembangan perpustakaan  baik jenis, sistem, kepemilikan ataupun hal-hal lain yang berkaitan dengan penyelenggaraan perpustakaan. Awal berdirinya perpustakaan, dimulai ketika manusia mengenal tulisan, bahan tulisan dan alat tulis. Sehingga tidak berkelebihan, kalau dikatakan bahwa sejarah perpustakaan sama tuanya dengan usia peradaban manusia, semenjak mereka mengenal baca tulis. Berbagai media yang digunakan untuk kegiatan tulis menulis, antara lain : batu, pelepah, tanah liat, parchmen yang terbuat dari kulit domba atau sapi yang dikeringkan. Beberapa parchmen yang disatukan, disebut dengan istilah codex.

Perkembangan perpustakaan di berbagai negara (Suwarno, 2007), antara lain dapat dilacak dari apa yang dilakukan oleh bangsa Sumeria dan Babylonia. Sekitar tahun 3000 SM, bangsa Sumeria  telah menyalin rekening, jadwal kegiatan pengetahuan yang dimilikinya, dalam bentuk lempeng tanah liat (clay tablets) dan tulisan yang digunakan berujud gambar (pictograph). Ketika kemudian Sumeria ditaklukan oleh Babylonia, disamping kebudayaannya diserap, maka bentuk tulisannyapun diubah menjadi tulisan paku (cunciform).

Di Mesir, perpustakaan juga mengalami perkembangan yang signifikan. Teks tertulis yang tersimpan di perpustakaan Mesir, diduga ditulis sekitar tahun 4000 SM dengan gaya tulisan yang disebut hieroglyph. Perpustakaan di Mesir semakin berkembang, manakala sekitar tahun 1200 SM diketemukan papyrus,yang dapat digunakan sebagai media untuk tulis menulis. Papyrus dibuat dari sejenis rumput yang dihaluskan dan dikeringkan, dan dari  kata  itulah kemudian berkembang istilah paper, papiere, papiros, yang berarti kertas (Suwarno, 2007).

Aristoteles ditengarai sebagai orang yang pertama kali mengumpulkan, menyimpan dan memanfaatkan budaya masa lalu di Yunani. Perkembangan perpustakaan di negeri ini, dikenal melalui perpustakaan milik Peistratus (Athena/abad ke 6), Polyerratus (Samos/abad ke 7), dan Pericles, sekitar abad ke 5. Peradaban Yunani mengenal jenis tulisan yang dikenal sebagai mycena (1500 SM), dan kemudian digantikan oleh 22 huruf temuan orang Phoenicia, yang dalam pekembangannya berubah menjadi 26 huruf sebagaimana yang digunakan saat ini.

Perpustakaan juga diketahui berkembang di Romawi, Eropa Barat dan Amerika Utara. Perkembangannya menjadi semakin cepat, sejak ditemukan mesin cetak pada abad pertengahan. Johannes Gutenberg dari Jerman, adalah orang yang memelopori cara penulisan dengan menggunakan mesin cetak, untuk mengganti teknik penulisan yang sebelumnya menggunakan tangan.  Sejalan dengan teknologi yang berkembang pada saat itu, produksi buku yang dihasilkan bentuknya masih sangat sederhana. Dengan teknik yang disebut ugari, bentuk buku yang diproduksi menjadi barang langka dan dikenal sebagai incunabula (Sulistyo-Basuki dalam Suwarno, 2007).

Revolusi industri yang terjadi di Eropa, menjadi pemantik berkembangnya perpustakaan. Pesatnya perkembangan teknologi dan sistem yang lebih modern, mempercepat penyebaran perpustakaan ke seluruh penjuru dunia, termasuk Indonesia.

 

Periodesasi Perkembangan Perpustakaan di Indonesia

a.   Era Sebelum Penjajahan

Bangsa Indonesia sejak lama telah mengenal peradaban baca tulis. Prasasti Yupa di Kutai Kalimantan Timur yang diperkirakan berasal dari abad ke V Masehi, merupakan bukti sahih tentang keberadaan peradaban tersebut (Almasyari, 2007).

Pada era kerajaan Hindu-Budha, banyak lahir mahakarya para empu seperti Negarakertagama, Arjunawiwaha, Mahabharata, Ramayana, Sutasoma dll. Karya-karya tersebut merupakan hasil interaksi antara kebudayaan khas Indonesia dengan budaya asing, utamanya India. Pada saat itu kerajaan-kerajaan telah memiliki semacam pustaloka, yakni tempat untuk menyimpan beragam karya sastra ataupun kitab-kitab yang ditulis oleh para pujangga. Hanya saja, pemanfaatan naskah-naskah tersebut bukan untuk konsumsi masyarakat umum, melainkan lebih banyak untuk keperluan raja dan para kerabatnya (Sumiati dan Arief, 2004).

Perkembangan perpustakaan mengalami pasang naik di era kerajaan Islam. Masuknya budaya Arab termasuk baca dan tulis,  yang kemudian berinteraksi dengan kebudayaan Melayu semakin memperkaya khasanah budaya Indonesia. Pada masa ini banyak dihasilkan karya-karya besar para pujangga, seperti kitab Bustanus Salatin, Hikayat Raja-Raja Pasai, Babad Tanah Jawi dll. Kitab-kitab tersebut biasanya disimpan di dekat keraton atau masjid, yang menjadi pusat aktivitas kerohanian dan kebudayaan.

 

b.   Era Pemerintahan Hindia- Belanda

Masuknya bangsa Belanda dengan membawa teknologi bidang percetakan, semakin mempercepat  perkembangan budaya baca tulis di Indonesia. Di samping mendatangkan mesin cetak, mereka membangun gedung perpustakaan di beberapa daerah. Salah satu yang sampai sekarang masih eksis, adalah Kantoor voor de Volkslektuur yang kemudian berganti nama menjadi Balai Pustaka.

Pada tahun 1778, Bataviaasch Genootschap voor Kunsten en Wetenschappen mendirikan perpustakaan yang mengkhususkan pada bidang kebudayaan dan ilmu pengetahuan, yang kemudian pada tahun 1950 diambil alih oleh Pemerintah Indonesia, dan dinamakan Lembaga Kebudayaan Indonesia. Dalam perkembangannya, pada tahun 1989 organisasi ini melebur menjadi bagian dari Perpustakaan Nasional Indonesia.  Perpustakaan lain yang didirikan adalah Bibliotheca Bogoriensis, dengan fokus pada bidang biologi dan pertanian praktis. Perkembangan perpustakaan di beberapa daerah, antara lain dijumpai di Probolinggo (1874), Semarang (1876), Yogyakarta (1878), Surabaya (1879), Bandung dan Salatiga (1891). Pada tahun 1916, perpustakaan-perpustakaan yang ada disatukan menjadi Vereeniging tot bevordering van het bibliotheekwezen, atau perkumpulan untuk memajukan perpustakaan di Hindia Belanda.

Semasa pemerintah Belanda menjalankan politik etis, Commissie voor de Volkslektuur merupakan lembaga yang berperan dalam pemberdayaan perpustakaan. Kegiatan-kegiatan yang dilakukan, antara lain menambah jumlah perpustakaan di desa dan sekolah kelas dua di Jawa dan Madura, melengkapi koleksinya dengan terbitan-terbitan dalam bahasa Jawa, Sunda, Melayu dan Madura. Dalam perkembangannya, hal tersebut kemudian memicu para pengusaha pribumi untuk membentuk lembaga penerbitan, yang dapat memberikan kontribusi terhadap pengembangan perpustakaan di Indonesia (Almasyari, 2007).

 

c.   Era Pemerintahan Jepang

Ketika Jepang menguasai Indonesia, mereka mengeluarkan kebijakan berupa larangan penggunaan buku-buku yang ditulis dalam bahasa Inggris, Belanda dan Perancis di sekolah-sekolah. Akibatnya, banyak buku terutama yang menggunakan bahasa Belanda dimusnahkan. Kondisi ini justru menguntungkan bagi perkembangan perpustakaan di Indonesia, karena dengan kebijakan tersebut buku yang diterbitkan dalam bahasa Indonesia jumlahnya menjadi semakin meningkat. Beberapa surat kabar yang terbit dengan menggunakan bahasa Indonesia pada saat itu, antara lain Suara Asia, Cahaya Asia dll.

 

d.   Era Pemerintahan Republik Indonesia

Setelah Indonesia merdeka, di tengah konsentrasi untuk mempertahankan kemerdekaan dari invasi pasukan Inggris dan Belanda, serta kesibukan menghadapi pemberontakan di beberapa daerah, pada tahun 1948 pemerintah mendirikan Perpustakaan Negara Republik Indonesia di Yogyakarta. Banyaknya permasalahan yang harus dihadapi, mengakibatkan lambatnya perkembangan perpustakaan di Indonesia. Ketika kondisi negara mulai mapan, pada kurun waktu tahun 1950-1960 pemerintah Republik Indonesia mulai mengembangkan perpustakaan melalui pendirian Taman Pustaka Rakyat /TPR (Sumiati dan Arief, 2004). Ada tiga tipe Taman Pustaka Rakyat :

  • Tipe A untuk pedesaan, dengan komposisi koleksi 40 % bacaan setingkat SD dan 60 % setingkat SMP
  • Tipe B untuk kabupaten, dengan komposisi koleksi 40 % bacaan setingkat SMP dan 60 % bacaan setingkat SMA
  • Tipe C untuk provinsi, dengan komposisi koleksi 40 % bacaan setingkat SMA dan 60 % bacaan setingkat Perguruan Tinggi.

Pada tahun 1956, berdasarkan Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia No. 29103, Pepustakaan Negara didirikan di beberapa wilayah di Indonesia. Pendirian perpustakaan tersebut dimaksudkan antara lain untuk membantu perkembangan perpustakaan dan menyelenggarakan kerjasama antar perpustakaan yang ada. Perhatian Pemerintah terhadap pengembangan perpustakaan terus meningkat, dan pada tahun 1969 dialokasikan dana untuk mendirikan Perpustakaan Negara di 26 Provinsi. Lembaga tersebut difungsikan sebagai Perpustakaan Wilayah, di bawah binaan Pusat Pembinaan Perpustakaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Berdasarkan Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia No. 0164/0/1980, pada tahun 1980 didirikan Perpustakaan Nasional, sebagai Unit Pelaksana Teknis bidang perpustakaan di lingkungan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Kartosedono (Sumiati dan Arief, 2004) menyatakan bahwa Perpustakaan Nasional merupakan hasil integrasi dari Perpustakaan Sejarah Politik dan Sosial, Bidang Bibliografi dan Deposit  Pusat Pembinaan Perpustakaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Perpustakaan Museum Nasional dan Perpustakaan Wilayah Daerah Khusus Ibukota Jakarta.

Dalam perkembangannya, melalui Keputusan Presiden Republik Indonesia No.11 Tahun 1989, Perpustakaan Nasional yang kala itu merupakan unit pelaksana teknis di lingkungan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, berubah menjadi Lembaga Pemerintah Non Departemen, yang langsung bertanggungjawab kepada Presiden. Pembentukan organisasi ini merupakan penggabungan antara Perpustakaan Nasional dengan Perpustakaan Wilayah yang ada di 27 provinsi. Pada tahun 1997 berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 50, Perpustakaan Nasional diubah namanya menjadi Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, yang berlaku sampai dengan saat ini.

Seiring dengan diberlakukannya Otonomi Daerah, berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 67 Tahun 2000, Perpustakaan Nasional Provinsi menjadi perangkat daerah, dengan sebutan Perpustakaan Umum Daerah. Mulai saat itu penyelenggaraan perpustakaan diserahkan kepada kebijakan Pemerintah Daerah masing-masing. Kemudian dengan diberlakukannya Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan, diharapkan perkembangan perpustakaan di Indonesia menjadi semakin meningkat, karena adanya payung hukum yang kokoh.

 

 

SEJARAH PERPUSTAKAAN DUNIA

Perpustakaan merupakan simbol kemajuan peradaban umat manusia yang mulai memahami dan mengerti betapa pentingnya  penyimpanan berbagai  informasi dan ilmu pengetahuan   guna kepentingan umat manusia. Perpustakaan ada atau terbentuk secara tidak langsung ketika manusia mulai melakukan kegiatan penulisan atau penggambaran melalui benda – benda seperti batu, kayu, gua – gua sehinggga mampu terbaca atau terkomunikasikan dengan manusia lainnya.Perkembangan perpustakaan seiring dengan berkembangnya pola pikir manusia dan teknologi menjadikan perpustakaan tidak hanya sekedar sebagai ruang arsip atau penyimpanan akan tetapi lebih condong pada penyebaran informasi yang penekanannya pada ilmu pengetahuan. Besarnya kontribusi perpustakaan terhadap peradaban manusia menjadikan perpustakaan aset yang sangat penting bagi umat manusia dan bangsa – bangsa yang peduli terhadap sejarah dan ilmu pengetahuan. Sepatutnya kita mengetahui sejarah atau munculnya perpustakaan yang ada di dunia.

 

 

SUMERIA DAN BABYLONIA

Perpustakaan sedah dikenal sejak 3000 tahun yang lalu. Penggalian di bekas kerajaan Sumeria menunjukkan bahwa bangsa Sumeria sekitar 3000 tahun sebelum Masehi telah menyalin rekening, jadwal kegiatan, pengetahuan yang mereka peroleh dalam bentuk lempeng tanah liat(clay tablets). Tulisan yang dpergunakan masih berupa gambar (pictograph), kemudian ke aksara Sumeria. Kebudayaan Sumeria termasuk kepercayaan , praktek keagamaan, dan tulisan Sumeria, kemudian diserap oleh Babylonia yang menaklukkan Sumeria. Tulisan Sumeria kemudian diubah menjadi tulisan paku (cuneiform) karena mirip paku. Semasa pemerintahan raja Ashurbanipal dan Assyria (sekitar tahun 668-626 sebelum Masehi) didirikan Perpustakaan kerajaan di ibukota Niniveh, berisi puluhan ribu lempeng tanah liat yang dikumpulkan dari segala penjuru kerajaan. Untuk mencatat koleksi digunakan system subjek serta tanda pengenal pada tempat penyimpanan. Banyak dugaan bawa Perpustakaan ini terbuka bagi kawula kerajaan.

 

MESIR

Pada masa yang hampir bersamaan, peradaban Mesir Kuno pun berkembang. Teks tertulis paling awal yang ada di Perpustakaan Mesir berasal dari sekitar tahun 40000 SM, namun gaya tulisannya berbeda dengan tulisan sumeria. Orang Mesir menggunakan tulisan yang disebut hieroglyph. Tujuan heroglyph ialah memahatkan pesan terakhir di monumen karena tulisan dimaksudkan untuk mengagungkan raja sedangkan tulisan yang ada di tembok dan ohnerezeptfreikauf mensurvei 2000 orang monument dimaksudkan untuk memberi kesan kepada dunia. perpustakaan Mesir bertamabah maju berkat penemuan penggunaan rumput papyrus sekitar tahun1200 SM. Untuk membuat lembar papyrus maka isi batang papyrus dipotong menjadi lembaran tipis, kemudian dibentangkan satu demi satu dan tumpuk demi tumpuk. Kedua lapisa kemudia dilekatkan dengan lem, ditekan, diratakan, dan dipukul sehingga permukaannya rata. Dengan demikian, permukaan lembaran papyrus dapat digunakan sebagai bahan tulis, sedangkan alat tulisnya berupa pena sapu dan tinta. Umumnya tulisan Hierolgyph hanya dipahami oleh pendeta karena itu papyrus banyak ditemukan di kuil-kuil brisi pengumuman resmi, tulisan keagamaan, filsafat, sejarah, dan ilmu pengetahuan. Pengembangan perpustakaan Mesir terjadi semasa raja Khufu, Khafre, dan Ramses II sekitar tahun 1250 SM. Perpustakaan raja Ramses II memiliki sekitar 20.000 buku.

 

YUNANI

Peradaban Yunani mengenal tulisan Mycena sekitar tahun 1500 SM, kemudian tulisan tersebut lenyap. Sebagai penggantinya, orang Yunani menggunakan 22 aksara temuan orang Phonicia, kemudian dikembangkan 26 aksara seperti yang kita kenal dewasa ini. Yunani mulai mengenal Perpustakaan milik Peistratus (dari Athena) dan Polyerratus (dari Samos) sekitar abad ke-6 dan ke-7 SM. Perpustakaan berkembang pula semasa kejayaan Yunani dibawah pimpinan Pericles sekitar abad ke-5 SM. Pada saat itu, membaca merupakan pengisi waktu senggang serta merupakan awal dimulainya perdagangan buku. Filosof Aristoteles dianggap sebagai orang pertam kali yang mengumpulkan,menyimpan, dan memanfaatkan budaya masa lalu. Koleksi Aristotels kelak dibawa ke Roma.

Perkembangan perpustakaan zaman kuno Yunani mencapai puncaknya semasa Abad Hellenisme, yang ditandai dengan penyebaran ajaran dan kebudayaan Yunani. Ini terjadi berkat penaklukan Alexander Agung beserta penggantinya, pembentukan kota baru Yunani. Dan pemngembangan pemerintahan Monarchi. Perpustakaan utam terletak di kota Alexandria, Msir, dan kota pergamum, di Asia Kecil. Di Kota Alexandria berdiarilah sebuah Museum, salah satu bagian utamnya ialah Perpustakaan dengan tujuan mengumpulkan teks Yunani dan manuskrip segala bahasa dari semua penjuru. Berkat usahan Demetrius dari Phalerum, perpustakaan Alexandria berkembang pesat sehingga memiliki 200.000 gulungan papyrus hingga natinya mencapai 700.000 gulungan pada abad pertama SM. Perpustakaan kedua disebut Serapeum, memiliki 42.800 gulungan terpilih, kelak berekembang hingga 100.000 gulungan. Semua gulungan papyrus ini disunting, disusun, menurut bentuknya, dan diberi catatan untuk disusun menjadi sebuah bibliografi sastra Yunani berjumlah 120 jilid.

Di Asia kecil kota Pergamum, seperti halnya Alexandria berkembang menjadi pusat belajar serta kegiatan sastra. Pada abad ke-2 SM, Eumenes II mendirikan sebuah Perpustakaan serta mulai mengumpulkan semua manuskrip, bahkan bila perlu membuat salinan manuskrip lain. Untuk menyalin ini digunakan sejumlah besar papyrus yang diimpor dari Mesir. Karena khawatir persediaan papyrus di Mesir akan habis serta rasa iri akan pesaingnya maka raja Mesir menghentikan ekspor papyrus ke Pergamum. Akibatnya, perpustakaan Pergamum harus mencari bahan tulis lain kecuali papyrus. Maka dikembangkanlah bahan tulis baru yang disebut perchamen artinya kulit binatang, terutama biri-biri atau anak lembu. Sebenarnya bahan tulis ini sudah lama dikenal Yunani, namun karena harganya lebih mahal dari papyrus maka papiruslah yang digunakan. Parchmen dikembangkan sehingga akhirnya menggantikan papyrus sebagai bahan tulis hingga penemuan mesin cetak pada abad menengah. Koleksi perpustakaan Pergamum mencapai 100.000 gulungan. Dalam perkembangannya, koleksi perpustakaan Pergamum nantinya diserahkkan ke Perpustakaan Alexandria sehingga Perpustakaan Alxandria menjadi Perpustakaan terbsar pada zamannya.

 

ROMA

Yunani mempengaruhi kehidupan budaya dan intelektual Roma. Ini terbukti bahwa banyak orang Roma mempelajari sastra, filsafat, dan ilmu pengetahuan Yunani, bahkan juga bertutur bahasa Yunani. Perpustakaan pribadi mulai tumbuh karena perwira tinggi banyak yang membawa rampasan perang termasuk buku. Julius Caesar bahkan memerintahkan agar Perpustakaan terbuka untuk umum. Perpustakaan kemudian tersebar ke seluruh bagian kerajaan Roma. Pada masa ini diganti dengan codec, yang merupakan kumpulan parchmen, diikat serta dijilid menjadi satu sperti buku yang kita kenaldewasa ini. Codex mulai digunakan secara besar-besaran abad ke-4. Perpustakaan mulai mengalami kemunduran tatkala kerajaan Roma mulai mundur. Akhirnya, yang tinggal hanyalah Perpustakaan biara, yang lainnya lenyap akibat serangan orang-orang barbar.

 

BYZANTIUM

Kaisar Konstantin Agung menjadi raja Kerajaan Roma barat dan Timur pada tahun 324. Ia memilih ibukota di Byzantium kemudian diubah menjadi Konstantinopel. Ia mendirikan Perpustakaan kerajaan serta menekankan karya Latin karena bahasa Latin merupakan bahasa resmi hingga adad ke-6. Koleksi ini nanti ditambah dengan karya orang Kristen dan non-Kristen, baik dalam bahasa Yunani maupun Latin. Koleksinya tercatat hingga 120.000 buku. Pada waktu itu gereja merupakan pranata kerajaan paling penting. Karena adanya ketentuan bahwa seorang uskup harus memiliki sebuah perpustakaan maka perpustakaan gereja berkembang. Kerajaan Byzantium kaya, berpenduduk padat, secara kultural, intelektual dan politiknya cukup matang yang diperkaya oleh ajaran Yunani dan Timur serta dipengaruhi tradisi Roma dalam pemerintahan. Kerajaan in bertahan hingga abad ke-15. Antara pertengahan abad ke tujuh hingga pertengahan abad ke-9 terjadi kontoversi mengenai ikonoklasme yaitu penggambaran Yesus dan orang kudus lainnya pada benda. Akibat larangan ini banyak biara ditutup, artanya disita. Akibatnya lagi, biarawan Yunani mengungsi ke Italia. Selam periode ini, hiasan manuskrip dengan menggunkan huruf rias, gulungan maupun miniatur tidak disgunakan dalam karya keagamaan maupun Bibel. Setelah kontroversi berakhir, minat terhadap karya Yunani kuno berkembang lagi. Selama 300 tahun karya Yunani disalin, ditulis kembali, diberi komentar, dibuatkan ringkasan sastra Yunani bahkan juga dikembangkan ensiklopedia dan leksikon mengenai Yunani.

 

ARAB

Agama Islam  muncul pada abad ke-7. Islam kemudian mulai menyebar ke daerah sekitar Arab. Dengan cepat pasukan Isam menguasai Syria, Babylonia, Mesopotamia, Persia, Mesir, seluruh bagian utara Afrika, serta menyeberang ke Spanyol. Orang Arab berhasil dalam bidang Perpustakaan dan berjasa besar dalam penyebaran ilmu pengetahuan dan matematika ke Eropa.

Dalam Abad ke-8 dan ke-9, tatkala Konstantinopel mengalami kemandegan dalam hal karya sekuler maka Bagdad berkembang sebagai pusat kajian karya Yunani. Ilmuwan Muslim mulai memahami pikiran Aristoteles. Ilmuwan Muslim mengkaji dan menerjemahkan karya filsafat, pengetahuan dan kedokteran Yunani ke dalam bahasa Arab; kadang-kadang dari versi bahasa Syriac ataupun Aramaic. Puncak kejayaan terjemahan ni terjadi semas pemerintahan Abbasid Al-Mamun, yang menidrikan rumah kebijakan pada tahun 810, sebuah lembaga studi yang menggabungkan unsure perpustakaan, akademi, dan biro terjemahan. Selam abad ke-8, ilmu alam, matematika, dan kedokteran benar-benar dipelajari, karya Plato, Aristoteles, Hippocrates, dan Galen diterjamahkan ke dalam bahasa Arab, termasuk pula penelitian asli dalam bidang astrologi, alkhemi, dan magis. Dalam penaklukan ke timur, orang Arab berhasil mengetahui cara pembuatan kertas dari orang Cina; pada abad ke-8 di Bagdad telah berdiri pabrik kertas. Teknik pembuatan kertas selama hamper lima adab dikuasai orang Arab. Karena harganya murah, banyak, serta mudah ditulis maka produksi buku melonjak dan Perpustakaan pun berkembang. Tercatat perpustakaan mesjid dan lembaga pedidikan. Perpustakaan kota Shiraz memiliki catalog, disusun menurut tempat serta dikelola oleh staf perpustakaan. Pada abad ke-11, Perpustakaan Kairo memiliki sekitar 150.000 buku.

Di Spanyol, orang Arab mendirikan Perpustakaan Cordoba yang memiliki 400.000 buku. Di Perpustakaan Cordoba, Toledo, dan Seville karya klasik diterjemahkan ke bahasa Arab dari bahasa Syriac. Ketika Spanyol direbut tentara Kristen, ribuan karya klasik ini diketemukan, kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Latin kemudian disebar ke seluruh Eropa.

 

RENAISSANCE

Renaissance mula pada abad ke-14 di Eropa Barat. Secara tidak langsung.Renaissance tumbuh akibat pengungsian ilmuwan Byzantine dari Konstantinope. Mereka lari karena ancaman pasukan Ottoman dari Turki. Sambil mengungsi, ilmuwan ini membawa juga manuskrip penulis kuno. Ilmuwan Italia menyambut kedatangan ilmuwan Byzantine ini serta mendorong pengembangan kajian Yunani dan Latin. Karya ini kemudian tersebar ke Eropa Utara dan Barat, sebagian diantarnya disimpan di Perpustakaan biara maupun universitas yang mulai tumbuh.

 

 

Kesimpulan

Manusia memang tidak bisa lepas dari sejarah dan masa lalu, bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai dan peduli terhadap sejarah sebagai upaya untuk kemajuan bangsa dan negaranya dan menunjukkan identitas diri.  Anggapan perpustakaan hanya sekedar simbol sebagai kemajuan ilmu pengetahuan memang ada benarnya, namun pemanfaatan perpustakaan secara maksimal akan   menjadikan perpustakaan   tidak hanya sekedar simbol saja namun memiliki peran utama dalam kemajuan bangsa dan negara dalam bidang  ilmu pengetahuan.
Setiap negara memiliki sejarah perkembangan perpustakaan yang berbeda.